Loading...
INDONESIA
Penulis: Martahan Lumban Gaol 20:59 WIB | Rabu, 19 November 2014

“Megawati Mengejar Kursi Jakarta Dua”

Presiden Joko Widodo (kedua kiri), Ibu Negara Ny. Iriana Widodo (tengah), Wapres Jusuf Kalla (ketiga kanan), Ibu Mufidah Kalla (kedua kanan) dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri (kanan) berfoto bersama dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (kiri) dan Isteri Ny. Veronica Tan Basuki (ketiga kiri) usai pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (19/11). Basuki Tjahaja Purnama menjadi gubernur pertama yang dilantik langsung oleh Presiden Joko Widodo sesuai Pasal 163 ayat 1 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) tentang pemilihan kepala daerah. (Foto: Antara)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Pengamat Hukum Tata Negara dari Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi (SIGMA) M Imam Nasef menilai kehadiran Megawati Soekarnoputri dalam acara Pelantikan Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur DKI Jakarta, di Istana Negara, Rabu (17/7), membawa sinyal politik agar sosok yang akrab disapa Ahok tersebut mau menempatkan kader PDI Perjuangan untuk menghuni “Kursi DKI Jakarta Dua”.

“Secara politis, kehadiran Megawati pada pelantikan Ahok bisa jadi bertujuan untuk mencuri hati Ahok agar mau menempatkan kader PDI Perjuangan sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta,” kata dia lewat pesan singkat kepada satuharapan.com, di Jakarta, Rabu (19/11).

Meskipun pada awalnya kehadiran orang nomor satu PDI Perjuangan tersebut tampak wajar, karena sosok yang saat ini menguasai istana memang berasal dari partai yang dipimpinnya. “Jadi ini bentuk penghormatan terhadap beliau,” kata dia.

Namun  Imam menegaskan dalam politik tidak ada makan siang gratis. Seperti  santer terdengar, Boy Sadikin digadang oleh PDI Perjuangan untuk maju sebagai calon pendamping Ahok. Sebab, dengan berlakunya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Kepala Daerah, Gubernur memiliki kewenangan memilih wakilnya.

“Jadi, PDI Perjuangan sangat berkepentingan untuk meluluhkan dan memikat hati Ahok agar kadernya bisa menduduki kursi DKI Jakarta dua,” ujar dia.

Ahok Butuh Amunisi

Di lain sisi, lanjut Imam, Ahok sebenarnya membutuhkan dukungan politik dari PDI Perjuangan, sebab sulit bagi Ahok melaksanakan tugas sebagai Gubernur DKI Jakarta tanpa dukungan politik yang cukup, apalagi saat ini Ahok seorang profesional pasca-pengunduran dirinya dari Partai Gerindra.

“Dukungan yang diberikan PDI Perjuangan kepada Ahok, salah satunya dengan kehadiran Megawati pada acara pelantikan itu bisa menghasilkan mutual benefit antara keduanya,” ujar dia.

“Tentu sebagai amunisi Ahok dalam menjalankan roda Pemerintahan di DKI Jakarta,” Pengamat Hukum Tata Negara dari SIGMA itu menambahkan.

Megawati Dukung Ahok

Ketika dikonfirmasi, Ketua DPP PDI Perjuangan Andreas Hugo Pareira  mengatakan kehadiran Megawati tersebut merupakan keinginan Ketua Umum PDI Perjuangan tersebut untuk memberi dukungan moral pada Ahok.

“Ibu Megawati hadir di pelantikan Pak Ahok tadi siang karena memenuhi undangan, kan tidak mungkin kalau datang tanpa undangan,” kata dia.

Ia menyampaikan Megawati juga ingin mendukung Ahok agar dapat saling bahu-membahu dengan Presiden RI Joko Widodo dalam membangun DKI Jakarta. “Ini adalah Ibukota Indonesia yang mempunyai wilayah politis, sosial, budaya, dan ekonomi yang sangat strategis untuk kepentingan bangsa dan negara,” ujar dia.

Saat ditanya mengenai pendamping Ahok dalam memimpin DKI Jakarta ke depannya, Andre hanya menyampaikan akan membicarakan semuanya bersama lebih dahulu, namun hal terpenting adalah dapat bekerja sama dengan Ahok dalam menjalankan roda pemerintahan di Ibukota Republik Indonesia.

“Kita akan bicarakan semua prosesnya bersama-sama, agar tidak menyinggung perasaan antar partai politik, karena kita ingin mencari solusi,” dia menegaskan.

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home