Loading...
FOTO
Penulis: Dedy Istanto 17:59 WIB | Senin, 26 September 2016

PM Netanyahu Minta Maaf Soal Komentar Tentara "Pembunuh"

PM Netanyahu Minta Maaf Soal Komentar Tentara "Pembunuh"
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berpidato saat acara Majels Umum PBB ke-71 di markas PBB, New York pada 22 September 2016. AFP PHOTO/Timothy A. Clary
PM Netanyahu Minta Maaf Soal Komentar Tentara "Pembunuh"
Warga Palestina melakukan salat Jumat saat tentara Israel melakukan pengawasan di Persimpangan Beta di Nablus, Tepi Barat pada 23 September 2016 untuk memprotes penutupan pintu masuk ke desa Beta oleh tentara Israel. Jaafar Ashtiyeh/AFP
PM Netanyahu Minta Maaf Soal Komentar Tentara "Pembunuh"
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berpidato di dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di New York, Ameriksa Serikat, Kamis (22/9) dalam sesi debat ketujuh terkait dengan pembahasan konflik Palestina dan Israel. (Foto: UN Photo/Cia Pak)
PM Netanyahu Minta Maaf Soal Komentar Tentara "Pembunuh"
Presiden Palestina Mahmoud Abbas berpidato pada Sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, pada sesi ketujuh agenda debat terkait dengan konflik Palestina dan Israel. (Foto: UN Photo/Cia Pak)

YERUSALEM, SATUHARAPAN.COM - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu meminta maaf setelah menuai kritik atas pernyataannya yang seolah menyamakan seorang tentara yang saat ini diadili karena pembunuhan dengan tentara yang gugur dalam pertempuran. Hal itu disampaikan pada hari Minggu (25/6) di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat.

Dalam sebuah wawancara yang disiarkan pada hari Sabtu (24/9) malam, Netanyahu ditanyai apakah dia menyesal menghubungi ayah Elor Azaria, yang diadili karena menembak seorang penyerang Palestina di bagian kepala saat dia tergeletak di tanah.

“Tidak sama sekali,” kata Netanyahu kepada televisi Channel 2 Israel dari New York, tempat dia menghadiri Sidang Majelis Umum PBB, yang mengungkapkan bahwa dia mengatakan kepada ayah tentara itu untuk mempercayai militer dan sistem peradilannya.

Ketika ditanyai apakah dia menelepon orang tua para tentara lainnya yang dituding melanggar kode etik militer, Netanyahu menjawab “Tidak.”

Namun, dia mengatakan telah “menghubungi banyak orang tua yang terpukul setelah putra mereka gugur saat bertugas atau hilang.”

“Rakyat Israel sangat terpukul di sini,” katanya mengenai kasus Azaria.

Halaman depan Yediot Aharonot -- koran terlaris di Israel dan sering kali mengkritik Netanyahu pada edisi Minggu menyebutnya “perbandingan menjengkelkan.”

Netanyahu merespons pada hari Minggu (25/9) di Amerika Serikat melalui media sosial Facebook-nya.

“Saya minta maaf kalau pernyataan saya disalahartikan,” kata Netanyahu.

“Saya sama sekali tidak bermaksud menyamakan kepedihan keluarga yang ditinggalkan, kesedihan yang sangat saya pahami, dengan kondisi para orang tua lainnya yang kesulitan,” tulis Netanyahu yang kakaknya Yonatan tewas saat memimpin operasi militer.

Kasus Azaria memicu perdebatan di Israel, dengan petinggi militer mengecam tindakannya dan politikus sayap kanan menyatakan dia diperlakukan tidak adil.

Editor : Diah Anggraeni Retnaningrum


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home