Loading...
OLAHRAGA
Penulis: Prasasta Widiadi 13:03 WIB | Rabu, 29 Januari 2014

Michael Schumacher Jalani Terapi Otot

Michael Schumacher (foto dari telegraph.co.uk)

GRENOBLE, SATUHARAPAN.COM – Mantan pebalap Formula 1, Michael Schumacher, pada Selasa (28/1) menjalani terapi otot. Terapi itu dilakukan untuk menghindari kekakuan pada jaringan otot mengingat sudah memasuki minggu kelima sejak menjalani perawatan di Rumah Sakit Grenoble, Prancis, ia tidak bergerak.

Dokter Profesor Heinzpeter Moecke mengatakan pasien yang dalam keadaan lemah dan koma harus senantiasa bergerak. “Pasien dalam koma perlu diberikan terapi menggerakkan tungkai dan sendi bergerak setiap hari untuk memastikan otot-otot tidak kaku,” kata Heinzpeter.

Beberapa pengamat mengatakan Schumacher akan berada dalam keadaan yang berbeda apabila ia nantinya sadar dari koma. Tindakan terapi untuk merangsang otak dari keadaan koma tersebut biasanya berlangsung hanya maksimal dua minggu.

Sebuah situs Austria mengatakan Schumacher (45) kemungkinan menderita Sindrom Apallic, suatu kondisi otak statis permanen.

Jean-Marc Orgogozo, ahli neurologi dari Universitas Bordeaux, Prancis, menjelaskan seorang penderita koma harus memperhitungkan kesempatan hidupnya.

“Setiap hari, setiap minggu, orang dalam keadaan koma walau kondisi badan dalam menurun, kondisi psikologisnya harus senantiasa membaik,” kata Orgogozo.

Corinne, istri Schumacher, mengatakan saat ini ia dan keluarganya tidak dapat menutupi fakta bahwa dalam keadaan koma saat ini Schumacher jauh dari kemungkinan sembuh.

Keadaan vegetatif persisten adalah keadaan di mana seorang pasien menderita kerusakan otak yang parah, dan tidak dapat mengenali lagi sebagian besar identitas dalam dirinya, dan juga tidak dapat memahami kesadaran di dirinya.

Apabila dokter dari rumah sakit mengatakan ia dalam keadaan koma, saat sembuh nantinya ia akan kesulitan berbicara, bergerak, atau mengurus diri sendiri.  

Schumacher menderita koma setelah kecelakaan saat bermain ski pada akhir Desember 2013.

Selain mengalami keadaan vegetatif persisten, Schumacher menderita Sindrom Apallis yang merupakan bagian dari cedera otak dan kemungkinan sembuh di bawah 50 persen.

Dukungan bagi Schumacher

Sebastian Vettel yang menjalani tes resmi pertama Formula One (F1) di Sirkuit Jerez, Spanyol, 28-31 Januari 2014 berharap untuk kesembuhan Michael Schumacher.

Vettel sangat terkejut ketika pertama kali mendengar berita kecelakaan ski yang dialami teman dekatnya setelah Natal tersebut.

“Kecelakaan itu mengerikan, terutama untuk keluarga dan teman-teman dekat yang tidak tahu apa yang akan terjadi,” kata Vettel.

Ia berharap Schumacher akan kembali ke keadaan semula, sehat seperti sediakala. “Saya telah lama mengenalnya. Ia sosok panutan dalam hidup saya,” kata Vettel. (independent.ie/dailymail.co.uk)

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home