Loading...
INDONESIA
Penulis: Endang Saputra 05:13 WIB | Kamis, 24 September 2015

Hasyim Muzadi: Jangan Sebut Keburukannya

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Hasyim Muzadi. (Foto: Dok.satuharapan.com/Dedy Istanto)

SOLO, SATUHARAPAN.COM –  Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Hasyim Muzadi, menyatakan, setiap pejuang bagi bangsa Indonesia harus dihormati, siapa pun orangnya, dan jika yang bersangkutan sudah wafat, tidak boleh disebut keburukannya.

Pernyataan tersebut disampaikan KH Hasyim Muzadi di sela-sela mengikuti haul atau peringatan wafatnya Siti Hartinah Soeharto (Ibu Tien) di Astana Giribangun, Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah, Rabu (23/9) malam.

Ibu Tien wafat di Jakarta, 28 April 1996 pada usia 72 tahun. Almarhumah adalah istri Presiden Indonesia kedua, Jenderal Purnawirawan Soeharto. Siti Hartinah, yang sehari-hari dipanggil "Ibu Tien Soeharto" itu adalah anak kedua pasangan KPH Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo.

Beberapa literatur menyebut bahwa Ibu Tien merupakan canggah Mangkunagara III dari garis ibu. Tien menikah dengan Soeharto pada tanggal 26 Desember 1947 di Surakarta. Siti dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia tak lama setelah kematiannya.

"Hormati pejuang yang telah berbuat untuk bangsa. Siapa pun dia," kata Hasyim yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini

Selain pertama menghormati pejuang bagi bangsa, kedua bagi yang wafat, menurut Hasyim, hanya boleh disebut kebaikannya. "Tidak boleh disebut keburukannya," kata dia.

Peringatan wafatnya Tien Soeharto, kata Hasyim lagi, bertepatan dengan 10 Dzulhijjah, bersamaan dan berhimpitan dengan puncak pelaksanaan ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah dan Idul Adha. Dengan demikian, bangsa Indonesia bisa menghormati dua hal: Yaitu, pertama melaksanakan tahlil untuk yang wafat dan kedua pelaksanaan takbir, karena pada hari Kamis (24/9) adalah hari raya kurban atau Idul Adha.

Tentang pelaksanaan haul Ibu Tien, Hasyim menyatakan, hal ini dimaksudkan memanjatkan doa untuk yang wafat, kemudian meneladani apa yang baik, lantas memohonkan maghfirah atau ampunan sesama manusia.

Dan lebih penting lagi, katanya, menanamkan kesadaran bagi yang masih hidup bahwa kemudian hari, pada waktunya, akan wafat pula.

Pada peringatan wafatnya Ibu Tien yang ke-20 tahun itu, nampak keluarga besar Soeharto. Di antaranya Siti Hardiyanti Hastuti alias Mbak Tutut, Sigit Harjojudanto, Siti Hediyanti Hariyadi, Hutomo Mandala Putra, dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

Nampak pula Ketua Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila (YAMP). Sulastomo, mantan Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni, mantan menteri koperasi Subiyakto Tjakra Wardaya, mantan Kepala BKKBN Haryono Suyono, mantan menteri koperasi Subiyakto Cakra Wardaya, dan sejumlah rekan terdekat keluarga Soeharto.

Usai pembacaan surat Yasin, tahlil, dan doa, anggota keluarga Soeharto menaburkan bunga ke makam ke makam kedua orang tuanya. KH Hasyim Muzadi bersama undangan juga menaburkan bunga diiringi doa.(Ant)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home