Loading...
HAM
Penulis: Sabar Subekti 12:38 WIB | Rabu, 12 Maret 2014

Penderitaan Luar Biasa 5,5 Juta Anak Suriah Akibat Perang

Anak Suriah dalam pengungsian. Perang menjadi ancaman generasi yang hilang. (Foto: un.org)

DAMASKUS, SATUHARAPAN.COM - Jumlah anak Suriah yang terkena dampak perang saudara menjadi 5,5 juta anak atau menjadi dua kali lipat pada tahun. Demikian laporan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), hari Selasa (11/3) menggambarkan kepiluan  dan ancaman terjadinya generasi di ambang hilang.

Dalam sebuah laporan berjudul "Under Siege - the devastating impact on children of three years of conflict in Syria,"  (Di bawah Ancaman - dampak buruk pada anak-anak dari tiga tahun konflik di Suriah," badan anak-anak PBB (UNICEF) memperingatkan bahwa situasi sekarang mungkin menjadi lebih buruk.

"Terputus dari bantuan, tinggal di puing-puing, dan berjuang untuk menemukan makanan, banyak anak-anak Suriah ditinggalkan tanpa perlindungan, tanpa perawatan medis atau dukungan psikologis, dan hanya sedikit atau tidak memiliki akses ke pendidikan," kata laporan itu.

"Dalam kasus-kasus terburuk, anak-anak dan wanita hamil terluka sengaja atau dibunuh oleh penembak jitu," kata laporan itu menambahkan.

Satu juta anak-anak sekarang terjebak di wilayah Suriah yang terkepung atau yang sulit dijangkau dengan bantuan kemanusiaan. Sekitar dua juta anak-anak membutuhkan dukungan atau perawatan psikologis, kata laporan itu.

"Untuk anak-anak Suriah, tiga tahun terakhir telah menjadi  waktu terpanjang hidup mereka. Haruskan mereka bertahan satu tahun lagi dalam penderitaan?" tanya Direktur Eksekutif UNICEF, Anthony Lake.

Hamida Lasseko, dari Perwakilan UNICEF di Suriah, mengatakan bahwa penderitaan dan trauma menyaksikan anak-anak di Suriah adalah memilukan hati.

"Ini harus berakhir... Berapa banyak anak-anak membayar harga yang benar-benar tidak dapat mereka terima," kata dia kepada wartawan di Jenewa.

Lasseko menggambarkan seorang gadis usia lima tahun yang ditemukan pekerja UNICEF tengah berkeliaran Homs ketika evakuasi di daerah yang terkepung itu bulan lalu. "Ibunya meninggal dalam penembakan sehari sebelumnya," kata dia.

Begitu banyak anak-anak "telah melalui kisah-kisah yang mengerikan," kata dia. "Sebagai seorang ibu, ketika saya melihat mereka, saya benar-benar merasakannya."

Laporan itu mengatakan "masa depan 5,5 juta anak-anak Suriah hidup sebagai pengungsi di negara tetangga bergantung pada bantuan."

Simon Ingram, kepala komunikasi UNICEF daerah di Timur Tengah dan Afrika Utara, mengatakan, jumlah anak yang terkena dampak perang "sama banyaknya dengan populasi suatu negara seperti Finlandia atau Denmark."
 

Kehidupan anak-anak Suriah dirusak oleh kekerasan dan trauma psikologis yang parah, serta runtuhnya pelayanan kesehatan dan pendidikan. Hampir tiga juta anak-anak di Suriah tidak pergi ke sekolah, kata Ingram.

"Skala krisis dan dampaknya pada anak-anak dan masa kanak-kanak sekarang begitu besar, dan hal itu berdampak pada masa depan seluruh negara. Kemampuan generasi muda ini harus berperan dalam membangun kembali negara setelah konflik berakhir. Namun hal ini kini secara serius dipertanyakan, karena terus dirusak dengan setiap hari ada konflik ,” kata dia memperingatkan.

Dia mengatakan, lebih dari 10.000 anak-anak meninggal dan banyak yang menjadi cacat. Hal itu memicu kemarahan.

 

Di negara-negara tetangga,  sekitar 1,2 juta anak Suriah sekarang pengungsi dan tinggal di kamp-kamp. Masyarakat setempat kewalahan, kqarena terbatasnya  akses terhadap air bersih, makanan bergizi atau kesempatan belajar, kata laporan itu.

UNICEF memperkirakan bahwa satu dari 10 anak-anak pengungsi terpaksa bekerja. Dan juga  satu dari setiap lima pernikahan yang terdaftar  di Yordania dan menyebutkan perempuan Suriah. Mereka adalah anak di bawah usia 18 tahun. Di Yordania terdapat sekitar 500.000 pengungsi asal Suriah.

"Perang ini harus berakhir, agar anak-anak dapat kembali ke rumah mereka untuk membangun kembali kehidupan mereka dengan aman dengan keluarga dan teman-teman mereka. Selama tiga tahun anak-anak Suriah menderita, dan ini harus menjadi yang terakhir," kata Lake. (unicef.org/AFP)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home