Loading...
OLAHRAGA
Penulis: Prasasta Widiadi 11:47 WIB | Kamis, 16 Juni 2016

Sistem Penjualan Tiket Penyebab Sumber Kerusuhan Piala Eropa

Helmut Spahn. (Foto: dw.de).

BERLIN, SATUHARAPAN.COM – Mantan pejabat keamanan Asosiasi Sepak Bola Jerman (Deutscher Fussball Bund/DFB) Helmut Spahn menyebut penjualan tiket secara pribadi di Piala Eropa 2016 ternyata tidak efektif, karena merupakan salah satu faktor penyebab pecahnya kerusuhan di beberapa laga Piala Eropa.

Spahn menjabat sebagai kepala keamanan untuk Piala Dunia 2006 di Jerman, dan pada tahun 2011 dia menjabat posisi Direktur Eksekutif di Qatar Sport Security (ICSS).  

Seperti diberitakan situs olahraga ESPN, pada hari Rabu (15/6), Spahn berkomentar setelah muncul kabar kamera pengawas di sekitar Stadion Pierre Mauroy, Lille, Prancis, menangkap wajah salah satu pelaku, Michael Bruck, anggota Dewan Kota Dortmund dari partai sayap kanan Die Rechte, yang dilarang DFB masuk ke stadion di seluruh Jerman sejak lama.

Bruck terlihat berkumpul di tengah-tengah pendukung yang bergembira saat Jerman memukul Ukraina dengan skor 2-0. Spahn menyebut penjualan tiket secara pribadi – penjualan yang disertai identitas resmi pemegang tiket yang dilakukan Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) – tidak efektif karena sosok seperti Bruck masih bebas berkeliaran. “UEFA hampir tidak mungkin memeriksa satu per satu identitas pembeli dan pemegang tiket dengan akurat,” kata Spahn. 

Bruck, menurut Spahn, sejak lama dilarang menghadiri laga di seluruh Jerman. Larangan tersebut dimulai saat Bruck diusir pihak keamanan Stadion Westfalen, Dortmund, beberapa tahun yang lalu. Spahn mengatakan dengan berdasar fakta kamera pengawas di luar stadion menunjukkan Bruck berbaur dengan para pendukung Jerman lainnya di Lille sambil menunjukkan hormat ala Adolf Hitler.  

Spahn menambahkan sehari sebelum kerusuhan menjelang Jerman menghadapi Ukraina tersebut terdapat 18 pendukung dari Dresden dan tiga orang dari Kaiserslautern dihentikan oleh polisi dekat perbatasan Prancis.

Pada 2013, terdapat kelompok pendukung sepak bola tim nasional Jerman berideologi ekstremis sayap kanan yang menamakan diri mereka HoGeSa atau kependekan dari Hooligans (suporter) Anti-Salafi.

Kelompok ini beberapa kali tidak hanya aktif di sepak bola namun juga melakukan aksi kekerasan terhadap penganut kepercayaan minoritas di Jerman seperti yang mereka lakukan pada bulan Oktober 2014, di Koln, Jerman. (espnfc.com)

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home