Loading...
DUNIA
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 15:22 WIB | Jumat, 30 Oktober 2015

Ratusan Dokter New York Tuntut Perlindungan Dokter di Suriah

Ratusan Dokter New York Tuntut Perlindungan Dokter di Suriah
Presiden SAMS Dr Ahmad Tarakji memegang kertas bertuliskan nama petugas kesehatan yang diperkirakan meninggal saat bertugas di Suriah. (Foto-foto: middleeasteye.net)
Ratusan Dokter New York Tuntut Perlindungan Dokter di Suriah
Ratusan orang menggelar aksi teatrikal dengan berpura-pura mati sambil mengenakan baju dinas mereka yang berwarna putih dan menggenggam papan bertuliskan 679 nama petugas kesehatan yang diperkirakan tewas karena bom, pertempuan antarmilisi, dan penyebab lainnya.

NEW YORK, SATUHARAPAN.COM – Cerita heroik dari dokter-dokter yang bertugas di Suriah mendapat perhatian dari 200 dokter yang tergabung dalam mahasiswa kedokteran dan beberapa demonstran lain. Mereka melakukan aksi turun ke jalan di luar markas besar PBB di New York minta agar dokter yang bertugas di Suriah mendapatkan perlindungan.

“Saya pernah mendengar tentang dokter yang menyeberang dari Turki ke Suriah setiap hari untuk memberikan perawatan medis untuk mereka yang membutuhkan. Ini sangat heroik,” kata Dr Mary White, ahli penyakit menular di Rumah Sakit Mount Sinai kepada Middle East Eye (MEE) pada hari Kamis (29/10).

“Faktanya adalah mereka tetap melayani korban meskipun mereka memiliki kesempatan untuk pergi.”

Para demonstran kemudian melakukan aksi teatrikal dengan berpura-pura mati sambil mengenakan baju dinas mereka yang berwarna putih dan menggenggam papan bertuliskan 679 nama petugas kesehatan yang diperkirakan tewas karena bom, pertempuan antarmilisi, dan penyebab lainnya.

Menurut Syrian America Medical Society (SAMS) telah terjadi 313 serangan terhadap rumah sakit sejak awal mula konflik. Kelompok tersebut menyatakan 90 persen di antaranya merupakan penggerebekan yang dilakukan oleh pasukan setia dari Presiden Suriah Bashar al-Assad dan empat persen lainnya dari Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Mereka mengatakan, tiga rumah sakit SAMS pernah menjadi target dan dua pekerja tewas dalam serangan udara Rusia sejak Moskow mengirimkan jetnya ke langit Suriah bulan lalu. Dua rumah sakit tersebut terletak di Aleppo selatan dan sebuah klinik di Sarmin, Provinsi Idlib.

Sedangkan Dr Majed Abou Ali, dokter gigi di Suriah, melihat kekacauan tersebut dengan mata kepalanya sendiri.

Sampai tahun lalu, dia bekerja di Ghouta Timur, wilayah yang dikuasai oleh kubu pemberontak yang telah mengalami serangan berulang-ulang dan aksi pemboman paling berat yang pernah dilakukan oleh pasukan pro-pemerintah serta serangan senjata kimia pada tahun 2013.

“Banyak teman saya yang kehilangan nyawa mereka, banyak yang disiksa sampai mati, hanya karena mereka menyediakan layanan kesehatan,” kata Dr Ali kepada MEE. “Kami berada di bawah ancaman yang berkelanjutan. Tiada hari tanpa serangan rudal atau bom meledak di sekitar saya.”

Dia kemudian melarikan diri dari Suriah dengan anaknya yang berumur satu tahun setelah pemboman yang terjadi selama 16 hari di Ghouta Timur. Saat ini dia tinggal di Gaziantep, di tenggara Turki, di mana dia terus mendukung rekan-rekannya dari jauh. Ini telah menjadi perang yang brutal, kata dia.

“Empat tahun lalu, Suriah berteriak meminta demokrasi, kebebasan, dan martabat,” kata dia kepada MEE. “Mentalitas dari Suriah telah berubah dari waktu ke waktu. Sekarang mereka hanya meminta perang ini dihentikan dan minta untuk melindungi rumah sakit, sekolah, dan pasar.”

Presiden SAMS Dr Ahmad Tarakji, beberapa hari ini telah menghabiskan waktunya di New York dan Washington, mencoba untuk membujuk pejabat, diplomat, dan akhirnya Dewan Keamanan PBB untuk berbuat lebih banyak dalam menghentikan pembunuhan dokter di Suriah.

“Intinya dari permintaan kami adalah membentuk mekanisme untuk mengidentifikasi serangan terhadap fasilitas kesehatan dan menyediakan fasilitas untuk merekam serangan tersebut yang diikuti oleh penyelidikan kemudian diproses secara hukum dan dibawa ke pengadilan,” kata dia kepada MEE.

Sebanyak 15 negara anggota PBB telah menemui jalan buntu dalam menghadapi Suriah, dengan AS dan negara anggota Eropa bersikeras bahwa Assad harus mundur dari kekuasaannya, sementara Rusia, sekutu lama Damaskus, menolak permintaan itu.

Rusia, bersama dengan Tiongkok telah memveto empat daftar resolusi PBB tentang Suriah.

Tapi pada bulan Agustus, dewan PBB secara bulat mengesahkan rancangan resolusi dari AS dengan menggunakan dasar dari Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) untuk memulai penyelidikan yang bertanggung jawab atas serangan senjata kimia di Suriah.

Pejabat SAMS mengatakan mekanisme tersebut dapat dipakai untuk menyelidiki serangan terhadap rumah sakit, yang didefinisikan sebagai kejahatan perang oleh Mahkamah Kejahatan Internasional. Namun, pihak Rusia di PBB tidak mau berkomentar ketika diminta menanggapi berita tersebut.

“Semua orang harus memahami bahaya kehancuran sistem kesehatan Suriah, yang dapat mengganggu sistem vaksinasi dan upaya penghentian penyebaran penyakit juga akan berpengaruh. Itulah sebabnya kita membutuhkan perlindungan,” kata Tarakji.

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home