Loading...
HAM
Penulis: Sabar Subekti 09:10 WIB | Kamis, 10 September 2015

Angelina Jolie: NIIS Gunakan Kekerasan Sebagai ''Kebijakan''

Angelina Jolie dan pengungsi Irak di Baghdad. (Foto: dok / un.org)

LONDON, SATUHARAPAN.COM – Aktris Hollywood, Angelina Jolie, memperingatkan bahwa Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS) menggunakan pemerkosaan sebagai senjata perang pada skala yang belum pernah terlihat sebelumnya. Dia juga menyerukan perlunya aksi yang lebih besar terhadap mereka yang bertanggung jawab.

Jolie adalah utusan khusus dari Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) dan dia aktif berkampanye melawan penggunaan kekerasan seksual dalam konflik. Jolie mengatakan, Negara Islam yang juga disebut ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) menggunakan pemerkosaan sebagai "kebijakan"  mereka.

Menurut PBB dan kelompok hak asasi manusia, ribuan perempuan dan anak perempuan diculik, diperkosa dan dijual dalam perbudakan seksual oleh NIIS sejak kelompok itu  menyatakan sebagai khalifah Islam di wilayah Suriah dan Irak pada musim panas lalu.

"Kelompok teroris paling agresif di dunia saat ini... menggunakan (perkosaan) sebagai titi utama gerakan teror mereka dan cara mereka menghancurkan masyarakat dan keluarga," kata Jolie kepada komite parlemen Inggris, hari Selasa (8/9) seperti dikutip Christian Today.

Aktris pemenang Oscar itu bersama mantan menteri luar negeri Inggris, William Hague, pada tahun 2012 meluncurkan inisiatif untuk mencegah kekerasan seksual dalam konflik. Dia berbicara tentang gadis-gadis yang ditemuinya di zona perang yang telah diperkosa.

Dalam kasus ini termasuk gadis Irak berusia 13 tahun yang katanya diperkosa berulang kali bersama dengan teman-temannya dan dijual dengan harga sekitar 26 poundsterling.

Sebagai bagian dari kampanye mereka melawan kejahatan seks dalam perang, Jolie dan Hague pada tahun 2013 meluncurkan deklarasi berjanji untuk mengejar mereka yang bertanggung jawab dan memberikan keadilan dan keamanan bagi para korban. Janji itu telah ditandatangani oleh lebih dari 150 negara.

Perkosaan sebagai Kebijakan

Tahun lalu Konferensi Tingkat Tinggi pertama di dunia tentang pada kekerasan seksual dalam konflik diselenggarakan di London dan dihadiri wakil dari 150 negara. KTT bertujuan untuk menanggulangi kekerasan seksual dalam konflik dengan  prioritas mengakhiri budaya impunitas bagi mereka yang bertanggung jawab.

Berbicara di sebuah komite parlemen untuk memberikan bukti tentang dampak dari inisiatif yang telah berjalan tiga tahun, Jolie mengatakan Negara Islam Irak dan Suriah memaksakan pemerkosaan "sebagai kebijakan" di Suriah dan Irak. "Ini adalah hal yang di luar yang kita lihat sebelumnya," kata Jolie.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home