Loading...
DUNIA
Penulis: Prasasta Widiadi 21:02 WIB | Senin, 19 Oktober 2015

Forum Athena: Dialog Agama dan Budaya Dapat Pulihkan Kondisi Timur Tengah

Ilustrasi: Menteri Luar Negeri Yunani Nikos Kotzias (kanan) saat bertemu dengan utusan khusus Perserikatan Bangsa-bangsa untuk Suriah Steffan de Mistutra (kanan). (Foto: reuters.com).

ATHENA, SATUHARAPAN.COM – Dialog antar agama dan budaya berbagai bangsa di dunia  adalah kunci untuk menyelesaikan krisis dan memulihkan perdamaian di Timur Tengah.

“Pesan kami adalah hidup berdampingan secara damai dari denominasi yang berbeda, persepsi dan keyakinan, karena ini merupakan upaya untuk menegakkan pandangan bahwa kita memberlakukan doktrin yang jangan menghancurkan bagian dari dunia kita,  tapi malah menyebabkan penderitaan bagi bangsa lain, dan dengan skala bencana  yang lebih luas,” kata Menteri Luar Negeri Yunani Nikos Kotzias dalam konferensi internasional Forum Athena yang diadakan di Athena, Yunani pada hari Senin (19/10).

Konferensi Forum Athena mengambil tema  "Agama dan Pluralisme Budaya dan hidup berdampingan secara damai di Timur Tengah.”

Nikos menyebut pemerintah Yunani mengadakan acara yang berlangsung selama dua hari untuk mempromosikan percakapan lintas batas dan mencari solusi dalam periode kritis, ketika jutaan pengungsi yang melarikan diri Timur Tengah dan mendarat di Eropa.

Peserta konferensi termasuk Menteri Luar Negeri dari Siprus, Mesir dan Belanda, kepala gereja-gereja Kristen, dan para pemimpin agama lainnya.

“Timur Tengah  harus menjadi  wilayah yang hidup berdampingan lagi secara damai dan konstruktif, karena di tempat itulah merupakan cikal bakal  bangsa dan yang peradaban,” kata Presiden Yunani Prokopis Pavlopoulos.  

Prokopis  menyerukan solusi politik untuk krisis Suriah dan dukungan lebih lanjut untuk memikirkan kesejahteraan para  pengungsi melalui kerja sama internasional.

Mereka mengecam  agama yang disalahartikan oleh kelompok ekstremis radikal yang merekrut generasi muda untuk bergabung ISIS.

“Negara Islam dan penghancuran agama minoritas dan warisan budaya umat manusia yang telah memicu Islamofobia,” kata Prokopis.

Beberapa hari yang lalu, Tiongkok memberi saran kepada Palestina dan Israel untuk menahan diri  dan mengambil langkah-langkah praktis untuk menghindari eskalasi konflik lebih lanjut. 

"Konflik antara Palestina dan Israel telah lebih jauh meningkat, menyebabkan memburuknya situasi keamanan di Yerusalem Timur, Tepi Barat dan Gaza," kata Liu Jieyi, wakil tetap Tiongkok untuk Perserikatan Bangsa-bangsa, hari Sabtu (17/10), di sesi  pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB (DK PBB) tentang eskalasi ketegangan di Israel dan Palestina, PBB, di New York.

 DK PBB membeberkan data terbaru pada Kamis (15/10) tentang jumlah korban akibat konflik  Israel dan Palestina, tercatat ada tujuh warga Israel meninggal dunia dan 32 orang Palestina tewas,  124 Israel dan lebih dari 1.118 warga Palestina dilaporkan terluka sejak 1 Oktober 2015.

“Tiongkok  sangat khawatir tentang perkembangan ini,” kata Liu.

Tiongkok, kata Liu, menyampaikan ungkapan kekhawatiran tentang penumpasan militer oleh pasukan Israel yang mengakibatkan korban sipil Palestina.  “Penggunaan kekuatan yang berlebihan menyebabkan korban warga sipil tak berdosa tidak dapat diterima,” kata Liu. (xinhuanet.com).

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home