Loading...
INSPIRASI
Penulis: Endang Hoyaranda 05:45 WIB | Senin, 24 April 2017

Empat Gaya Kerja

Hal besar dalam bisnis tak pernah dihasilkan oleh satu orang, melainkan oleh sekelompok orang dalam tim (Steve Jobs, pendiri Apple)
Membangun tim kerja (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Paradigma baru dalam kerjasama tim  yang dilontarkan oleh Deloitte, sebuah perusahaan konsultan dunia ternama, diberi nama Business Chemistry. Melalui tulisan SM Johnson Vickberg dan K Christfort di Harvard Business Review edisi Maret-April 2017,  dijelaskan mengapa tetap masih banyak keluhan tentang tidak tercapainya kinerja tim.  Tampaknya ketika kinerja tim tak memuaskan,  yang sering jadi penyebabnya adalah pemimpin tidak berhasil memanfaatkan gaya kerja dan perspektif kerja yang berbeda dari anggota tim dengan efektif. 

Ada empat gaya kerja yang utama, dan setiap tim sering kali terdiri atas kombinasi keempatnya. Secara umum keempat gaya itu adalah:

Pelopor: mereka yang menghargai peluang. Mereka memancarkan energi dan daya kreasi ke seantero tim. Menurut mereka, risiko selalu layak diambil dan mengikuti kata hati adalah baik. Fokus mereka adalah gambaran besarnya. Mereka selalu terdorong untuk menciptakan dan menerima ide-ide baru.

Pelindung: mereka menghargai stabilitas, dan mendorong keteraturan serta  konsistensi di dalam kerja tim. Mereka lebih suka menghindari risiko, lebih pragmatis dan selalu ingin bekerja berdasarkan data dan fakta. Mereka cenderung belajar dari pengalaman untuk melangkah ke depan.

Pendorong: mereka senang akan tantangan dan gemar menciptakan momentum. Bagi para pendorong, pencapaian hasil dan kesuksesan adalah amat penting. Mereka cepat menangani masalah dan selalu bergerak berdasarkan data dan logika.

Integrator atau pemersatu: mereka menilai tinggi hubungan baik dan selalu menjaga agar tim tetap bergerak bersama. Tanggung jawab kepada tim adalah hal yang paling utama. Para integrator adalah para diplomat dalam tim. Mereka berfokus pada konsensus tim.

Setiap tipe menanggapi segala sesuatu dengan cara berbeda. Bahkan bisa amat berseberangan. Seorang anggota tim dengan gaya Integrator enggan mengajukan masalah dalam rapat karena akan meningkatkan ketegangan. Sementara peserta rapat lain yang bertipe Pendorong akan mengatakan bahwa hanya dengan mengajukan perbedaan niscaya persoalan akan bisa diselesaikan. Seorang Pelindung yang dalam proyeknya akan menyisir langkah proyek satu per satu,  membuat resah Sang Pelopor yang ingin cepat- cepat melangkah ke proses berikut. Sementara itu Sang Pelindung menilai gaya Sang Pelopor yang mau cepat tanpa agenda jelas, sebagai pemicu keruwetan dan kekacauan.

Bagaimana menjadikan perbedaan itu produktif?  Tim yang paling produktif adalah yang memiliki kesemua gaya dengan pengelolaan yang optimal. Tentu hal demikian lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan. Perbedaan yang tajam cenderung membuat anggota tim saling menghindari atau menyerang. Maka kutub yang berseberangan perlu didekatkan. Pemahaman mengenai kelebihan dan kekurangan masing-masing tipe akan meningkatkan produktivitas tim.

Misalnya, sebuah tim dengan dominasi Pendorong, yang cenderung bergerak cepat dan tidak begitu memedulikan perasaan orang, sering kali dikritisi karena geraknya tidak diplomatis, dengan akibat terkorbankannya kerja sama. Jika tim diisi dengan anggota Integrator yang diberikan kesempatan untuk menampilkan kelebihan diplomasinya, maka lengkaplah produktivitas tim.

Setiap gaya memiliki kekurangan dan kelebihan. Jika gaya yang sama berkumpul bersama tanpa pengimbang gaya lain, risiko ketimpangan akan mengemuka dan produktivitas tim akan rendah. Akan tetapi, jika semua gaya terwakili tanpa pemahaman dan pemanfaatan akan kelebihan dan kekurangannya, maka sebagian anggota tim akan tersisih.  Sebaliknya,  jika keempat gaya berbeda  berada bersama dengan saling memahami dan memanfaatkan kelebihannya, maka semua kekurangan akan tereliminasi.

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home