Loading...
INDONESIA
Penulis: Martahan Lumban Gaol 14:48 WIB | Sabtu, 07 Juni 2014

Joko Widodo, Pengusaha Mebel yang Amanah

Joko Widodo (kemeja putih) bersilaturahmi ke rumah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk bertemu Sinta Nuriyah dan Yenny Wahid di Ciganjur, Jakarta Selatan, membicarakan masalah kebangsaan, pada 25 Maret lalu. (Foto: Dedy Istanto)

SATUHARAPAN.COM – Pemilik nama Ir H Joko Widodo, atau lebih akrab dikenal dengan sebutan Jokowi, adalah salah satu sosok yang kini dihadapkan pada seluruh rakyat Indonesia melalui Pemilu Presiden 2014 sebagai Calon Presiden (Capres) Republik Indonesia lima tahun ke depan. Figur yang sempat menjadi pengusaha mebel hingga mancanegara ini juga pernah mendapatkan amanah sebagai kepala daerah, Wali Kota Solo (2005-2010, 2010-2012) dan Gubernur DKI Jakarta (2012-sekarang).

Pria kelahiran 21 Juni 1961 ini memiliki kisah hidup yang sederhana. Sehari-hari, ayahnya menghidupi keluarga dengan berjualan kayu. Mereka pun tinggal berpindah-pindah, dari satu rumah sewa ke rumah sewa lainnya. Bahkan dengan kondisi tersebut, keluarga Jokowi harus rela digusur Pemerintah Kota Solo dari tempat tinggalnya, di bantaran Kali Pepe dan tinggal menumpang di rumah seorang kerabat di daerah Gondang.

Selepas berkuliah di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (1985), Jokowi bekerja di sebuah perusahaan BUMN di Provinsi Aceh. Namun pada 1988, Jokowi dan istri kembali ke Kota Solo. Ia pun bekerja sementara waktu pada pabrik milik pamannya, hingga akhirnya memutuskan berhenti dan memulai usaha mebelnya sendiri. Usaha yang mulanya berjalan dengan kondisi sederhana itu, lambat laun berkembang. Dari ruang lingkup regional, usaha Jokowi tumbuh melingkupi pasar nasional, kemudian merambah pasar mancanegara.

Sukses menjalankan bisnis mebel menggerakkan Jokowi untuk mulai mencurahkan energinya pada ranah lain, yakni sosial. Ia melihat banyak usaha kecil masyarakat Solo memiliki potensi untuk maju, tetapi belum berkembang baik.

Dengan latar belakang masa lalu yang sulit di bantaran sungai, ia dan beberapa rekan pengusaha menggagas terbentuknya organisasi pengusaha mebel nasional cabang Solo yang bernama Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia (Asmindo). Jokowi pun didaulat menjadi ketua organisasi dan memimpin berbagai kegiatan yang berhasil mengangkat daya usaha para pengusaha kecil dan menengah anggota Asmindo.

Dua tahun memimpin Asmindo, para pengurus dan anggota organisasi tersebut mulai melontarkan ide pencalonan diri Jokowi sebagai Wali Kota Solo. Awalnya, Jokowi hanya menganggapinya dengan tawa dan secara halus menolak. Tetapi, aspirasi tersebut bertambah kuat dan dorongan dari dalam organisasi untuk maju mencalonkan diri sebagai Wali Kota Solo terus meningkat. Joko Widodo kemudian maju dalam Pemilukada Kota Solo 2005 bersama FX Hadi Rudyatmo. Mereka terpilih menjadi pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo (2005-2010).

Amanah yang dipercayakan masyarakat Kota Solo pada Jokowi diemban dengan baik. Beberapa prestasi seperti tata lokasi PKL, efisiensi birokrasi kota, dan peremajaan pasar-pasar tradisional membuatnya menjadi sosok populer di kalangan masyarakat Surakarta. Pada pemilihan Wali Kota Solo periode (2010-2015), mereka dipilih kembali. Kali ini dengan persentase perolehan suara sangat tinggi, 90,09 persen.

Di tingkat nasional, nama Jokowi mulai dikenal kala ia mengganti mobil dinasnya dengan mobil Esemka, mobil hasil karya para pelajar SMK 2 dan SMK Warga Surakarta, pada Januari 2012. Pemberitaan mengenai hal itu meluas dan menimbulkan berbagai tanggapan. Salah satu komentar yang mendapat sorotan masyarakat ialah komentar Bibit Waluyo (Gubernur Jawa Tengah saat itu), menurutnya langkah Jokowi mengganti mobil dinasnya sebagai sesuatu yang sembrono. Namun hal itu justru membuat simpati publik, nama Jokowi pun bertambah besar.

Pada Maret 2012, PDI Perjuangan dan Gerindra meminang Jokowi untuk duet bersama Basuki Tjahaja Purnama, sebagai Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Pasangan itu berhadapan dengan lima pasangan calon lain dan berhasil menduduki posisi teratas pada putaran pertama, yakni sebanyak 42,60 persen. Lalu pada putaran kedua, Jokowi dan Basuki berhasil mengungguli pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli, dan terpilih sebagai pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017.

Kini, pada Pemilu Presiden 2014, melalui Koalisi Indonesia Hebat (PDIP, Nasdem, PKB, PKPI, dan Hanura), nama Jokowi diusung sebagai Calon Presiden Republik Indonesia 2014, bersama Muhammad Jusuf Kalla, sebagai calon wakil presiden. Pasangan ini pun telah diberikan nomor urut dua, sebagai peserta Pemilu Presiden 2014. (kpu.go.id/jokowicenter.com)

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home