Loading...
RELIGI
Penulis: Bayu Probo 19:46 WIB | Selasa, 18 Februari 2014

Federasi Lutheran Sedunia Menolong Pengungsi di Kamp Dosseye, Chad

Loubandin Kim Copin di depan rumahnya. (Foto: LWF/Thomas Ekelund)

SATUHARAPAN.COM – Federasi Lutheran Sedunia (The Lutheran World Federation—LWF) menyediakan tempat yang aman di tengah konflik. Mereka bekerja sejak 2007 dan mulai menampakkan hasil positif.

Garis cakrawala terlihat di padang luas. Di tengah  gurun kering yang tampak memerah dengan jalan berdebu, surga hijau terbentang. Ada wortel, rempah-rempah, wijen dan kacang-kacangan, semua muncul bahkan lebih hijau saat matahari terbenam. Terlihat laki-laki dan perempuan membungkuk menarik keluar gulma dengan tangan-tangan terampil. Dan, di ladang ada sungai dan telaga di antaranya. Di mana-mana terlihat kaleng hijau bertanda “FLM” atau “Fédération luthérienne mondiale,” singkatan dalam bahasa Prancis untuk The Lutheran World Federation. Itu adalah Kamp Dosseye di Chad selatan.

“Hidup Baik-baik Saja”

Loubandin Kim Copin adalah seorang yang tinggi dan ramping. Ia mengenakan kaus polo abu-abu. Ia tidak banyak ucap, tapi mata dan tangannya menunjukkan welas asih. Ketika kerusuhan sipil datang ke Republik Afrika Tengah dan desanya, Pawa, pada 2003, ia masih mahasiswa. Ia dan istrinya harus meninggalkan negara mereka, bersama sebagian besar tetangga mereka. Sejak itu Kamp Dosseye telah menjadi rumah mereka.

Dia dan istrinya, Madjitenem Annette memiliki tujuh anak “dan kami semua baik-baik saja”, kata Loubandin Kim sambil tersenyum. Madjitenem, mengenakan sari kuning yang indah dan cepat mengumpulkan anak-anaknya. Ini adalah waktu berfoto keluarga.

“Terima kasih kepada LWF. Karena mereka, saya memiliki hewan ternak, sekaligus perawatan dan pakannya,” kata Loubandin, dengan bangga menunjuk ke kandang kecil di depan rumah. “Kami mendapatkan bibit berbagai jenis sayuran yang memberi kami cukup untuk makan dan dijual. Tapi yang lebih penting, saya telah diberi kesempatan untuk mengembangkan keterampilan pribadi. Itu berkat LWF,” katanya. “Dan, itulah yang akan memberi makan saya dan keluarga saya di masa depan.”

Perawatan untuk Pengungsi dan Masyarakat Setempat

Kehidupan di kamp pengungsi mahal, kata Loubandin Kim. Dia harus membayar sekolah, air, dan dokter. Saat ia dan istrinya berjalan melalui ladang, melihat tanaman mereka dalam cahaya malam, Loubandin Kim mengatakan bahwa ini adalah hal yang ingin ia lakukan: “Saya ingin dapat menyelesaikan sekolah. Juga, anak-anak saya. Itu sangat penting. Saya ingin memastikan anak-anak saya akan memiliki kehidupan yang berbeda. Dan, mudah-mudahan kami dapat kembali ke negara kami.”

LWF telah bekerja di Chad sejak 2007. Kamp Dosseye memiliki sekitar 16.000 penghuni dan ini merupakan salah satu dari tiga kamp utama di Gore bagi pengungsi dari Republik Afrika Tengah, yang telah telantar akibat kerusuhan politik di negara mereka.

Dalam kemitraan dengan Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), LWF dan ACT Alliance akan membangun tempat penampungan dan infrastruktur di kamp di tahun mendatang, mendukung penduduk dalam mendapatkan mata pencaharian mereka, memastikan lingkungan yang aman dan nyaman sementara pasokan makanan memberikan pelatihan kejuruan bagi para pengungsi yang dipilih dan masyarakat tuan rumah di lima pusat.

“Bekerja dengan masyarakat setempat sama pentingnya dengan mendukung para pengungsi,” kata Jan Schutte, perwakilan LWF di Chad. “Saya kira bahwa pendekatan holistik kami, staf-staf lokal kami dan pengalaman panjang telah membuat LWF mitra yang paling dipercaya untuk UNHCR di Chad.”

Pergerakan Pengungsi Utama

Chad menjadi rumah bagi sekitar 290.000 pengungsi Sudan dan 60.000 pengungsi Republik Afrika Tengah sebelum pengungsi baru datang. Lebih dari 20.000 pengungsi baru dari Republik Afrika Tengah tercatat di Chad selama 2013 dan lebih banyak yang datang setiap hari. Sejak 21 Desember 2013, lebih dari 50.000 warga Chad telah dievakuasi dari Republik Afrika Tengah. Rencana Tanggap Darurat PBB telah disiapkan untuk membantu hingga 150.000 pengungsi yang kembali dan 50.000 baru selama enam bulan ke depan.

Dalam diskusi dengan pengungsi dan pemimpin lokal, Schutte mengatakan bahwa telah ditentukan prioritas untuk tahun mendatang adalah kesiapsiagaan bencana, dukungan bagi masyarakat tuan rumah, dukungan pertanian dan peningkatan pendapatan.

“Tapi,” kata Schutte, “Kita harus menjadi lebih terlihat dalam kaitannya dengan mitra pendanaan kami. Sejak program LWF dan ACT Alliance menjadi mitra utama dari UNHCR di Chad pada tahun 2013, UNHCR juga mengharapkan tingkat yang lebih tinggi dari kontribusi dari dalam ACT Alliance. Itu adalah tantangan yang harus kita stres.” (lwf-assembly2003.org)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home