Loading...
INSPIRASI
Penulis: Weinata Sairin 07:11 WIB | Rabu, 06 Juli 2022

Hidup itu Wajib Mendengar

"Qui habet aures audiendi, audiat. Siapa yang memiliki telinga untuk mendengar, hendaknya dia juga mendengarkan"
Mendengarkan. (Foto: pixabay)

SATUHARAPAN.COM - Alangkah agung Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta langit dan bumi serta segala isinya. Betapa akbar Karya ciptaanNya yang tak mampu dirumuskan secara sempurna dengan kata-kata manusia yang amat terbatas. Karya ciptaanNya mengatasi segala karya yang pernah ada; karya akbarNya tak ada bandingnya, tak bisa di komparasi. 

Lihatlah manusia yang Ia ciptakan secara khusus dan istimewa, dan yang amat berbeda dengan makhluk lainnya. Manusia memiliki fisik, pikiran, akal budi, perasaan dan berbagai kemampuan lainnya yang memungkinkan manusia mengekspresikan kediriannya secara optimal sesuai dengan tugas panggilannya sebagai manusia.

Salah satu kemampuan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia adalah 'mendengar'; dalam kaitan itu manusia memiliki telinga. Telinga, kuping sebagai alat pendengaran memiliki makna yang amat penting dan fundamental dalam kehidupan umat manusia.

Pemimpin mendengar suara rakyatnya, guru mendengar suara muridnya, suami-istri, anak dan orangtua mesti hidup dengan saling mendengar, saling apresiasi dan mengasihi. Keluarga Besar bangsa yang majemuk mesti saling mendengar. 

Dari mendengar kita memberikan simpati dan empati. Sebagai umat beragama kita harus terbiasa mendengar suara dan lantunan Kitab Suci agama-agama, mendengar suara azan, mendengar kidung nyanyian Gereja, mendengar lantunan umat membaca Al Fatihah, Al Ikhlas dan bacaan keagamaan dari agama-agama yang ada.

Mendengar para sahabat dari Kepepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa menyampaikan problematika yang mereka hadapi di lapangan. Mendengar suara anak-anak, para akademisi, konstituen, para praktisi, kaum milenial, mereka yang berkebutuhan khusus.

Ya mendengar banyak hal dari banyak orang yang bisa membarui mindset kita, paradigma berfikir kita. Prof Dr JL Ch Abineno teolog besar dari Kupang NTT, dalam kuliahnya di STT Jakarta tahun 70-an menyatakan agar para pendeta harus lebih banyak mendengar umatnya, jangan hanya berbicara saja.

Mesti ada ruang dalam hati kita untuk mendengar dan menikmati khazanah spiritualitas bangsa kita tanpa harus menutup telinga dan atau menghakimi. Mari mendengar dengan baik, termasuk suara suara yang tak mampu terucapkan yang meluap dari relung hati paling dalam.

Di zaman kini kita juga harus lebih banyak mendengar: mendengar detak jantung, mendengar embusan napas, mendengar rintih lirih dari ruang isoman, mendengar keluhan nir suara dari ruang IGD, ICCU, HCU,mendengar mereka yang kehilangan pekerjaan, jerit tangis yang kehilangan suami dan anaknya yang dibunuh Omicron mendengar nenek renta yang pingsan saat antri BLT, mendengar KPK mengejar DPO, mendengar kisah teroris yang merancang bom dari rumah petak, mendengar jeritan di Papua, Sumba, NTT, Kalimantan, Sulawesi Tengah, mendengar kisah pilu mesjid yang dibongkar karena perbedaan aliran, ya mendengar dimana-mana tanpa kita harus menutup telinga.

Dari mendengar kita berempati, dari berempati kita bertindak menyatakan kasih kita kepada sesama tanpa mempertimbangkan apapun dan siapapun. Di zaman digital dan diera pandemi seperti ini kita harus mendengar dengan lebih kritis dan menggunakan logika.

Dalam masa-masa seperti ini selalu ada saja orang-orang dengan diksi terselubung memperdengarkan narasi-narasi yang pada akhirnya membawa kita kepada hasrat perpecahan bangsa. Ketokohan seseorang dimasa lampau terkadang dimanipulasi olh orang2tertentu untuk pementingan kelompok/ golongan yang bisa mereduksi keutuhan bangsa. 

Selamat Mendengar! Selamat Menjaga dan Merawat NKRI yang majemuk!

God Bless Us.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home