Loading...
INDONESIA
Penulis: Ignatius Dwiana 07:54 WIB | Senin, 28 Oktober 2013

Eka Budianta: Jasa Sastra dalam Mempopulerkan Bahasa Indonesia

Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Indonesia Eka Budianta. (Foto Ignatius Dwiana)

SATUHARAPAN.COM – Orang China menggunakan bahasa Melayu pasar sebagai bahasa kerja mereka dalam berurusan dengan orang-orang lokal. Mereka belajar hanya satu bahasa, yaitu bahasa Melayu, karena bahasa ini bisa dipahami di mana-mana. China ada di mana-mana dan sangat fasih menggunakan bahasa Melayu.

Pada perkembangannya, penulis-penulis China menggunakan bahasa Melayu pasar itu dalam penulisan karya sastra dan media. Sastra China ini memecahkan kebekuan budaya ketika masing-masing suku pada waktu itu masih sibuk mengidentifikasikan dirinya dengan akar budaya masing-masing. Kesusastraan China berbahasa Melayu itu berpengaruh dalam persatuan bangsa Indonesia kemudian. Menurut penyair, anggota Dewan Pakar Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dan Dewan Pertimbangan Sekolah Adiwiyata Eka Budianta, para penulis China telah berjasa besar mempopulerkan bahasa persatuan.

Berita mengenai Sumpah Pemuda 1928 dimuat di surat kabar China Sin Po yang terbit di Batavia waktu itu.

“Claudine Salmon menunjukkan berapa ribu novel China itu sehingga membuat Pemerintah Belanda waktu itu enek,” kata Eka Budianta.

Pemerintah Belanda kemudian membuat bahasa resmi van Ophuijsen Balai Pustaka dipakai untuk mengkounter bahasa Melayu pasar.

Kelemahan Bahasa Melayu Pasar

Bahasa Indonesia berakar dari bahasa Melayu pasar. Bukan bahasa Melayu yang digunakan di istana atau milik para bangsawan.

Menurut Eka Budianta, ciri-cirinya bahasa Melayu pasar itu selalu berubah dan tidak memiliki standar baku. Akibatnya setiap jaman berubah dan sehingga mirip bahasa gaul sekarang.

“Ini yang tidak pernah dibakukan. Akibatnya apa? Akibatnya kalau tidak ada yang nulis, tidak akan menjadi sastra dan dianggap bahasa murahan,” katanya.

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home