Loading...
BUDAYA
Penulis: Ignatius Dwiana 13:56 WIB | Senin, 02 Desember 2013

Kethoprak Dor, Pertunjukan Kaum Jawa Perantau

Pertunjukan Kethoprak di Jawa. (Foto dari Wikipedia)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Kethoprak Dor adalah teater rakyat perantauan Jawa. Bentuk kesenian rakyat ini dikenal di kalangan masyarakat Jawa yang lahir di perantauan sebagai buruh di perkebunan di Tanah Deli, Sumatra Utara. Namun, kini penggemar Kethoprak Dor makin berkurang. Dalam pertunjukan di pergelaran ‘Cipta Budaya’ di Plaza Planetarium Taman Ismail Marzuki Jakarta pada Rabu (27/11), pertunjukan langka ini kembali dipentaskan.

Berbeda dengan Kethoprak di Jawa, Kethoprak Dor memiliki ciri khas yang tidak pernah akan ditemukan di Jawa. Alat musik untuk mengiringi pertunjukan Kethoprak Dor berupa harmonium dan dol, gendang besar. Beberapa kelompok Kethoprak juga tidak lagi menggunakan gamelan untuk mengiringi pertunjukan. 

eLMARS, Pionir Kethoprak Dor

eLMARS atau Langen Margi Agawe Rukun Santosa, bisa dikatakan sebagai sanggar Kethoprak Dor  tertua saat ini. berdiri pada pertengahan tahun 1950-an. Pada masa jayanya antara 1950-1960-an kelompok ini sangat dikenal. Di masa itu, eLMARS aktif berpentas keliling di pelbagai komunitas masyarakat Jawa kelahiran Sumatera (Pujakesuma) seperti di Langkat, Deli Serdang, Binjai, Asahan, Labuhan Batu, di samping kota Medan sendiri. Setiap pekan, ada saja pihak yang menanggap.

Kini kondisinya memang sudah sangat berubah. eLMARS sudah sangat jarang berpentas. Bahkan, dalam setahun, belum tentu mereka bisa berpentas meski hanya satu kali. Kelompok ini menjadi mati suri. Jangankan undangan berpentas rutin, tampil sekali setahun saja sudah sangat jarang. Bahkan banyak kalangan masyarakat Pujakesuma tidak mengenal jenis kesenian ini dan merasa asing mendengar namanya.

Kehadiran kelompok ini dalam Pergelaran Cipta Budaya Taman Ismail Marzuki adalah pentas utuh pertama kalinya secara lengkap. Baik kostum, alat musik, perlengkapan dukungan lain, serta bentuk aslinya, setelah beberapa tahun vakum.      

Dalam pertunjukan di pergelaran ‘Cipta Budaya’ di Plaza Planetarium Taman Ismail Marzuki Jakarta pada Rabu (27/11), eLMARS membawakan lakon berjudul ’Sri Dewa, Sri Betara, dan Sri Wati’.

Kisah ’Sri Dewa, Sri Betara, dan Sri Wati’

Kisah berawal dari kemurkaan Pendita Buono melihat tingkah anaknya Sri Dewa yang membawa lari adik perempuannya sendiri yang cantik, Sri Wati, turun dari kahyangan ke bumi untuk dikawininya. Pendita Buono lalu memerintahkan anaknya Sri Betara untuk turun ke bumi untuk menangkap Sri Dewa dan membawa lari Sri Wati ke kahyangan.

Perkelahian tidak terhindarkan antara dua bersaudara, Sri Betara dan Sri Dewa. Namun Pendito Buono lupa memberi Sri Betara senjata ampuh Keris Cangkang Balung saat memerintahkannya turun ke bumi. Sri Betara kalah dalam perkelahian itu. Dia disembur Sri Dewa yang merupakan keturunan bangsa Jin.  Sri Betara pun terlempar dan jatuh ke taman sari Traju Trisno.

Saat itu Santana Murti sedang bermain di taman bersama anaknya Sandika dan seorang puteri cantik bernama Ambarsari. Ambarsari terkejut melihat sosok Sri Betara yang tidak dikenalnya. Ambarsari murka taman sari kesayangannya yang ditumbuhi bunga warna-warni rusak dengan jatuhnya Sri Betara.

Sri Betara meminta maaf. Tetapi Ambarsari tidak mau menerima begitu saja. Dia mengajukan syarat agar Sri Betara memperbaiki Taman Sari. Tetapi Sri Betara tidak sanggup. Ambarsari yang diam-diam jauh cinta sejak pertama melihat kehadiran Sri Betara mengajukan syarat lain, Ambarsari bersedia memaafkan Sri Betara asal Sri Betara bersedia menikahinya. Sri Betara menyetujui. Tetapi dia meminta waktu karena harus menyelesaikan mandate orangtuanya untuk menangkap Sri Dewa. Ambarsari pun menyetujuinya.

Sementara itu Sri Dewa makin merajalela. Kehidupan masyarakat yang tadinya tenang dan damai menjadi kacau balau karena sifat jahat menguasai hatinya. Dia bertindak sewenang-wenang, merampok, membunuh, serta memperkosa. Pada saat suasana kacau balau itu Santana Muri sebagai pamong di bumi mendapat Keris Cangkang Balung yang sengaja dijatuhkan Pandito Buono dari kahyangan untuk mengamankan Arcapada.

Ketika Sri Betara bertemu dengan Santana Murti memiliki Keris Cangkang Balung, Sri Betara terkejut dan menuduh Santana Murti mencuri keris bapaknya. Maka terjadilah perkelahian antara keduanya dan Sri Betara kalah. Santana Murti lalu menjelaskan duduk persoalan sebenarnya. Sri Betara menyadari kekeliruannya dan meminta maaf. Keduanya lalu bergabung memerangi Sri Dewa.  

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home