Loading...
EKONOMI
Penulis: Eben Ezer Siadari 15:21 WIB | Kamis, 08 Januari 2015

Pemerintah Umumkan Harga Patokan Minyak Turun Jadi US$ 59,56

Pekerja menarik tuas dengan latar Loading Terminal Pertamina EP, Field Bunyu, Kalimantan Timur. Pemerintah mengumumkan harga patokan minyak mentah untuk bulan Desember 2014 turun menjadi US$ 59,56 per barel (Foto: Antara)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Tim Harga Minyak Indonesia dibawah Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan harga rata-rata minyak mentah Indonesia bulan Desember 2014 berdasarkan perhitungan formula Indonesian Crude Price (ICP) turun menjadi US$ 59,56 per barel  dari US$ 75,39 per barel pada bulan November 2014. Ini berarti penurunan sebesar US$ 15,83 per barel.

Di sisi lain, harga Minas/SLC pada bulan Desember 2014 menjadi US$ 60,00 per barel, turun US$ 16,33 per barel dari US$ 76,33 per barel pada bulan sebelumnya.

Siaran pers Kementerian ESDM hari ini (8/1), menyatakan Tim Harga Minyak Indonesia menilai penurunan harga minyak mentah Indonesia sejalan dengan perkembangan harga minyak mentah utama di pasar internasional.

Semenjak pemerintah menurunkan harga BBM menjadi Rp7.600 per liter 1 Januari lalu, informasi tentang ICP semakin penting karena hal itu dipakai menjadi patokan untuk menetapkan harga BBM pada bulan berikutnya. Sesuai dengan keterangan Menteri ESDM, Sudirman Said, perhitungan harga dasar BBM di dalam negeri menggunakan rata-rata harga indeks pasar atau ICP dan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dengan kurs beli Bank Indonesia periode tanggal 25 sampai dengan tanggal 24 bulan sebelumnya. Penurunan harga ICP pada bulan Desember 2014, akan berdampak pada penurunan harga pada bulan Februari mendatang.

Menurut Tim Harga Minyak Indonesia, ada beberapa faktor yang memicu penurunan, diantaranya adalah kekhawatiran pasar terhadap kondisi pasar minyak global. Kekhawatiran itu terjadi karena adanya keputusan OPEC untuk mempertahankan kuota produksi sebesar 30 juta barel per hari. Selain itu pasar juga khawatir oleh peryataan Sekretaris Jenderal OPEC yang menegaskan bahwa OPEC tidak menetapkan patokan harga minyak mentah dan menolak untuk mengadakan pertemuan darurat.  Sementara itu, Menteri Perminyakan UEA menyatakan bahwa pemotongan produksi minyak mentah tidak perlu dilakukan walaupun harga mencapai US$ 40 per barel.

Penurunan harga minyak di pasar internasional juga ikut dipicu oleh proyeksi permintaan minyak dunia yang menurun. Berdasarkan publikasi OPEC bulan Desember 2014, proyeksi permintaan minyak mentah global tahun 2014 sebesar 91,13 juta barel per hari, turun 0,06 juta barel per hari dibandingkan proyeksi bulan sebelumnya.

Sementara itu, berdasarkan laporan Energy Information Administration (EIA)-USA, tingkat stok mingguan minyak mentah komersial Amerika Serikat, gasoline dan distillate fuel oil selama bulan Desember 2014 mengalami kenaikan dibandingkan dengan bulan November 2014. Data yang lebih terperinci menunjukkan stok minyak mentah AS di bulan Desember 2014 naik 6,2 juta barel dibandingkan dengan stok bulan November 2014. Stok gasoline di bulan Desember 2014 naik 20,4 juta barel dibandingkan dengan stok bulan November 2014. Sedangkan stok distillate fuel oil di bulan Desember 2014 naik 9,5 juta barel dibandingkan dengan stok bulan November 2014.

Naiknya nilai tukar dolar AS  juga ikut memicu penurunan harga minyak dunia, disamping tindakan sejumlah negara yang menurunkan harga jualnya, seperti yang dilakukan oleh negara-negara Timur Tengah: Arab Saudi, Irak, Iran dan Kuwait yang memotong harga jual (Official Selling Price) minyak mentahnya.

Untuk kawasan Asia Pasifik, penurunan harga minyak mentah selain disebabkan faktor-faktor tersebut, juga dipengaruhi oleh melemahnya perekonomian Tiongkok dan menurunnya permintaan dan penggunaan gasoil India.

Editor : Eben Ezer Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home