Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 14:31 WIB | Minggu, 26 Mei 2019

Ilustrasi Hikayat 1001 Malam dalam Pameran “Ali Baba”

Ilustrasi Hikayat 1001 Malam dalam Pameran “Ali Baba”
Pameran ilustrasi hikayat 1001 Malam “Ali Baba” berlangsung 24-31 Mei 2019 di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No 2 Yogyakarta. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Ilustrasi Hikayat 1001 Malam dalam Pameran “Ali Baba”
Tiga buah repro ilustrasi buku dari seri Hikayat Saudara Tiri yang Jahat.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Tiga puluhan repro ilustrasi buku dari naskah delapan buku kuna yang berkisah tentang Dongeng 1001 Malam dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY). Pameran dibuka oleh seniman-perupa Nasirun, Jumat (24/5) sore.

Kedelapan buku tersebut adalah Arabische Nacht Vertellingen (Van Holkema & Warendorf), Islamic Art: an introduction (Hamlyn), Kraton Marmer (Balai Pustaka), Kraton Marmer (Petikan Dongeng Sewoe Satoenggal Daloe), Poetri Perisade (Petikan Dongeng Sewoe Satoenggal Daloe), Kafilah Di Padang Pasir (Noordhoff-Kolff N.V. Djakarta), Abu Nawas (Balai Pustaka), dan Sair Ali Baba.

Budayawan GP Sindhunata dalam sambutan mewakili BBY menjelaskan ilustrasi gambar yang dipamerkan berasal dari buku Arabische Nacht Vertellingen (kisah-kisah menjelang tidur dari Arab) yang justru ditulis dan diilustrasi oleh orang Barat bernama Edmud Dulac dan diterbitkan di Belanda oleh pengarang Lawrenece Housman.

“Ini menunjukkan bagaimana kesenian bisa memukau siapa pun sehingga orang Belanda bisa menggambarkan dengan sangat baik kisah-kisah 1001 Malam yang sama sekali berlainan kebudayaan, agama, pola pikir. Dan seni bisa mempersatukannya. Narasi-ilustrasi (dalam Arabische Nacht Vertellingen) yang tidak mengenal agama-budaya setempat. Di sini seni bisa mengimajinasikan lebih,” jelas Sindhunata.

Dari kajian literatur yang ada, penelliti BBY Yunanto Sutyastomo menjelaskan bahwa kisah-kisah 1001 Malam Ali Baba, Sinbad, dan Abu Nawas berasal dari daratan Persia. Ali Baba berasal dari Iran sementara Abu Nawas berasal dari Irak dengan setting latar cerita kota Baghdad dan istana Sultan Harun al-Rasyid. Kehadiran Harun al-Rasyid bersama tokoh Abu Nawas dalam kisah-kisah Abu Nawas menjadi penanda bagaimana Harun al-Rasyid sebagai penguasa memiliki perhatian serius pada pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Harun al-Rasyid sendiri diakui sebagai sultan berkuasa yang memerintah dengan sistem terbaik.

“Pada kajian kisah Aladdin saya menemukan bahwa sebenarnya kisah tersebut berasal dari  Tiongkok. Penerjemah berkebangsaan Prancis Antoine Galland memasukkan kisah Aladdin sebagai folkor yang berasal dari Timur Tengah, namun kisah tersebut tidak ditemukan dalam naskah kisah asli 1001 Malam. Putri Jasmine dalam film Aladdin yang dibuat Walt Disney ternyata merupakan karakter rekaan Disney. Galland menuturkan bahwa Aladdin merupakan kisah pemuda miskin di Tiongkok,” jelas Yunanto kepada satuharapan.com saat pembukaan pameran Ali Baba, Jumat (24/5) malam.

Figur binatang kuda, unta, keledai, serta figur-figur manusia mengenakan jubah dan turban banyak digunakan Dulac dengan latar landscape padang pasir. Pada figur perempuan, selain figur perempuan Arab-Persia Dulac juga membuat karakter perempuan India yang mengenakan pakaian adat Sari.

Menariknya visual karya ilustrasi buku yang dipamerkan justru berbeda dengan karya seni miniatur yang pernah berjaya di daratan Persia pada abad ke-15 hingga 16. Dulac membuat ilustrasi tersebut sekitar tahun 1900-an awal dengan bagian-bagian (tubuh manusia, tumbuhan, binatang) yang lengkap dan proporsional yang membedakan dengan karya-karya lukisan miniatur Persia.

Pameran ilustrasi hikayat 1001 Malam “Ali Baba” berlangsung sampai tanggal 31 Mei 2019 di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No 2 Yogyakarta.

Editor : Sotyati


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home