Loading...
INDONESIA
Penulis: Dewasasri M Wardani 15:05 WIB | Jumat, 08 Juni 2018

Pembeli Buku di Jerman Turun, Ini Penyebabnya

Ilustrasi. Membaca buku. (Foto: istockphoto.com)

BERLIN, SATUHARAPAN.COM – Stres pada kehidupan zaman modern, dan merosotnya fungsi buku sebagai topik percakapan, adalah penyebab di balik berkurangnya pembeli buku di Jerman, kata satu hasil survei yang disiarkan oleh Perhimpunan Penerbit dan Pedagang Buku Jerman (Boersenverein).

Walaupun penjualan dalam industri buku masih tetap stabil selama 15 tahun terakhir, jumlah pembeli buku tercatat turun di Jerman, kata Boersenverein pada Kamis (7/6).

Antara tahun 2013 dan 2017, jumlah pembeli di pasar buku konsumen (tidak termasuk buku teks) turun sampai 6,4 juta, atau 17 persen, kata survei itu.

Makin sedikitnya pembeli juga tercermin dalam jebloknya penjualan, lapor Xinhua. Pada 2017, 367 juta buku terjual di pasar, sedangkan pada 2013 sebanyak 398 juta buku, kata Boersenverein.

Survei tersebut mendapati, di satu sisi, orang merasa tertekan di tengah langkah cepat kehidupan zaman modern, dan tenggelam di dalam masyarakat dengan banyak pekerjaan. Sebagai akibatnya, kekurangan waktu dan energi membuat orang makin jarang membaca buku.

Di pihak lain, posisi buku makin diambil-alih oleh serial televisi. Meskipun serial TV dapat disaksikan bersama dengan orang lain, dan menyediakan kesempatan untuk bercakap-cakap satu dengan yang lain pada hari berikutnya, buku tak lagi menjadi "topik besar percakapan".

Dalam satu tahun belakangan ini, 29,6 juta orang Jerman masih membeli setidaknya satu buku, yang sama dengan 44 persen warga Jerman yang berusia di atas 10 tahun.

Alexander Skipis, Kepala Pelaksana Boersenverein, mengatakan, "Sudah tidak lagi cukup untuk menunggu pembeli datang ke toko buku. Buku harus mendatangi pelanggan, dan untuk itu industri harus menemukan strategi baru."

Toko Buku Jerman Menjual Buku Secara Daring

Pendapatan buku internet di Jerman, melonjak 5,3 persen. Menunjukkan bahwa pendapata  bisnis Internet naik hingga 18,2 persen, selama 2015 sebesar 17,4 persen. Dan ini mewakili sekitar € 1,69 miliar (setara US $ 1,91 miliar, atau Rp 2,6 triliun).

Laporan 2016 dari Asosiasi Penerbit dan Buku Jerman, Börsenverein des Deutschen Buchhandels, menunjukkan industri penerbitan mengalami stabil di era transformasi media.

Menurut Borsenverein, hal ini postif karena, “Bisnis online yang dioperasikan oleh toko-toko buku sendiri terus menjadi semakin penting. Meskipun penurunan frekuensi pelanggan di sektor ritel, karena jumlah pembeli menjadi turun, pada toko-toko buku tersebut.”

“Lebih dari dua pertiga toko buku di Jerman, juga menjual buku secara online,” kata Alexander Skipis, direktur pengelola Borsenverein.

Skipis menambahkan, “Ada kelemahannya, namun demikian, kami melihat penurunan frekuensi pelanggan yang benar-benar menyedihkan, seperti halnya di sektor ritel pada umumnya hari ini , yang juga tercermin dalam menurunnya jumlah pembeli buku. Semakin menghilangnya bisnis yang dioperasikan oleh pemilik, telah menyebabkan penurunan daya tarik banyak daerah di dalam kota. Dan ini sekarang juga berdampak pada perdagangan buku.” (Antaranews.com/publishingperspectives.com)

 

Editor : Sotyati


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home