Loading...
RELIGI
Penulis: Prasasta Widiadi 14:32 WIB | Jumat, 19 Agustus 2016

Gereja Terus Dukung Kontingen Pengungsi

Hanan Dacka (kaus kuning putih, tengah), perempuan berusia 12 tahun yang juga pengungsi asal Suriah yang memegang api Olimpiade saat arak-arakan api Olimpiade di sebuah jalan raya di kota Brasilia, Brasil. Hanan adalah salah satu atlet yang berpartisipasi dalam arak-arakan api Olimpiade, api tersebut dibawa puluhan atlet lainnya melintasi banyak kota di Brasil, dalam rangka menyambut Brasil sebagai tuan rumah Olimpiade 2016. (Foto: unhcr.org)

LOUISVILLE, SATUHARAPAN.COM – Seperti banyak orang di dunia penggemar olahraga dan bersorak gembira menyambut Olimpiade 2016, para pemimpin gereja pun turut menyuarakan dukungan kepada ajang olahraga empat tahunan dunia tersebut.

Di Amerika Serikat, organisasi pelayanan dan misi gereja Presbiterian, Presbyterian Mission Agency meminta masyarakat memberi dukungan kepada kontingen pengungsi yang berlaga di Olimpiade.

“Kehidupan pengungsi selama ini menakutkan. Mereka telah kehilangan rumah mereka, negara mereka hidup dalam keterbelakangan,” kata Associate Director Presbyterian Mission Agency, Susan Krehbiel, hari Kamis (18/8).

“Masalah yang dihadapi atlet dari kontingen pengungsi sangat besar. Sebagai orang beriman, kita memahami hubungan kita sebagai satu keluarga manusia, "kata Krehbiel.

Krehbiel mengatakan hingga saat ini kontingen pengungsi belum mendapat tempat di dunia.

Saat pembukaan Olimpiade, kontingen ini  berbaris dengan bendera Olimpiade. Tim itu terdiri sepuluh atlet lima pelatih dan lima ofisial tim, atlet tersebut berasal dari berbagai negara yang mengalami konflik.

Kontingen ini saat di Olimpiade tinggal di kampung atlet  bersama semua atlet bersaing.

Sebelum Olimpiade kisah perjuangan para atlet dari kontingen pengungsi sudah banyak beredar di media sosial. Kisah kehidupan mereka menginspirasi banyak orang.

Saat Olimpiade belum dimulai para pengungsi menginginkan kehidupan negara asalnya akan berangsur-angsur membaik dan tidak ada lagi bencana alam maupun perang, sehingga di Olimpiade berikutnya akan mewakili negara masing-masing.

Beberapa pemimpin gereja menyatakan harapan kontingen pengungsi  membangkitkan semangat dari dalam diri  pengungsi di seluruh dunia, dan pengungsi dapat kembali ke kampung halaman dan memiliki tempat tinggal seperti sedia kala.

Di Leeds, Inggris Raya, Church of England yang merupakan anggota WCC mempromosikan lagu berbentuk single yang diisi hampir 200 penyanyi yang menyanyikan lagu bertema Olimpiade dan berisi dukungan untuk kontingen pengungsi, lagu tersebut berjudul “The World Is Our Song”.  

Saat Olimpiade dimulai pada tanggal 5 Agustus, “Seaman’s Church” dari Norwegia dan “Church of Sweden” dari Swedia membuka pintu bagi dialog tempat peradaban dan budaya di Rio de Janeiro.

Langkah pendirian stan tersebut terinspirasi kesuksesan yang mereka lakukan di beberapa Olimpiade sebelumnya yakni di Sydney (tahun 2000), Athena (1996) dan Beijing (2008).

Selain menciptakan ruang menyambut anggota gereja dan didorong oleh kebutuhan untuk refleksi tentang krisis pengungsi saat ini di Eropa, Seaman’s Church beberapa waktu lalu  menyelenggarakan seminar dengan tema  “Ketika Nilai-nilai Bertemu Budaya Asing.”

Gereja Injili di Jerman atau (Evangelische Kirche in Deutschland/EKD) menawarkan semangat untuk atlet dan penonton. EKD pernah bekerja sama dengan gereja Katolik untuk mendampingi kontingen Jerman sejak Olimpiade 1972 yang kala itu diselenggarakan di Munchen.

Pendeta dari jemaat kecil dari Gereja Lutheran Brasil (Evangelical Church of the Lutheran Confession in Brazil/ IECLB), Rolf Rieck mengatakan nilai-nilai Olimpiade akan terwujud dengan keterbukaan.

“Nilai-nilai Olimpiade terwujud ketika kita menunjukkan diri secara terbuka menyambut banyak orang sebagai instrumen Allah untuk memiliki harapan baru,” kata Rolf Rieck.  

Uskup Agung wilayah Selatan Brasil, Francisco de Assis da Silva mengatakan Olimpiade  menyatukan orang-orang dari dunia melalui persaingan yang sehat dalam olahraga baik secara individu maupun secara tim. “Olimpiade memberi kesempatan banyak orang untuk belajar dan berbagi keragaman di dunia,” kata Assis da Silva.

Saat pembukaan Olimpiade dihadiri lebih dari 25 organisasi perwakilan ekspresi iman dan lebih dari 30 organisasi masyarakat sipil. Menurut Direktur Eksekutif ACT Alliance, Rafael Soares de Oliveira kehadiran perwakilan gereja dalam Olimpiade untuk mengaktifkan dukungan bagi migran, pengungsi, masyarakat adat.  “Perwakilan minoritas yang pernah mengalami penderitaan dalam segala bentuk diskriminasi dan rasisme,” kata Soares de Oliveira.

Kehadiran organisasi yang berkaitan dengan gereja tidak hanya merupakan bentuk dukungan untuk anti-diskriminasi dan anti-rasisme, melainkan juga dukungan untuk menghentikan eksploitasi sumber daya alam dan menghentikan perusakan lingkungan di seluruh dunia.

Daftar atlet yang berasal dari negara pengungsi antara lain, perenang putra Suriah, Rami Anis (25 tahun), judoka putri asal Republik Demokratik Kongo, Yolande Mabika (28 tahun), pelari putra Sudan jarak 1.500 meter Paulo Amotun Lokoro (24 tahun) , perenang putri gaya bebas 200 meter asal Suriah, Yusra Mardini (18 tahun).

Kemudian ada pelari putra jarak 800 meter asal Sudan Selatan, Yiech Pur Biel (21 tahun), pelari putra 800 meter asal Sudan Selatan, Rose Nathike Lokonyen (23 tahun), pejudo putra Republik Demokratik Kongo, Popole Misenga (24 tahun), pelari marathon asal Etiopia, Yonas Kinde (36 tahun), pelari  putri jarak 1.500 meter asal Sudan Selatan, Anjelina Nadai Lohalith (21 tahun), pelari putra 800 meter asal Sudan Selatan, James Nyang Chiengjiek (28 tahun). (oikoumene.org/olympic.org)

Editor : Diah Anggraeni Retnaningrum


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home