Loading...
RELIGI
Penulis: Sabar Subekti 16:39 WIB | Jumat, 11 September 2015

NIIS: Migrasi ke Eropa Dosa Besar

Seorang anak pengungsi menangis saat ia duduk di dalam bus yang dipenuhi hingga sesak oleh para pengungsi serta imigran menuju stasiun metro dan kereta api, setelah turun dari kapal feri yang disewa pemerintah di pelabuhan Piraeus, Athena, 8 September 2105. Lebih dari 230.000 orang mendarat di pantai Yunani tahun ini dan angka tersebut melonjak dalam beberapa pekan terakhir ketika banyak orang berusaha memanfaatkan keuntungan cuaca musim panas yang tenang. AFP PHOTO/ LOUISA GOULIAMAKI

SATUHARAPAN.COM – Warga Muslim melarikan diri ekstrimis dan kekerasan di negara mereka menuju ke negara Eropa disebutkan sedang melakukan sebuah 'dosa besar,' menurut sebuah majalah yang diterbitkan oleh kelompok Negara Islam, Dagiq, seperti dikutip oleh situs berita Al Araby Al Jadeed, Kamis (10/9).

Disebutkan, Muslim yang melarikan diri dari kekerasan, perang dan penindasan dan menuju ke Eropa tengah berbuat dosa besar dengan mengekspos anak-anak mereka kepada ateisme, obat-obatan, alkohol dan seksual yang permisif, kata majalah itu

Seperti diketahui, ratusan ribu orang telah melarikan diri perang di Timur Tengah tahun ini. Kebanyakan mereka berasal dari wilayah yang dikuasai atau terancam oleh Negara Islam, yang juga disebut Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS atau Islamic State of Iraq and Syria).

Mereka telah menyeberangi Laut Mediterania ke Eropa dengan kapal kecil yang kadang-kadang tenggelam akibat kelebihan muatan atau diterjang gelombang besar. Ratusan orang meninggal, termasuk karena keadaan yang buruk.

Arus migrasi ini merupakan yang terbesar sejak Perang Dunia II, 70 tahun lalu. Sebagian besar pengungsi berasal dari Suriah, Irak dan Libya, negara yang sering dilanda konflik bersenjata, dan melibatkan NIIS.

"Disayangkan, beberapa orang Suriah dan Libya bersedia mengambil risiko nyawa dan jiwa ... anak-anak mereka, mengorbankan banyak dari mereka selama perjalanan berbahaya ke tanah tentara perang salib yang diperintah dengan hukum ateisme dan ketidaksenonohan," kata majalah NIIS, Dabiq.

Disebutkan oleh Al Araby Al Jadeed bahwa sebagian besar keluarga yang melarikan diri ke Eropa berasal dari daerah di bawah kendali Presiden Suriah, Bashar al-Assad, atau dari daerah Kurdi yang tengah melawan NIIS.

Namun menurut  majalah dari NIIS, yang menyebut diri sebagai khalifah dan menguasai sebagian wilayah Irak dan Suriah di mana terdapat sekitar 10 juta warga, orang-orang yang meninggalkan daerahnya tengah melakukan "dosa besar".

"Perlu diketahui bahwa secara sukarela meninggalkan Darul-Islam (negeri Islam) menuju Darul -kufur (tanah kafir) adalah dosa besar yang berbahaya, karena merupakan bagian menuju kekufuran (kekafiran) dan gerbang bagi anak-anak dan cucu meninggalkan Islam menjadi Kristen, ateisme, atau liberalisme," kata majalah itu.

Majalah Dabiq menambahkan bahwa migrasi ke tanah Kristen mengekspos anak-anak atau cucu pada "ancaman konstan percabulan, sodomi, obat-obatan, dan alkohol".

"Jika mereka tidak jatuh ke dalam dosa, mereka akan melupakan bahasa Al-Quran, Arab,  yang mengelilingi hidup di Suriah, Irak, Libya, dan di tempat lain, membuat kembali kepada agama dan ajaran-ajarannya menjadi lebih sulit," kata majalah itu.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home