Loading...
BUDAYA
Penulis: Ignatius Dwiana 16:19 WIB | Jumat, 27 September 2013

Sastra Daerah Diterbitkan Dalam Bahasa Indonesia

Direktur Eksekutif Penerbit Dolphin Salahuddien. (Foto Ignatius Dwiana)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Gatholoco dan Darmogandul adalah dua kitab Jawa paling kontroversial. Keduanya adalah kebijaksanaan Jawa yang terbuka terhadap apa pun dan kritik atas fundamentalisme beragama. Keduanya adalah bagian dari khazanah nusantara yang nilai-nilainya tidak kalah dengan agama-agama impor.

Direktur Eksekutif Penerbit Dolphin, Salahuddien, menyebutkan bahwa dengan memahami sejarah Nusantara masa lalu dapat memandu melangkah ke masa depan. Hal ini yang menjadikan Penerbit Dolphin memberikan ruang bagi penerbitan khazanah Nusantara yang sangat kaya dan kompleks.

“Kami menerbitkan itu karena pada saat ini Indonesia, Nusantara mengalami titik terendah dari rasionalias. Belief lebih mengemuka daripada rasionalitas. Ketika lack of knowledge dan hanya mengandalkan belief maka yang muncul adalah fanatisme dalam beragama.” Kata Salahuddien.

Salahuddien berharap dapat melahirkan kembali Nusantara dengan menerbitkan buku-buku budaya, tradisi, sejarah, dan ajaran-ajaran Nusantara masa lalu dan penerjemahan sastra daerah ke dalam bahasa Indonesia.

Penerbitan kedua buku itu sangat kontekstualnya dengan kondisi Indonesia saat ini seperti banyaknya fenomena perilaku sewenang-wenang dari massa ormas intoleran.

Darmogandul dan Gatholoco

Kisah Darmogandul merupakan karya fiksi sejarah ber-setting Majapahit. Sementara Gatholoco lebih ke filsafat lingga yoni dan kritik kepada fundamentalisme. Keduanya memuat konflik spiritualisme  melawan fundamentalisme.

Spiritualisme berasal dari kata spirit yang berartinya roh, jiwa, dan semangat. Spiritualisme merupakan dimensi yang menekankan roh sehingga bersifat inklusif, demikian definisi Salahuddien. Sementara fundamentalisme bersifat eksklusif dengan ketertutupannya sehingga merasa dirinya yang paling benar.

Selain Gatholoco dan Darmogandul, Penerbit Dolphin menerbitkan novel berjudul ‘Wali Sanga’. Novel ini berbeda dengan kisah seputar Wali Sanga lain yang berisi puji-pujian kepada Wali Sanga. Novel ini ditulis seobyektif mungkin dengan mengandalkan historical account yang ada.

Rujukan-rujukan kuno seperti serat, babad, tradisi tutur digunakan untuk penulisan novel itu. Novel itu memuat latar belakang sejarah, konflik yang tejadi saat transisi antara Siwa Budha dengan Islam, hingga friksi-friksi yang muncul dalam Dewan Wali Sanga.

Penerbit Dolphin juga akan menovelisasi 'Serat Centhini' yang menurut Salahuddien merupakan karya sastra terbesar berbahasa Jawa. Terjemahan Serat Centhini yang beredar selama ini hanya berupa fragmen sementara teks aslinya tebal dengan 2 juta karakter. Serat Centhini ini bisa disebut sebagai ensiklopedia Jawa. Karena di dalamnya memuat ilmu-ilmu Jawa. Soal tanah, pernikahan, seks, keutamaan hidup, dibahas walau berlatar belakang sejarah penyerangan Mataram Islam ke Giri.

Selain khazanah-khazanah lokal  Jawa, Salahuddien berharap Penerbit Dolphin ke depan dapat menerbitkan khazanah-khazanah lokal  Nusantara dari daerah lain seperti Batak, Makasar, maupun Sunda.

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home