Loading...
RELIGI
Penulis: Sabar Subekti 09:21 WIB | Rabu, 13 April 2016

Kejahatan Anti-Islam Meningkat di Spanyol

Vandalisme pada sebuah masjid di Madrid, Spanyol. Kejahatan berlatar belakang kebencian dan anti Islam meningkat di Spanyol menyusul berbagai serangan teroris oleh kelompok Islamis.(Foto: Ist)

MADRID, SATUHARAPAN.COM – Kejahatan berlatar belakang kebencian dan anti-Islam melonjak lebih dari sepuluh kali lipat di Spanyol pada tahun 2015, kata federasi utama komunitas Islam di sana hari Selasa (12/4) serangkaian serangan terhadap masjid.

Sebanyak 534 insiden anti-Islam termasuk penyalahgunaan situs online tercatat tahun lalu, naik dari 48 pada tahun 2014, kata Presiden Federasi Spanyol Entitas Agama Islam, Mounir Benjelloun, kepada AFP.

"Jenis-jenis agresi meningkat setiap kali ada tindakan kekerasan di negara Eropa" yang dilakukan oleh ekstrimis Islam, katanya menambahkan.

Dia menyebut sebagai contoh serangan pada Januari 2015 terhadap majalah satir Charlie Hebdo di Paris, serta serangan pada polisi dan supermarket halal di Paris yang menewaskan 17 orang. Juga serangan simultan pada restoran, ruang konser dan stadion sepak bola di ibu kota Prancis pada November 2015 yang menewaskan 130 orang.

Kelompok Kanan

Polisi Spanyol mengatakan hari Selasa (12/4) bahwa mereka telah mengidentifikasi 14 orang yang terkait dengan kelompok kanan-jauh yang mengambil bagian dalam protes di luar masjid utama Madrid setelah serangan mematikan di bandar udara dan metro di Brussels, Belgia, bulan lalu.

Para pengunjuk rasa berkumpul di Masjid Omar di Madrid dan memasang plakat besar bertuliskan: "Hari ini Brussels, besok Madrid?".

Polisi mengatakan bahwa kejaksaan sedang menyelidiki untuk menentukan apakah 14 orang itu bisa didakwa dengan kejahatan kebencian.

Memanipulasi Kebencian

Persatuan Komunitas Islam Spanyol mengeluarkan pernyataan pada saat itu dan mengatakan "kelompok-kelompok ekstremis" bertekad untuk "memanipulasi opini publik dengan mencoba untuk bersama-sama menyalurkan kebencian terhadap Muslim."

Juga pada hari Selasa, polisi di Parla, pinggiran bagian selatan kota Madrid, mengatakan bahwa mereka telah menangkap seorang pria terkait dengan kelompok sayap kanan karena dicurigai melemparkan cat merah di pintu masuk masjid dan lukisan swastika di pintunya.

Sejak serangan teror di Brussels menyerang masjid dan pengrusakan terjadi di kota-kota Spanyol lainnya seperti Salamanca di barat dan Granada di selatan, kata Riay Tatary, kepala Komisi Islam Spanyol, yang mewakili sekitar 1,89 juta warga Muslim.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol mencatat 70 kejahatan kebencian terkait dengan keyakinan agama terjadi tahun lalu, naik dari 63 pada tahun 2014.

Benjelloun mengatakan angka yang disampaikan kementerian itu lebih rendah, karena dalam banyak kasus korban sering enggan untuk melapor polisi dan beberapa pos polisi menilai serangan pada properti Muslim sebagai vandalisme bukan sebagai kejahatan rasial.

Militan ISIS Menurun

Sementara itu, dari Amerika Serikat dikabarkan bahwa jumlah militan Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS atau ISIS) menurun dalam dua tahun terakhir.

Jumlah militan kelompok ISIS di Suriah dan Irak lebih rendah daripada dalam dua tahun terakhir, kata Wakil Sekretaris Negara AS, Antony Blinken, pasa sidang Senat hari Selasa (12/4) seperti dikutip Reuters.

"Bahkan, kami menilai jumlah militan Daesh (nama ISIS dalam bahasa Arab-Red.) ini adalah yang terendah sejak kami mulai memantau sumber daya mereka pada 2014," kata Blinken.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home