Loading...
INDONESIA
Penulis: Prasasta Widiadi 07:33 WIB | Selasa, 03 Desember 2013

Muhammadiyah Disaster Management Centre Ingin Kembali Kirim Tim Atasi Korban Haiyan

Muhammadiyah Disaster Management Centre Ingin Kembali Kirim Tim Atasi Korban Haiyan
dr. Zuhdiyah Nihayati (kiri), dr. Corona Rintawan (kanan) dua dari anggota tim MDMC yang membantu korban topan Hayyan di Filipina. (foto-foto: Prasasta)
Muhammadiyah Disaster Management Centre Ingin Kembali Kirim Tim Atasi Korban Haiyan
Choirul Muttaqin (kiri, LazisMU), Arif (kanan,Sekretaris MDMC).

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) selaku pelaku utama misi kemanusiaan organisasi Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah berniat untuk kembali meluncurkan keberangkatan tim medis MDMC ke lokasi bencana topan Haiyan.

Hal ini dikemukakan Arif selaku Sekretaris MDMC pada keterangan pers seputar aktivitas MDMC di daerah bencana Topan Haiyan Filipina. Penyampaian keterangan pers dilakukan di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Senin (2/12) siang.

“Kami dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) menyerukan kepada kawan-kawan di Indonesia, kami ingin mengusahakan mengirimkan tim kembali,” menurut Arif.

Beberapa saat lalu dalam kesempatan terpisah, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsudin mengatakan, tim medis Muhammadiyah (MDMC) akan dibagi dua tahap keberangkatan.

“Tim pertama direncanakan akan berangkat pada 18 November hingga 1 Desember 2013 mendatang. Sedangkan, tim kedua akan berangkat pada 30 November hingga 14 Desember 2013," kata Din.

Arif mengatakan saat ini salah satu alasan kuat mengirim ke Filipina yakni kesamaan kultur sebagai sesama negara Asia Tenggara.

“Salah satu alasannya yakni kultur kita hampir sama, bantu membantu sesama negara Asia Tenggara, dan kamilah yang pertama datang dari Indonesia untuk membantu secara medis di Ormoc (Pulau Leyte) dan Tuburan (Pulau Cebu) tersebut sebagai wilayah terparah, sementara di sekeliling kami malah lebih banyak lembaga-lembaga lain (yang berasal) dari Eropa, dan Amerika,” lanjut Arif.

Sementara itu dr. Corona Rintawan salah satu anggota MDMC mengatakan kondisi di kedua pulau paling terdampak, Pulau Cebu dan Pulau Leyte sangat membutuhkan dukungan kesehatan secara fisik maupun secara finansial.

“Kondisinya di sana (P.Leyte dan P.Cebu) sangat berbeda, tidak ada ormas (organisasi kemasyarakatan), dan tidak ada relawan-relawan dari daerah lain yang siap sedia membantu, sehingga kita dari MDMC mengalami kesulitan untuk menyalurkan bantuan,” kata dr. Corona.

Dr. Corona mengatakan saat ini pihaknya membutuhkan dukungan banyak pihak untuk membantu pelayanan kesehatan.

“Kami menghimbau kawan-kawan di Indonesia, untuk tidak hanya MDMC (yang berangkat ke Filipina), akan tetapi tetapi (diharapkan ada) tim-tim lain untuk aktif membantu tenaga pelayanan kesehatan,” lanjut dr. Corona.

MDMC mengadakan jumpa pers ini sebagai bentuk pertanggung jawaban kepada masyarakat, dan dengan harapan melalui media di Indonesia misi kemanusiaan dan kebutuhan medis bagi korban topan Haiyan.

Pulau Leyte Paling Parah

Pada kesempatan tersebut dr. Corona Rinthawan selaku salah satu anggota tim medis MDMC mengemukakan kondisi yang paling parah, apabila harus membandingkan antara Pulau Cebu dan Pulau Leyte, maka Pulau Leyte paling parah kerusakan yang pernah mereka saksikan.

“Di Pulau Leyte itu yang paling parah yang pernah kami lihat. Kalau mau mbayangin begini aja deh, rekan-rekan media bayangkan saja bagaimana jadinya kalau seluruh Pulau Sumatera lumpuh total, tidak hanya Aceh saja, lumpuh total dalam arti tidak ada aktivitas ekonomi, dan energi (listrik) tidak mengalir. Jadi memang infrastruktur, dan sarana, prasarana habis,” kata dr. Corona.

Karena kondisi parah tersebut tidak memungkinkan MDMC untuk berlama-lama di Filipina sementara logistik kesehatan menipis, oleh karena itu dr. Corona berharap ada bantuan dari tim-tim kesehatan lain selain MDMC.

Data MDMC

Berdasarkan data MDMC yang ditulis dalam keterangan rilis pers MDMC berhasil menangani 1129 pasien dalam tujuh hari efektif pelayanan (23/11 hingga 30/11)di Filipina.

Setidaknya 11.160.000 penduduk Filipina terkena dampak bencana Topan Haiyan, 3.540.000 jiwa mengungsi, 1.100.000 unit rumah rusak, 5.000 lebih jiwa meninggal dunia, dan 1.613 jiwa hilang. 

MDMC memperoleh sokongan dana dari LAZIS MU(Lembaga Amil Zakat Infak Shadaqah Muhammadiyah) yang bertugas menghimpun dana di tanah air guna kelangsungan pendanaan bagi MDMC.

Rute Perjalanan MDMC

MDMC di bawah kendali PP Muhammadiyah diberangkatkan pada (18/11) dari Jakarta, dan diresmikan oleh Din Syamsudin (Ketua PP Muhammadiyah) dengan rute perjalanan berangkat dari Jakarta pada (18/11), dan tiba di Manila pada (19/11), dari Manila pada hari yang sama tim MDMC melanjutkan perjalanan menuju ibu kota Pulau Cebu, Cebu City.

Keesokan harinya (20/11) tim bertolak menuju Tuburan (masih di Pulau Cebu) untuk memberi pelayanan kesehatan hingga (23/11), dan dengan perjalanan darat dari Tuburan menuju daerah pelabuhan Bogo, dan tiba pada (24/11).

Pada (24/11) tim melanjutkan perjalanan dengan jalur laut dari Bogo (Pulau Cebu) menuju Palompon (Pulau Leyte), dan di hari yang sama mereka melanjutkan dengan perjalanan darat menuju Ormoc City untuk melakukan pelayanan kesehatan di daerah paling parah tersebut mulai dari (24/11) hingga (28/11), MDMC melakukan pelayanan kesehatan dan medis dengan berkoordinasi Dinas Kesehatan Ormoc City (Department of Health Regional 8).

MDMC kembali ke tanah air dengan rute, (28/11) pukul 23:00 mereka meninggalkan Pulau Leyte dengan menggunakan jalur laut hingga tiba di Cebu City (Pulau Cebu) keesokan harinya (29/11) pukul 05:00, baru kemudian mereka terbang kembali ke tanah air dengan rute Cebu City-Manila-Jakarta pada (30/11) dengan berkoordinasi Dinas Kesehatan Cebu City (Department of Health Regional 7).  

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home