Loading...
RELIGI
Penulis: Dewasasri M Wardani 06:07 WIB | Sabtu, 01 Agustus 2015

Pondok Pesantren Tebu Ireng dari Masa ke Masa

Ilustrasi santri baru yang berhasil lolos seleksi penerimaan di Ponpes Tebuireng. (Foto: tebuireng.org)

SATUHARAPAN, COM – Pesantren Tebuireng, bukan pesantren tertua. Tapi pesantren yang berada di Jombang ini sangat dikenal karena menjadi pusat perjuangan sejak pertengahan abad ke-19.

Tebuireng adalah, nama sebuah pedukuhan yang termasuk wilayah administratif Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, berada pada kilometer 8 dari kota Jombang ke arah selatan. Nama pedukuhan seluas 25,311 hektare ini kemudian dijadikan nama pesantren yang didirikan oleh Kiai Hasyim, pada tahun Rabiul Awal 1317/1899 M.

Tebuireng sendiri, lahir sebagai respon terhadap tumbuhnya kapitalisme liberal yang tubuh bersamaan tumbuhnya industri gula di kawasan itu. Pabrik gula itu membawa ekses ketidakadilan sosial, pemiskinan, dan berbagai macam kriminalitas. Keahlian Hasyim Asy’ari dalam bidang hadits dan tafsir, menjadi daya tarik utama pesantren yang dirintisnya itu. Banyak santri senior dari pesantren juga datang, nyantri di Tebuireng baik sekadar mencari berkah maupun sengaja melibatkan diri dalam perjuangan politik pesantren itu.

Pada tahun 1919  diselenggarakan pendidikan formal yang bersifat klasikal yang dinamakan Madrasah Salafiyah Syafiiyah, dipelopori Kiai Muda Muhamamad Ilayas, dan mulai diterapkannya  mata pelajaran bahasa Melayu, berhitung, sejarah, ilmu bumi dan sebagainya.

Para santri dari Tebuireng ini, kelak akhirnya menjadi ulama besar yang memimpin berbagai pesantren penting di Nusantara, antara lain KH Wahab hasbullah memimpin Pesantren ambakberas, KH Abdul Karim pendiri peantren Lirboyo dan sebagainya, termasuk  K Ahmad Shiddiq adalah murid K Hasyim yang disegani.

Pada tahun 1934,  putra kiai Hasyim, Kiai Wahid Hasyim, merintis pendidikan khusus yang diberi nama Madrasah Nidzomiyah, sebuah langkah spektakular, sebabab pendidikan yang hanya bisa diikuti santri senior dan pilihan ini mengajarkan 70 persen mata pelajaran umum. Di situ juga disediakan perpustakaan yang berisi sekitar 1000 judul buku, serta tidak ketinggalan disediakan berbagai majalah dan surat kabar, sehingga peroduk dari perguruan ini menjadi organisator yang tertib dan piawai serta pejuang yang militan.

Hingga tahun 1940-an, jumlah kiai yang dilahirkan dari Pesantren Tebuireng terdata sebanyak 25.000 orang tersebar di seluruh Nusantara. Pada tahun 1942 Kiai Hasyim Ashari ditangkap Jepang, karena tidak mau melakukan Saikere (penghormatan) pada bendera dan kaisar jepang, yang setelah dibebaskan,  diberi jabatan tinggi Ketua  Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) dan ketua Masyumi.

Pada masa menjelang kemerdekaan dan masa awal kemerdekaan dalam mempertahankan kemerdekaan, posisi Pesantren Tebuireng sangat sentral. Bersamaan dikeluarkannya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, para pimpinan Nasional baik Bung Karno, Tan malaka dan Bung Tomo selalu berkordinasi ke Tebuireng untuk menghadapi sekutu.

Peran politik pesantren Tebuireng yang besar karena tokohnya memperoleh gelar sebagai pahlawan nasional  antaralain pendirinya KH Hasyim Asy’ari dan kemudian puteranya KH Wachid Hasyim .

Pada tahun 1969 merintis pendirian pendidikan tinggi dengan membangun Universitas Hasyim Asy’ari.

Saat ini pesantren Tebuireng semakin ramai dikunjungi orang dari berbagai kalangan semenjak KH Abdurrahman Wahid putera dari KH Wahid Hasyim dimakamkan bersama dengan kakeknya KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim. (nu.or.id/tebuireng.org)

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home