Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 14:13 WIB | Minggu, 13 Desember 2015

Kotagede, Ibu Kota Keroncong Dunia

Kotagede, Ibu Kota Keroncong Dunia
Ayo Ngguyu... ha...ha...ha..., Pasar Keroncong Kotagede 2015, Sabtu (12/12). (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Kotagede, Ibu Kota Keroncong Dunia
Loring Pasar Legi Kotagede: Pasar dan Panggung.
Kotagede, Ibu Kota Keroncong Dunia
Pada sebuah lorong: stage dan backstage.
Kotagede, Ibu Kota Keroncong Dunia
Backstage: Titipan Lor Pasar.
Kotagede, Ibu Kota Keroncong Dunia
Pada sebuah gang: menuju Sopingen.
Kotagede, Ibu Kota Keroncong Dunia
Penyerahan penghargaan dari Kepala Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta Drs. Umar Priyono. M.Pd., kepada legenda hidup keroncong Kotagede Subarjo HS.
Kotagede, Ibu Kota Keroncong Dunia
The Legend: Subarjo HS.
Kotagede, Ibu Kota Keroncong Dunia
Endah Laras.
Kotagede, Ibu Kota Keroncong Dunia
Pada sebuah gang: Keroncong, Masjid Kotagede, dan makam raja-raja Mataram.
Kotagede, Ibu Kota Keroncong Dunia
Penonton: Loring Pasar.
Kotagede, Ibu Kota Keroncong Dunia
Penonton: Sopingen.
Kotagede, Ibu Kota Keroncong Dunia
Penonton: Sayangan.
Kotagede, Ibu Kota Keroncong Dunia
AdakalaNya.
Kotagede, Ibu Kota Keroncong Dunia
Tiga dunia Didik Nini Thowok: lawak, lagu, dan tari.
Kotagede, Ibu Kota Keroncong Dunia
Sinten Remen.
Kotagede, Ibu Kota Keroncong Dunia
OK. Erwina alis Rejowinangun diambil dari nama sebuah kelurahan di Kotagede.
Kotagede, Ibu Kota Keroncong Dunia
Sinten Remen. Siapa Suka?

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Tiga panggung, lima belas grup orkes keroncong featuring beberapa penyanyi Endah Laras, Didik Nini Thowok, Iga Mawarni, Subarjo HS, Shaggydog, dengan disaksikan tidak kurang 5.000 penonton, Pasar Keroncong Kotagede (PKK) 2015 yang baru pertama kali digelar menumbuhkan harapan baru: menghidupkan keroncong dalam irama yang mengalir dalam kehidupan dan kebersamaan di masyarakat serta memberikan pengalaman berkeroncong secara langsung.

"Kebersamaan akan menguatkan Yogyakarta. Yogyakarta akan selalu memberikan warna bagi Indonesia manakala kreasi dan kreativitas diberikan tempat." Drs. Umar Priyono. M.Pd., dalam sambutan PKK di panggung Loring Pasar, Sabtu (12/12).

Sutradara Garin Nugroho dalam sambutannya menceritakan sejarah panjang Kotagede. Kotagede adalah kota pertama kali di wilayah Jawa. Pasar (kota) Gede merupakan bangunan pertama kali di Kotagede. Karena tinggal di sebelah utara pasar itulah Panembahan Senopati bergelar Raden Ngabehi Loring Pasar. Subarjo HS yang asli Kotagede merupakan anak didik maestro keroncong Indonesia Kusbini, pada masanya menjuarai Bintang Radio dan TV.

"Pada masa itu kemenangan Subarjo HS merupakan peristiwa budaya yang luar biasa. Lagu keroncong Terang Bulan diinspirasi dari nama toko yang pertama kali dibangun tahun 1950-an di Kotagede yakni Terang Bulan, yang dalam perkembangannya menjadi HS Silver. Menghidupkan kembali keroncong di Kotagede tidak berlebihan, mengingat di sinilah lahir dan berkembangnya keroncong pada abad XX. Di Kotagede ini pula, keroncong berkembang secara beragam mulai dari moor, stambul, keroncong beat yang terpengaruh The Beatles, hingga dangdut." jelas Garin

Dari sejarah panjang keroncong di Indonesia, Prof. Dr Victor Ganap., M.Ed (akademisi/pengamat musik keroncong) membuat simpulan penting bahwa keroncong adalah musik asli Indonesia. Dan menjadikan Kotagede sebagai pusat keroncong dengan perjalanan panjang masyarakatnya berkeroncong tidaklah berlebihan. "Dari Kotagede kita bangun keroncong untuk Indonesia dan dunia." kata Victor Ganap.

Membayangkan di perempatan Pringgolayan memasuki Jalan Kemasan terpampang gapura besar bertuliskan "Selamat Datang di Kotagede. Ibukota Keroncong se-Dunia. |Sugeng Rawuh| |Selamat Datang| |Bienvenida| |Welcome| |Welkom| |Bienvenu|."  Mengapa tidak?

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home