Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 11:36 WIB | Jumat, 10 Maret 2017

Mindi, Peluruh Kencing dan Antibakteri

Mindi (Melia azedarach). (Foto: fairfun.net)

SATUHARAPAN.COM – Mindi kerap kali ditanam di sisi jalan sebagai pohon pelindung, selain tumbuh liar di daerah-daerah dekat pantai. Mengutip dari Wikipedia, pohon yang tumbuhnya cepat dan berasal dari Tiongkok, Burma, dan India ini, dapat ditemukan dari dataran rendah sampai pegunungan berketinggian 1.100 meter di atas permukaan air laut.

Tanaman mindi  sepintas mirip dengan pohon mimba. Mindi (Melia azedarach) dan mimba (Azadirachta indica, L.) sekilas tampak sama, dan banyak orang yang sering salah membedakannya.

Kedua tumbuhan itu sebenarnya berbeda secara taksonomi. Namun, kandungannya hampir sama dan sering digunakan dalam pembuatan pestisida nabati. Kandungan racun dalam mimba cenderung lebih tinggi daripada mindi. Berdasarkan bentuk daunnya. Daun tanaman nimba lebih bergerigi dan tidak mengkilat, sedangkan mindi daunnya mengkilat dan tidak mempunyai gerigi pada bagian tepiannya.

Buah, kulit akar, dan kulit kayu mindi, seperti dikutip dari ums.ac.id, rasanya pahit, sedikit beracun (toksik), dan berkhasiat sebagai peluruh kencing (diuretik), pencahar (laksatif), perangsang muntah, peluruh cacing usus (anthelmintik), mengaktifkan energi vital guna meredakan nyeri, dan sebagai obat luar berkhasiat anti jamur. Daun berkhasiat peluruh kencing (diuretik) dan peluruh cacing usus. Seluruh tanaman berkhasiat sebagai pembunuh serangga.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan tim peneliti dari Lord Shiva College of Pharmacy, Sirsa, Haryana, India, seperti dikutip dari Journal of Applied Pharmaceutical Science Vol 3 (12), pp. 133-138, Desember 2013, seluruh tanaman atau bagian-bagian tertentu (daun, batang, dan akar) diketahui memiliki sifat obat.

Tumbuhan mindi memiliki sejarah panjang dalam hal pemanfaatan oleh masyarakat adat dan suku di India. Mindi digunakan sebagai pengobatan ayurveda di India, dan obat-obatan Unani di negara-negara Arab sebagai antioksidan, analgesik, antiinflamasi, insektisida, rodentisidal, antidiare, deobstruent, diuretik, antidiabetes, katarsis, muntah, antirematik, dan antihipertensi.

Morfologi Mindi

Mindi seperti dikutip dari ums.ac.id, memiliki banyak cabang, dan mempunyai kulit batang berwarna cokelat tua, dengan tinggi mencapai 4 meter.

Daunnya majemuk, menyirip ganda, tumbuh berseling dengan panjang 20-80 cm. Anak daun bentuknya bulat telur sampai lanset, tepi bergerigi, ujung runcing, pangkal membulat atau tumpul, permukaan atas daun berwarna hijau tua, bagian bawah hijau muda.

Bunganya bunga majemuk dalam malai yang panjangnya 10-20 cm, keluar dari ketiak daun. Daun mahkota berjumlah 5, warnanya ungu pucat, dan berbau harum.

Buahnya buah batu, bulat, berdiameter sekitar 1,5 cm. Jika masak warnanya cokelat kekuningan, dan berbiji satu. Perbanyakan dengan biji. Biji sangat beracun dan biasa digunakan untuk meracuni ikan atau serangga. Daun yang dikeringkan di dalam buku bisa menolak serangga atau kutu.

Mindi, dikutip dari Wikipedia adalah tanaman pohon dari famili Meliaceae. Mindi memiliki nama ilmiah Melia azedarach, Linn.

Mindi juga dikenal sebagai renceh (Sumatera) dan gringging, cakra-cikri (Jawa). Dalam bahasa Inggris, mindi disebut chinaberry atau china tree. Nama lain adalah may rien (Vietnam), ku lian zi (Tiongkok), lilas fleurs (Prancis), dan dalam bahasa Hindi disebut bakain atau drek. Di Amerika Selatan tumbuhan ini umumnya dikenal sebagai paraiso, atau surga, dan di AS disebut lilac india atau cedar putih.

Tumbuhan ini banyak ditanam di daerah tropis maupun subtropis. Di Indonesia, tumbuhan ini banyak ditanam di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan Irian Jaya.

Mindi merupakan salah satu jenis pohon cepat tumbuh dari famili Meliaceae. Jenis ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman, khususnya hutan tanaman rakyat, karena sifat multimanfaatnya.

Menurut Balitbanghut tahun 2009, dikutip dari ipb.ac.id, mindi memiliki kayu yang cocok digunakan sebagai kayu alternatif pengganti kayu-kayu komersial. Daun, akar, kulit, bunga, dan daun mindi juga dapat dimanfaatkan sebagai obat-obatan dan pestisida alami.

Mindi memiliki tiga kandungan zat yang bermanfaat yaitu azadirachtin, selanin, dan meliantriol. Selain itu, kemampuan adaptasi mindi yang tinggi memudahkan tanaman ini untuk tumbuh pada berbagai kondisi lingkungan.

Khasiat Herbal Tanaman Mindi

Menurut Sugati Syamsuhidayat dan JR Hutapea dalam bukunya Inventaris Tanaman Obat Indonesia (1991) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI, daun, buah, dan biji mindi mengandung saponin, flavonoid, dan polifenol.

Di samping itu daun dan buahnya juga mengandung alkaloida. Mindi, dikutip dari ums.ac.id, disebut juga sebagai tanaman obat, karena hampir semua bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai obat. Secara empirik daun mindi berkhasiat sebagai obat nyeri perut, obat kencing manis, dan menambah nafsu makan.

Khasiat mindi, menurut Setiawan Dalimartha (2001), dalam bukunya Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, antara lain untuk obat diuretik dan peluruh cacing. Daun segarnya bisa menghilangkan sakit kepala.  

Kulit batang dan kulit akar mindi kecil, menurut Wikipedia mengandung toosendanin, margoside, kaemferol, resin, tannin, dan trirterpene kulinone, sehingga dapat digunakan menyembuhkan cacingan dan hipertensi. Namun, kulit akar tumbuhan ini bersifat beracun dan bisa merangsang muntah. Tumbuhan mindi kecil sering menggantikan mimba. Tapi, manfaat mimba sendiri lebih luas ketimbang mindi.

Menurut penelitian, sifat antelmintik (menghilangkan cacing) bekerja lebih lama ketimbang santonin. Selain itu, infus kulit kayu tumbuhan ini membuat cacing kremi dari tikus lumpuh. Toosendanin tumbuhan ini juga menimbulkan depresi pernapasan.

Tim peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, meneliti efek analgetik etanol daun mindi pada mencit putih jantan galur swiss. Hasilnya menunjukkan ekstrak etanol daun mindi memberikan efek analgetik yang hampir sama dengan parasetamol.

Tim peneliti dari Centro de Excelencia en Procesos y Productos de Córdoba (Ceprocor), Córdoba, Argentina, meneliti tentang efek antijamur ekstrak daun mindi. Hasil penelitian menunjukkan hasil ekstrak dari berbagai bagian mindi menunjukkan aktivitas fungistatik terhadap Aspergillus flavus, Diaporthe phaseolorum var. meridionales, Fusarium oxysporum, Fusarium solani, Fusarium verticillioides, dan Sclerotinia sclerotiorum.

Tim peneliti dari Kedokteran Gigi, Universitas Passo Fundo, Brasil, dalam studinya tentang ekstrak kasar (CEX) daun dan kulit batang mindi, menunjukkan hasil aktivitas antibakteri yang signifikan terhadap S. mutans, dan berpotensi sebagai antibiotik.

Tim peneliti Departemen Farmakognosi Institut Farmasi Universitas Bundelkhand Jhansi, Uttar Pradesh, India, yang meneliti pengaruh antihiperglikemik dari ekstrak daun mindi pada tikus diinduksi antidiabetik, menyimpulkan pengaruh ekstrak daun mindi telah menurunkan secara signifikan kadar glukosa darah pada tikus yang diinduksi diabetes.

Tim dari jurusan farmakologi dan bioteknologi, Institut Farmasi Nizam Hyderabad India, melakukan studi untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan analisis fitokimia daun ekstrak mindi. Skrining fitokimia pada ekstrak daun Melia azedarach, mengungkapkan adanya beberapa bahan aktif seperti alkaloid, tanin, saponin, fenol, glikosida, steroid, terpenoid, dan flavonoid. Hasil penelitian itu menunjukkan ekstrak etanol daun mindi, mengandung senyawa fenolik tinggi, dan memiliki aktivitas antioksidan besar.  

Tim peneliti Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi-Bandung Jawa Barat, meneliti efek antidiare ekstrak etanol kulit batang mindi. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol dari kulit batang mindi memiliki efek antidiare.

Editor : Sotyati


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home