Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 00:51 WIB | Rabu, 30 Desember 2015

Pementasan Kethoprak Conthong: Lampor

Menyelamatkan Lingkungan dan Air Tersisa
Pementasan Kethoprak Conthong: Lampor
Dari kiri ke kanan, Wanara Sadi (kera, diperankan Marwoto), Sona Rupa (anjing, diperankan Susilo Nugroho) Prabu Brama Denta (macan), Rara Arina (kijang), Patih Wraha Kenya (celeng), membicarakan kekeringan yang melanda hutan di sekitar Merapi akibat pengerukan pasir yang berlebihan, dalam lakon kethoprak Lampor di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta Selasa (29/12). (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Pementasan Kethoprak Conthong: Lampor
Banjir yang terjadi bersamaan dengan melintasnya para lampor (utusan Ratu Nyi Roro Kidul) yang akan menghadap Eyang Merapi.
Pementasan Kethoprak Conthong: Lampor
Marwoto (baju hitam) dan Susilo Nugroho (baju coklat) dengan adegan dan dialog spontan diluar skenario, yang lucu namun penuh dengan kritik menjadi salah satu daya tarik bagi penonton.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Situasi di lereng Merapi berubah drastis. Pengambilan pasir yang dilakukan Kamuna semula memakai cangkul dan gerobak, kini atas perintah Denmas Bandana diganti dengan back hoe dan truk. Dasar sungai menjadi sangat dalam dan berlubang lubang serta air tanah menyusut drastis. Hewan hewan di hutan pun kebingungan.

Prabu Brama Denta (macan) mengutus Rara Arina (kijang), Wanara Sadi (kera) dan Sona Rupa (anjing) untuk mencari sumber air. Para utusan menemukan sumur, ember dan tampar timba. Kelengkapan sumur itu mereka curi. Mereka akan membuat sumur sendiri. Tingkah mereka menyebabkan pertentangan dengan manusia. Musim hujan tiba. Pertentangan dengan manusia mereda.

Kesempatan itu digunakan Prabu Brama Denta dan Patih Wraha Kenya (celeng) untuk mandi di sungai. Pada saat yang sama lewatlah Lampor, prajurit gaib Kanjeng Ratu Kidul yang hendak mengurus besanan dengan Eyang Merapi. Lampor terperosok dalam lubang di dasar sungai. Tubuh Lampor menimpa Macan dan Celeng. Kedua binatang itu marah.

Pertentangan yang terjadi adalah adegan kethoprak dengan lakon Lampor yang dimainkan oleh oleh Kethoprak Conthong di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (29-30/12). Bagi yang sering menyaksikan pementasan kethoprak Conthong, ada hal baru dalam pementasan kali ini: format pementasan a'la dongeng fabel dengan peran binatang dalam cerita. Selain alur ceritanya yang menarik, format pementasan tersebut memberikan variasi suasana bagi para pemain sekaligus untuk kebutuhan alur cerita yang ada.

Pimpinan produksi Lampor Nicky Nazaready di sela-sela persiapan Kamis (17/12) menjelaskan bahwa sempat terpikirkan untuk membawa hewan sebenarnya seperti sapi ke atas panggung, namun dalam diskusi dengan tim kreatif, eksperimen tersebut urung dilakukan. "Kita belum tahu respon hewan jika dibawa ke panggung. Untuk keriuhan di panggung, mungkin hewan-hewan itu bisa kita kondisikan. Yang belum kita tahu, reaksi jika hewan-hewan tersebut terkena cahaya lampu (lighting). Karena resiko tersebut, eksperimen itu kita tunda dulu." jelas Nicky.

Mengangkat Lampor di Panggung Pertunjukan

Pementasan lakon Lampor naskah karya Susilo Nugroho yang lebih dikenal dengan nama den baguse Ngarso disutradarai oleh Marwoto Kawer. Cerita ini diangkat dari mitos lampor sebagai utusan Ratu Nyi Roro Kidul yang selalu berbesanan dengan Eyang Merapi setiap musim penghujan.

Ditemui di sela-sela persiapan pementasan Selasa (29/12) Susilo Nugroho menjelaskan naskah cerita mengambil mitos lampor sebenarnya merupakan bentuk respon atas penambangan pasir Merapi yang berlebihan telah menimbulkan dampak yang serius bagi lingkungan serta sosial.

"Pengerukan pasir Merapi (yang berlebihan) menimbulkan kerugian dalam banyak hal. Dari sisi ekonomi, retribusi yang didapatkan tidak sebanding dengan perbaikan sarana jalan yang dilewati truk-truk pasir. Masyarakat pun tidak mendapatkan manfaat yang sepadan dari kegiatan tersebut. Yang terjadi justru ancaman banjir maupun tanah longsor di musim hujan serta kekeringan di musim kemarau akan menurunnya muka air tanah." jelas Susilo.

Lebih lanjut Susilo Nugroho menjelaskan bahwa pola eksploitasi sumberdaya alam dalam hal ini penambangan pasir Merapi sejauh ini hanya melihat dan membandingkan pada dua sisi: dahulu dan sekarang. Belum sampai memikirkan dampak untuk nantinya. Keserakahan telah merusak modal sosial di masyarakat hingga seolah tidak memikirkan untuk generasi nanti.

Adegan berlanjut dengan kemarahan Lampor, karena sungai sebagai jalan yang selalu mereka lalui telah dirusak dan menyebabkan dirinya jatuh dalam kubangan. Perkelahian tidak terhindarkan. Mereka saling menyerang, saling menghindar. Bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Tempat perkelahianpun merambah ke hunian manusia. Bagi manusia yang tidak memiliki kemampuan gaib melihat kejadian itu sebagai serangan binatang yang bersamaan dengan datangnya banjir.

Banjir yang aneh, meluap bergerak menjauhi sungai, menuju tempat hunian manusia. Kejadian itu bersamaan dengan persiapan pemilihan bupati di lereng Merapi. Denmas Bandana yang selalu dilindungi oleh Tumenggung Layung Prahara merasa perlu untuk ikut mempertahankan kedudukannya sebagai bupati. Dengan suka rela Bandana menjadi tim sukses. Ia bujuk warga untuk mendukung.

Permasalahan lingkungan menjadi masalah yang serius di wilayah Yogyakarta. Pembangunan hotel-apartemen maupun pusat perbelanjaan modern yang cukup gencar di wilayah Yogyakarta akhir-akhir ini untuk mendorong dunia pariwisata serta perekonomian wilayah telah menimbulkan reaksi yang beragam dari masyarakat. Reaksi penolakan lebih didasarkan pada menurunnya daya dukung lingkungan Yogyakarta yang ditandai dengan menurunnya muka air tanah, keringnya sumur warga, peningkatan polusi udara-tanah, potensi konflik sosial, maupun dampak sosial lainnya bagi masyarakat.

Setali tiga uang, penambangan pasir Merapi yang telah lama berlangsung secara berlebihan menjadi ancaman lingkungan yang serius bagi masyarakat sekitar. Keringnya sumur warga sekitar penambangan pasir adalah indikator awal menurunnya daya dukung lingkungan yang serius mengingat air tanah inilah yang mencukupi kebutuhan air bersih warga Yogyakarta secara umum.

Air sumur yang dikonsumsi masyarakat kota Yogyakarta merupakan air tanah yang bersumber pada daerah resapan di sekitar Gunung Merapi. Untuk bisa sampai ke Yogyakarta, air tanah sebagai salah satu sumber air baku memerlukan waktu hingga 20 tahun dengan menempuh jarak 30-40 km (Kantor Bapedalda DIY). Artinya dalam satu tahun air tanah tersebut “hanya” menempuh jarak 1.5 hingga 2 kilometer. Hujan yang terjadi hari ini di Gunung Merapi, baru akan dimanfaatkan dari sumur pada 20 tahun yang akan datang.

Dalam adegan akhir pementasan Lampor, warga bersedia memilih, tetapi mereka mengajukan syarat agar penambangan pasir dihentikan. Warga tahu, gangguan binatang dan lampor itu muncul karena usaha penambangan pasir yang merusak lingkungan. Bandana menyanggupi. Hari itu juga, penambangan pasir dihentikan. Masyarakat pun segera melakukan pemilihan untuk memilih Tumenggung Layung Prahara. Pada hari yang sama, setelah proses pemilihan selesai, Bandana ingkar janji. Ia memulai usahanya lagi, mengeruk pasir kembali. Back hoe dan truk bergerak lagi. Besoknya lampor datang lagi.

Setelah pilkada serentak 2015 di berbagai wilayah Indonesia, akankah kepala daerah terpilih memikirkan tata kelola sumber daya alam yang berwawasan lingkungan dalam membangun wilayahnya dengan memperhatikan keberlanjutan dan kelestarian alamnya? Ataukah justru sebaliknya, mengundang lampor-lampor untuk datang lagi dalam bentuk bencana alam, bencana kemanusiaan akibat rusak serta menurunnya daya dukung lingkungan? Waktu yang akan berbicara.

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home