Loading...
SAINS
Penulis: Sotyati 11:36 WIB | Kamis, 03 Maret 2016

Indonesia Negara Terbesar Kedua Buang Sampah Plastik ke Lautan

Indonesia, negara dengan jumlah penduduk termasuk terbanyak di dunia, tercatat sebagai negara terbesar kedua yang membuang sampah plastik ke laut. (Foto: huffingtonpost.com/Zak Noyle/A-Frame)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Konsumsi plastik di Indonesia per kapita sudah mencapai 17 kg per tahun dengan pertumbuhan konsumsi mencapai 6-7 persen per tahun. Indonesia bahkan sudah menjadi negara terbesar kedua di dunia yang membuang sampah plastik ke lautan.

Sampah plastik ini dapat berubah menjadi mikroplastik yang dapat terapung di lautan dengan ukuran lebih kecil dari 1 mikron. Bahan ini menjadi berbahaya bila masuk ke dalam rantai makanan melalui ikan, biota laut, hingga masuk ke dalam tubuh manusia.

Merespons hal tersebut, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dalam hal ini Puslit Kimia, menemukan inovasi teknologi untuk meminimalisir permasalahan lingkungan akibat sampah plastik. LIPI mengulasnya dalam Sosialisasi Hasil Penelitian LIPI, Kamis, 3 Maret 2016 di Media Center, LIPI Jakarta.

Berbahaya bagi Kesehatan

Plastik diakui banyak membantu kehidupan manusia menjadi lebih praktis, karena sifatnya yang lebih ringan, awet, dan murah dibandingkan dengan kayu, kertas, ataupun logam. Namun demikian, penggunaan plastik yang berlebihan, misalnya untuk kemasan pangan, peralatan rumah tangga, ataupun mainan anak-anak, dapat mengganggu kesehatan dan kelestarian lingkungan hidup karena sifat plastik yang sulit terurai secara alami.

Dr Eng Agus Haryono, Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, dikutip dari siaran pers yang dimuat di lipi.go.id, menjelaskan plastik terbuat dari minyak bumi melalui proses polimerisasi, dan ikatan kimia pada polimer tersebut sangat kuat dan sulit diputuskan. Dibutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk dapat mengurai sampah plastik di alam, dan menjadi semakin sulit akibat penambahan berbagai bahan kimia lain seperti  plasticizer (pelentur), antioksidan, stabilizer, ataupun aditif lain.

Agus Haryono menambahkan, penggunaan plastik yang tidak benar dan tidak sesuai dengan kegunaannya bisa berpotensi membahayakan kesehatan manusia. “Berbagai jenis bahan kimia tambahan serta monomer tersisa yang tak bereaksi pada plastik bisa menyebabkan berbagai bahaya kesehatan seperti penyakit kanker, gangguan reproduksi, radang paru-paru dan lain sebagainya, “ dia menjelaskan. (lipi.go.id)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home