Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 05:56 WIB | Sabtu, 23 November 2013

Gembala Palsu vs Gembala Sejati

foto:kidsbibledebjackson.blogspot.com

Dalam Minggu Kristus Raja Semesta Alam (24 November 2013), Allah menuntut pertangungjawaban para gembala. Perhatikan kecaman Allah melalui nabi Yeremia ini: ”Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak!”—demikianlah firman Tuhan.” (Yer. 23:1).

Allah mengecam para gembala Israel karena mereka melupakan hakikat diri selaku gembala. Mereka membiarkan umat Allah hilang dan terserak. Mereka hanya mengutamakan kepentingan diri sendiri. Mereka adalah gembala palsu.

Gembala merupakan kata dasar. Kata kerjanya menggembalakan. Dan kata kerja menggembalakan selalu mengandaikan ada yang digembalakan. Tetapi apa mau dikata, domba-domba yang lemah tidak mereka pelihara, yang sakit tidak mereka obati, yang luka tidak mereka balut, yang sesat dan hilang tidak mereka cari dan bawa kembali. Ringkasnya: mereka tidak bertindak selaku gembala; malah bertindak seolah-olah merekalah pemilik domba-domba itu.

Perilaku gembala-gembala Israel itu sungguh berbeda dengan Sang Guru dari Nazaret. Semasa hidupnya, Ibu Teresa dari Kolkata berkata, ”Perhatian adalah awal kesucian besar. Bila Saudara belajar untuk memperhatikan kepentingan orang lain, Saudara akan makin menyerupai Kristus. Karena hati-Nya lembut, selalu memikirkan kebutuhan orang lain. Ia berkeliling sambil berbuat baik.”

Saat di salib pun, ketika raga tidak mungkin bebas pergi semau diri, Yesus masih memberikan perhatiannya kepada seseorang yang memohon kasih-Nya. Dalam keadaan sekarat, Yesus masih memerhatikan orang lain. Dia tidak menjadikan penderitaan diri sebagai alasan untuk abai terhadap orang lain. Bahkan, Dia memberi lebih dari yang diharapkan.

Salah seorang penjahat yang disalib itu memohon: ”Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” (Luk. 23:42). Dia ingin diingat. Tetapi, jawaban Sang Guru dari Nazaret: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk. 23:43).

Inilah sikap Gembala Sejati: memerhatikan, mau mati, dan bersama-sama dengan domba-domba-Nya—baik di dunia maupun surga. Dia tidak melupakan domba-domba-Nya.

 

Editor: ymindrasmoro

Email: inspirasi@satuharapan.com


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home