Loading...
BUDAYA
Penulis: Tunggul Tauladan 06:30 WIB | Rabu, 20 Mei 2015

Forum Lintas Iman Gelar Topo Bisu Lampah Ratri

Prosesi Laku Budaya "Topo Bisu Lampah Ratri" di Tugu Yogyakarta, Selasa (19/5). (Foto: Tunggul Tauladan)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM -- Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) Yogyakarta menggelar Laku Budaya “Topo Bisu Lampah Ratri” pada Selasa (19/5) malam. Acara ini dihelat dengan konsep longmarch, mulai dari Tugu Pal Putih (Tugu Yogyakarta) hingga berakhir di Bangsal Pagelaran, Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Menurut Romo Yoseph Suyatno Hadiatmojo dari FPUB, Laku Budaya “Topo Bisu Lampah Ratri” ini merupakan tradisi dari nenek moyang sebagai ungkapan ekspresi keprihatinan, keinginan, sekaligus harapan. Dalam melaksanakan prosesi ini, para peserta “Lampah Ratri” berjalan kaki tanpa mengeluarkan sepatah katapun (bisu) sembari berdoa di dalam hati.

“Topo Bisu Lampah Ratri menjadi tradisi bagi nenek moyang kita jika merasakan keprihatinan, mempunyai harapan, atau keinginan. Kami dari FPUB secara rutin mengadakan acara ini setiap tanggal 19 Mei,” demikian penjelasan dari Romo Yoseph Suyatno Hadiatmojo.

Romo Yoseph menambahkan bahwa Laku Budaya “Topo Bisu Lampah Ratri” memuat berbagai harapan, baik bagi Yogyakarta pada khususnya, maupun Indonesia pada umumnya. Harapan tersebut, antara lain ingin menunjukkan bahwa umat lintas agama-lintas iman juga bisa bersatu dan menjalin kerukunan.

“Harapan dari digelarnya acara ini, pertama, kami ingin menunjukan kepada masyarakat bahwa rakyat dari berbagai tokoh agama di dalam masyarakat bisa bersatu melaksanakan ‘Topo Bisu Lampah Ratri’. Kedua, harapannya pada Hari Kebangkitan Nasional, masyarakat serta para pemimpin juga bisa bersatu dalam keheningan, kejujuran, dan kebaikan. Ketiga, kami memohon bimbingan dari Tuhan agar memberikan ketenangan dan kerukunan terhadap hiruk pikuk yang terjadi selama ini,” ujar Romo Yoseph.

Ketika disinggung tentang persoalan “hiruk-pikuk” yang dimaksud menyoal polemik yang kini tengah menyelimuti Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Romo Yosep menyatakan sikap untuk tidak memihak. Bagi Romo Yosep, inti dari acara ini adalah memohon bimbingan dari Tuhan agar diberikan ketenangan.

“Jika dikaitkan dengan polemik yang ada di keraton, kami menilai apa yang kami lakukan ini memang ada kaitannya. Kaitannya adalah bahwa kami itu rakyat Yogyakarta yang berada di bawah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Tetapi untuk soal ini, kami tidak boleh memihak siapapun. Kami hanya rakyat memohon kepada Tuhan saja. Kami masyarakat bawah ini yang rukun dan damai, tolong lihatlah,” jelas Romo Yoseph.

Dalam prosesi Laku Budaya “Topo Bisu Lampah Ratri” ini seluruh peserta mengenakan janur kuning yang melambangkan semangat juang, sebagaimana para pahlawan yang berperang dalam Serangan Oemoem 1 Maret. Selain janur kuning, acara ini juga mengarak sebuah gunungan berujud tumpeng yang memiliki banyak rasa sebagai simbolisasi kemajemukan yang ada pada rakyat di Yogyakarta pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Laku Budaya “Topo Bisu Lampah Ratri” merupakan sebuah prosesi yang rutin digelar setiap tahun oleh FPUB menjelang Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada 20 mei. Secara harfiah, “Topo Bisu Lampah Ratri” dapat diartikan sebagai perjalanan malam tanpa suara (topo bisu: bertapa tanpa suara; lampah: berjalan kaki; ratri: malam). Dalam prosesi ini, rute yang dipilih sengaja melewati garis imajiner, dari Tugu Pal Putih menuju Bangsal Pagelaran di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Hal ini memiliki makna simbolis, yaitu perjalanan dari kawulo (rakyat) menuju gusti (Tuhan) sehingga terjadi proses “menunggaling kawulo gusti” (bersatunya antara rakyat dan pemimpin). 

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home