Loading...
EKONOMI
Penulis: Yan Chrisna Dwi Atmaja 05:05 WIB | Kamis, 16 April 2015

Pertamina Jelaskan Kerugian Januari-Februari 2015

Massa dari Aliansi Mahasiswa Unpad menghalau dan menduduki kendaraan pengangkut bahan bakar minyak Pertamina yang melintas ketika melakukan aksi unjuk rasa menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di depan kawasan SPBU Pertamina Jatinangor, Sumedang, Jabar, Senin (30/3). Aksi menolak kenaikan harga BBM bertajuk "Minyak Untuk Rakyat" tersebut menuntut pemerintah agar menjalankan mandat UUD 1945 pasal 33 ayat 3, menolak liberalisasi sektor energi khususnya migas, menangkap dan mengadili mafia migas di Indonesia. (Foto: Antara)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto menjelaskan penyebab perusahaan itu mengalami kerugian pada Januari-Februari 2015 karena harga minyak dunia turun.

Dwi dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (15/4), mengatakan laba dari bisnis hulu perseroan mengalami kerugian jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Dari bisnis hulu mengalami penurunan laba dibandingkan periode sebelumnya, sejalan dengan penurunan harga minyak," katanya.

Dia menyebutkan, dibandingkan dengan periode Januari-Februari 2014, laba Pertamina mengalami penurunan karena harga minyak mentah (ICP) pada periode tersebut juga turun. 

Pada periode Januari-Februari 2014 harga minyak mentah mencapai 105,9 dolar AS per barel. Namun pada periode Januari-Februari 2015 harganya anjlok menjadi 49,8 dolar AS per barel.

Pada bisnis hilir, penurunan yang tajam harga minyak dari akhir 2014 hingga awal 2015 menyebabkan nilai bahan baku yang diolah dan produk yang diimpor selalu lebih tinggi dibandingkan harga jualnya.

Penerapan harga jual bahan bakar minyak (BBM) penugasan dan PSO (public service obligation) yang ditetapkan pemerintah, menurut Dwi, juga tidak selalu mengacu pada formula yang telah ditetapkan, tetapi juga mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat.

"Dengan demikian, secara konsolidasi, perseroan masih mengalami kerugian karena laba bisnis hulu tidak dapat menopang kerugian pada bisnis hilir," katanya.

Ia mengatakan harga jual produk dipengaruhi oleh variabel nilai tukar mata uang, harga pasar intenasional dan biaya distribusi sehingga harga jualnya berfluktuasi.

"Untuk penjualan produk dalam mata uang rupiah apabila terjadi pelemahan kurs akan berdampak pada penurunan pendapatan," katanya.

Pertamina mencatat kerugian 212,3 juta dolar AS sepanjang Januari-Februari 2015. Kendati demikian, Dwi mengatakan kinerja buruk perseroan dalam dua bulan pertama tahun 2015 itu tidak bisa menjadi patokan keseluruhan.

Menurut dia, kerugian pada awal tahun itu akibat dari inventori (minyak) yang dibeli pada saat harga minyak dunia tengah melonjak yakni sekitar Oktober 2014.

"Nah, ini sudah terpakai (inventorinya), posisi harga inventori juga sudah mulai turun, ini jadi potensi kami untuk memperbaiki kinerja di bulan-bulan ke depan," katanya. 

Dwi berharap, kerugian perseroan bisa berkurang di masa mendatang mengingat harga bursa minyak Singapura (Mean of Platts Singapore/MOPS) masih fluktuatif.

Namun, ia memastikan pihaknya tidak akan begitu saja menaikkan harga BBM nonsubsidi untuk menutupi kerugian yang dialaminya.

"Kami tidak bisa menaikkan begitu saja BBM nonsubsidi, karena kalau dinaikkan makan orang akan pindah ke BBM subsidi. Ini yang kami jaga, agar seimbang sehingga masyarakat tidak pindah (ke BBM subsidi)," katanya. (Ant)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home