Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 03:31 WIB | Sabtu, 16 Juli 2016

Keramahtamahan Abraham dan Marta

Jangan sampai pelayanan itu malah menjadi beban yang berat.
Maria dan Marta (foto: istimewa)

Marilah kita arahkan pandangan kita kepada dua pribadi: Abraham dan Marta! Keduanya orang baik. Hal itu terbukti kala mereka mau menerima tamu. Menerima tamu menunjukkan bahwa bahwa Si Nyonya dan Tuan rumah mau berbagi.

 

Abraham

Dalam budaya suku pengembara, menerima tamu merupakan hal lumrah. Biasanya itu dilaksanakan selama beberapa hari; setelah itu tamu-tamu dipersilakan pergi untuk meneruskan perjalanannya. Budaya yang baik karena bisa jadi suatu kali mereka sendirilah yang menjadi tamu. Budaya keramahtamahan akan menjami kehidupan mereka terus berlangsung.

Tetapi, yang menarik adalah catatan penulis bahwa Abraham menyongsong tamu, bahkan sujud di hadapan mereka (lih. Kej. 18:2-5). Bukan tamu itu yang memohon untuk boleh beristirahat, tetapi Abraham sendirilah yang memohon.

Abraham menawarkan air untuk cuci kaki dan sepotong roti, namun yang diberikan Abraham adalah menyiapkan roti, daging, susu, dan yoghurt. Abraham memberi lebih dari yang ditawarkannya—dan semuanya serbaterbaik.

 

Marta

Demikian juga Marta. Tak beda dengan Abraham, Marta menerima Yesus dan rombongannya dengan baik (lih. Luk. 10.38). Jumlah rombongan itu pastilah tak sedikit. Sedikitnya ada 13 orang yang harus dijamu. Dan sebagai nyonya rumah, Marta pun langsung sibuk menyiapkan jamuan.

Awalnya serbamenyenangkan. Yesus berkunjung ke rumahnya. Pribadi yang sedang naik daun, dan selalu ditunggu kehadirannya oleh banyak orang itu, sedang berada di rumahnya. Karena itu, memberikan pelayanan terbaik merupakan keniscayaan. Dan itulah yang dilakukan Marta. Lukas mencatat bahwa ”Marta sibuk sekali melayani” (Luk. 10:40).

Tetapi, kesibukan melayani—dan keinginan memberikan yang terbaik—agaknya menjadi beban bagi Marta. Bebannya makin berat ketika menyaksikan bahwa Maria ternyata tidak membantunya. Marta mulai cemas jika harapan memberikan pelayanan terbaiknya bisa gagal. Dan ia pun mulai mengeluh, ”Tuhan, apakah Tuhan tidak peduli Maria membiarkan saya bekerja sendirian saja? Suruhlah dia menolong saya!”

Di titik inilah Marta jatuh. Dia tidak lagi melayani dengan rela hati. Anehnya, dia marah kepada Yesus yang dianggapnya tidak memedulikanya.

 

Butir Pembelajaran

Butir pembelajaran apakah yang bisa kita petik? Pertama, keramahtamahan merupakan hal yang penting ditanamkan dalam hidup. Keramahtamahan bukanlah sekadar basa-basi, tetapi tindakan pelayanan penuh aksi. Inti keramahtamahan adalah keinginan untuk memberikan yang terbaik.

Namun, kedua, kita perlu menjaga hati. Jangan sampai pelayanan itu malah menjadi beban yang berat. Kita harus mengembangkan sistem peringatan dini. Tandanya: kalau kita sudah mulai marah—ketika kita merasa nggak ada yang membantu—kita perlu hati-hati! Jika tidak, pelayanan itu menjadi kesibukan tanpa makna.

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home