Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 11:08 WIB | Minggu, 28 Februari 2021

Lebanon: Ribuan Pengunjuk Rasa Dukung Patriark Gereja Maronite

Bechara Boutros Al-Rai menyerukan konferensi internasional untuk menyelamatkan Lebanon dari krisis politik dan ekonomi.
Patriark Bechara Boutros al-Rai menyapa para pendukungnya menjelang pidato pada hari Sabtu (27/2) di Patriarkat Maronite di desa pegunungan Bkerki, timur laut Beirut. (Foto: AFP)

BEIRUT, SATUHARAPAN.COM-Ribuan orang Lebanon berunjuk rasa untuk mendukung pemimpin Kristen Lebanon, Patriark Bechara Boutros Al-Rai, yang menyerukan agar diselenggarakan konferensi internasional untuk mengambil tindakan menyelamatkan Lebanon, dan memungkinkan negara untuk memperluas otoritasnya atas seluruh wilayahnya.

Al-Rai telah menyerukan konferensi selama berbulan-bulan tanpa menunjuk langsung pada Hizbullah yang didukung Iran. Pekan lalu, pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah menyerang Al-Rai karena proposisinya, dan menambahkan bahwa konferensi tersebut akan membuka ruang untuk campur tangan asing.

Selama rapat umum, Al-Rai menyebutkan bahwa konferensi yang diusulkan harus memberikan dukungan kepada tentara Lebanon agar menjadi satu-satunya pembela negara. Ini merujuk pada milisi bersenjata kelompok gerakan Hizbulah, selain tentara nasional Lebanon.

Pengunjuk rasa Lebanon membawa potret Patriark Bechara Boutros al-Rai. (Foto: AFP)

 

Lebanon telah menghadapi krisis politik dan ekonomi akibat korupsi dan kesalahan manajemen selama beberapa dekade bersama tumbuhnya kekuatan Hizbullah yang didukung Iran di negara itu yang mengakibatkan isolasi negara kecil itu dari negar Arab sekutunya dan internasional.

Gereja Maronit selalu memainkan peran fundamental dalam sejarah Lebanon. Patriark Elias Hoayek memimpin delegasi Lebanon ke Konferensi Perdamaian Paris pada tahun 1919 yang menyerukan pembentukan negara Lebanon.

Mantan patriark Maronit Lebanon, Nasrallah Boutros Sfeir, memiliki peran utama dalam membentuk sistem politik Lebanon saat ini setelah perjanjian Taif yang mengakhiri perang saudara. Ia juga dianggap sebagai tokoh agama terkemuka yang mendorong penarikan militer Suriah dari Lebanon.

Pidato Al-Rai

Al-Rai meminta rakyat Lebanon untuk tidak tinggal diam tentang banyaknya loyalitas kepada negara-negara asing, pencurian uang mereka, solusi yang tidak jelas, dan pelanggaran wilayah udara Lebanon.

“Juga jangan tinggal diam tentang kegagalan kelas politik, atau tentang kekacauan penyelidikan kejahatan di pelabuhan, atau tentang politisasi peradilan, atau tentang senjata ilegal dan non Lebanon, atau tentang kudeta terhadap negara dan rezim," tambahnya.

Al-Rai menambahkan, jika cacat konstitusional telah diatasi, dia tidak akan menyerukan konferensi internasional untuk mencari solusi atas masalah yang melumpuhkan kerja konstitusi.

“Kami ingin konferensi internasional memperbarui dukungan untuk sistem demokrasi yang mengekspresikan kepatuhan Lebanon terhadap kebebasan, keadilan dan kesetaraan, dan kami ingin menyatakan“ netralitas Lebanon ”sehingga tidak lagi menjadi korban konflik dan perang dan perpecahan negeri,” kata Al-Rai menambahkan. 

Para pengunjuk rasa berkumpul untuk pidato Patriark Bechara Boutros Al-Rai pada hari Sabtu (27/2) di Maronite Patriarchate di desa pegunungan Bkerki, timur laut Beirut. (Foto: AFP)

 

Al-Rai menambahkan bahwa setiap perkembangan sistem politik tidak boleh mengorbankan apa yang telah disepakati orang Lebanon sejak berdirinya negara Lebanon.

“Kita memerdekakan negeri, jadi mari kita bebaskan negara dari segala hal yang menghalangi otoritas dan kinerjanya. Tidak ada dua negara bagian atau beberapa negara bagian di satu negeri, tidak ada banyak tentara di satu negara, dan tidak ada banyak orang di satu tanah air," Kata Al-Rai menambahkan.

“Pembangunan bukan berarti veto, tapi perbaikan, dan bukan berarti membatalkan piagam konstitusional, melainkan memperjelas ambiguitas di dalamnya untuk mengkonsolidasikan otoritas dan hak kita untuk hidup layak di tanah air kita,” tambah al-Rai.

Al-Rai menyebutkan, tujuan didirikannya negara Lebanon adalah untuk menciptakan entitas netral di timur ini yang akan menjadi penghubung dan jembatan antara Timur dan Barat. "Penyimpangan Lebanon dari kebijakan netralitas adalah alasan utama kejatuhannya melalui uji coba dan perang, dan setiap kali beberapa pihak berpihak pada poros regional dan internasional, rakyat terpecah dan konstitusi ditangguhkan," tambah Al-Rai.

Al-Rai menyimpulkan pernyataannya dengan mengatakan bahwa Lebanon dilahirkan untuk hidup di padang rumput perdamaian permanen, dan mereka menolak untuk hidup di medan perang permanen.

“Kita adalah anak-anak perdamaian, dan kita adalah orang-orang yang ingin semua sejarah mereka menjadi sejarah persahabatan, bukan permusuhan, dan keuntungan geografis Lebanon adalah hidup melalui komunikasi, bukan kebencian,” tambahnya. (Al Arabiya/AFP)

Editor : Sabar Subekti

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home