Loading...
EKONOMI
Penulis: Prasasta Widiadi 10:42 WIB | Rabu, 11 Maret 2015

Rupiah Terkapar di Rp 13.161 Terintimidasi Penguatan Dolar

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil. (Foto: Prasasta Widiadi).

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu pagi bergerak melemah sebesar 78 poin menjadi Rp13.161 dibandingkan posisi sebelumnya Rp13.083 per dolar AS.

Namun, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Sofyan Djalil, menegaskan pelemahan nilai tukar mata uang terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak hanya dialami Indonesia tetapi negara lain.

"Ini bukan masalah, sebabnya adalah Amerika saat ini ekonominya bagus sekali. Yang kena imbas juga tidak hanya rupiah, seluruh mata uang juga kena," katanya ketika ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Rabu (11/3).

Gerak mata uang rupiah makin terintimidasi penguatan mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah makin bergerak melemah karena dolar index naik tajam dini hari tadi.

Jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan kemarin di posisi Rp13.094 per USD. Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance, gerak rupiah semakin melemah ke level Rp13.185 per USD jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan hari sebelumnya di level Rp13.144 per USD.

Sofyan menambahkan pelemahan mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat masih dalam kondisi normal.

Menurut dia, kondisi Rupiah tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan mata uang asing lainnya dan hanya Swiss frank yang mengalami penguatan dari Dolar Amerika Serikat.

"Jika pariwisata ramai maka (wisatawan asing) yang membawa dolar akan semakin banyak. Untuk TKI juga akan diperbaiki supaya emiten meningkat," Sofyan menjelaskan.

Pada Selasa (10/3)  Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penguatan Dolar Amerika Serikat yang terjadi pada hampir semua mata uang asing disebabkan oleh beberapa hal antara lain karena perekonomian Amerika Serikat menguat dan kesempatan kerja yang jelas, ditambah lagi dengan rencana penguatan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (Fed Fund Rate). Alasan lain yakni adanya injeksi likuiditas moneter terhadap Bank Sentral Eropa dan Bank Sentral Jepang.

Perry membandingkan dengan situasi tahun lalu dimana mata uang Euro melemah 13,5 persen terhadap Dolar Amerika, sedangkan Yen Jepang 12,5-13 persen. Sedangkan Rupiah hanya 1,8 persen. Faktor terakhir ialah kondisi ekonomi domestik yang masih menghadapi defisit neraca transaksi berjalan. (Ant).  

Editor : Eben Ezer Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home