Loading...
RELIGI
Penulis: Equivalent Pangasi 17:06 WIB | Rabu, 12 Maret 2014

Pertemuan Pertama Gereja Ortodoks Dunia Membahas Perdamaian di Ukraina

Sekitar 250 juta anggota Gereja Ortodoks bertemu di Istanbul sejak Kamis (6/3) hingga Minggu (9/3) dan memutuskan akan melaksanakan konsili kedua pada 2016 setelah 1.200 tahun. (Foto: Getty Images)

ISTANBUL, SATUHARAPAN.COM – Konferensi tingkat tinggi pertama 250 juta anggota Gereja Ortodoks dibuka pada Kamis (6/3) dan berakhir pada Minggu (9/3) di Istanbul, Turki, membahas upaya perdamaian untuk mengakhiri krisis di Ukraina. Pertemuan tersebut juga mengutuk kekerasan yang ditujukan kepada umat Kristen di Timur Tengah.

Dua belas kepala Gereja Ortodoks, yaitu gereja Kristen terbesar kedua di dunia, menyepakati untuk melaksanakan konsili ekumenis kedua bagi para uskup yang dilaksanakan pada 2016, yang akan menjadi konsili pertama setelah lebih dari 1.200 tahun.

Krisis Ukraina terus membayangi pembicaraan dalam pertemuan yang diadakan di kantor Pemimpin Ekumenis Bartolomeus.

Ketika para uskup meninggalkan Saint George’s Cathedral setelah pelayanan khusus, seorang perempuan berteriak dari kerumunan dengan menggunakan bahasa Rusia, “Berdoa bagi Ukraina!”

Seruan tersebut segera ditanggapi dua orang uskup agung, “Anda juga berdoa!”

Dalam komunike (pengumuman resmi) mereka, para pemimpin menyerukan perundingan damai dan rekonsiliasi dalam doa untuk krisis di Ukraina dan mengutuk apa yang mereka sebut sebagai ancaman pendudukan dengan jalan kekerasan terhadap biara-biara dan gereja-gereja kudus di sana.

Salah satu yang menjadi pertanyaan utama dalam menyongsong konsili tahun 2016 adalah bagaimana menyeimbangkan relasi di antara Gereja Ortodoks saat ini. Pertanyaan itu muncul karena melihat kenyataan gereja Rusia kini kembali menjadi suara yang berpengaruh di dunia Kristen setelah selama tujuh dekade ditaklukkan komunisme.

Pemimpin Ekumenis Bartolomeus, yang akan bertemu pemimpin gereja Katolik Paus Fransiskus di Yerusalem pada bulan Mei, merupakan pemimpin paling senior di Gereja Ortodoks. Namun, gereja basisnya di Istanbul merupakan gereja yang kecil.

Meskipun posisinya cukup signifikan, ia tidak memiliki wewenang atas gereja-gereja lainnya, tidak seperti kuasa yang dimiliki Paus dalam Katolik sebagai gereja terbesar dengan 1,2 miliar anggota. Komunike yang diluncurkan menekankan bahwa seluruh keputusan dewan akan diambil secara konsensus, posisi yang oleh orang Rusia pertahankan selama persiapan pertemuan tersebut.

Konsili tahun 2016 akan dilaksanakan di Hagia Irene, sebuah bangunan gereja Bizantium (Romawi Timur) di halaman Istana Topkapi milik Sultan Ottoman. Bangunan tersebut saat ini menjadi museum karena tidak lagi digunakan sebagai gereja sejak masa penaklukan Islam di Konstantinopel pada 1453. (huffingtonpost.com/ucanews.com)

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home