Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 23:41 WIB | Selasa, 20 Oktober 2015

Pameran Nandur Srawung #2 Usai

Membakar naga Na' Galau Klinthing, mewujudkan Jogja Tanpa Korupsi
Pameran Nandur Srawung #2 Usai
Yono (berbaju rompi hitam) dan Imam B Rastanagara (ikat kepala warna putih) dari Kelompok Antaboga (Yogyakarta) mempersiapkan perform musik Cokromanggilingan dalam acara penutupan Nandur Srawung #2 di pelataran Taman Budaya Yogyakarta, Selasa (20/10). (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Pameran Nandur Srawung #2 Usai
Jogja Tanpa Korupsi.
Pameran Nandur Srawung #2 Usai
Perform musik Cokromanggilingan mengiringi tarian Tayub di acara penutupan Nandur Srawung #2.
Pameran Nandur Srawung #2 Usai
Njathil, beraksi sekaligus mempersiapkan diri untuk membakar naga Na' Galau Klinting.
Pameran Nandur Srawung #2 Usai
Membakar naga Na' Galau Klinting, membakar lilitan praktik korupsi.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Dalam perhelatan Nandur Srawung #2, Kelompok Antaboga yang diantaranya digawangi perupa Imam B Rastanagara dan Yono menampilkan karya instalasi Na' Galau Klinthing. Karya instalasi yang merupakan kolaborasi ide sepuluh perupa yang sehari-hari banyak beraktivitas di seputaran Tourism Information Center (TIC) Malioboro Yogyakarta. Karya Na' Galau Klinthing dipasang di pelataran parkir Taman Budaya Yogyakarta tepat di depan pintu masuk lobby ruang Pamer TBY selama Nandur Srawung #2 berlangsung 14-20 Oktober 2015.

Karya seni instalasi berbentuk naga yang dibuat dengan memanfaatkan bagor (keranjang bambu) menjadi eye catching pada malam hari dalam balutan tembakan lampu sorot. Tidak kurang seratusan bagor diperlukan untuk membentuk Na' Galau Klinthing. Suasana sekitar karya menjadi terasa semakin mistis dengan bakaran kemenyan dalam angklo tanah dan tebaran bunga mawar-melati.

Dalam proses pembuatan karya, Na' Galau Klinthing mengambil ide dari cerita legenda Baru Klinthing, senjata pusaka yang selalu menyertai Ki Ageng Mangir Wanabaya. Dalam keterangan pada Rabu (14/10) Imam  menjelaskan, karya Na' Galau Klinthing mengandung empat unsur yakni cerita legenda Baru Klinthing, unsur api yang ada pada karya melambangkan kekuatan dan semangat yang membara, dan juga kaitannya dengan gunung Merapi, motif batik Semen/Larangan, serta gunungan wayangan.

Unsur Semen/Larangan sendiri mengandung ornamen meru/gunung, ornamen lidah api, ornamen kapal laut, ornamen burung, ornamen binatang darat, pusaka, tahta/dampar, pohon, serta sayap garuda. Keseluruhan motif melambangkan kesuburan.

Jogja Tanpa Korupsi

Baru Klinthing sendiri dikisahkan sebagai legenda tombak yang merupakan titisan dari Naga Baru Klinting yang dihukum ayahnya (Ki Ageng Mangir Wanabaya) karena gagal melingkari Gunung Merapi. Saat Baru Klinting melingkari Gunung Merapi dengan tubuhnya ternyata masih kurang sedikit, sehingga dia pun menjulurkan lidahnya agar bisa menyentuh ujung ekornya. Saat itulah Ki Ageng Mangir memotong lidah Baru Klinthing, dan potongan lidah itu berubah menjadi sebuah mata tombak yang diberi nama tombak Kiai Baru Klinthing.

Diluar adopsi karya Baru Klinthing, pada gunungan terdapat pesan yang disampaikan kelompok Antaboga: Jogja tanpa Korupsi. Praktik korupsi yang melilit bangsa ini hampir di semua lini, tidak terkecuali dalam ranah kesenian menjadi keprihatinan bersama yang secara nyata membuat terpuruknya bangsa ini dalam berbagai krisis multi-dimensi. Interpretasi atas karya ini tidak semata-mata terhenti pada cerita legenda ataupun estetika karya, namun bagaimana karya ini berusaha untuk membuka kesadaran baru tentang realitas praktik korupsi yang masif terjadi di Indonesia dan itu yang harus diperangi bersama, imbuh Imam.

Jogja Tanpa Korupsi seolah mengiringi gerak langkah serupa Jogja Ora Didol, Jogja Asat, Jogja Kangen KPK. Gerak masyarakat dalam menjaga kota yang dicintainya.

Pada penutupan Nandur Srawung #2 Selasa (20/10) malam, Antaboga mementaskan perform musik Cokromanggilingan dengan menggunakan peralatan dari perkakas bekas mengiringi tarian Tayub dan nJathil dilanjutkan dengan pembakaran Na' Galau Klinthing setelah dipamerkan selama 14-20 Oktober 2015 sebagai sebentuk membakar kegalauan pada nasib negeri yang dililit korupsi hampir di semua lini. Mengenyahkan praktik korupsi yang telah lama melilit bangsa ini.

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home