Loading...
INDONESIA
Penulis: Febriana Dyah Hardiyanti 14:16 WIB | Rabu, 15 Februari 2017

Suka Duka Penghuni Rusun Jatinegara Barat

Warga rusun Jatinegara Barat, Jakarta Timur. (Foto: Febriana D.H)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Seperti kehidupan, menyapa lebih dekat penghuni Jatinegara Barat, Jakarta Timur, lantas mendapatkan suka dan duka. Pasalnya, warga sedianya bersyukur tetapi tak sedikit juga yang merintih.

Mengawali blusukan tanya jawab di sini rasa-rasanya menjadi bimbang dan bertanya-tanya, benarkah?

Seorang ibu rumah tangga, usianya 37 tahun, Nina, menyatakan anak-anaknya yang berjumlah dua orang sudah mendapat Kartu Jakarta Pintar (KJP). Ia tenang. Dan juga mengaku sudah mendapat fasilitas rusun yang memadai seperti layanan bus transjakarta gratis yang bisa diaksesnya dari terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. Dekat sekali, bersyukur, katanya.

Lain cerita datang dari seorang ibu yang merasa lebih baik tak tinggal di rusun karena masalah ekonomi yang membelitnya.

"Lebih baik di sana, karena bisa berdagang dengan pembeli yang lebih ramai. Di sini sepi, dan capek harus  naik turun tangga atau lift. Sudah bangun rumah dari nol di sana, eh digusur," ujar ibu rumah tangga berusia 37 tahun, Yuliana.

Lebih panjang, ia bercerita tak pernah mendapatkan uang pengganti dari pemerintah. Di awal-awal pindah ke rusun pun ia sempat mengalami kesulitan biaya untuk membayar rusun yang tiap bulannya mencapai Rp 300.000 itu. Belum lagi, untuk membayar uang air dan listrik rutin yang telah dikonsumsi keluarganya.

Ia berharap, dalam rangka Pilkada DKI ini, pemerintah selanjutnya lebih memberikan perhatian khusus kepada warga rusun yang tidak mampu, terlebih  kepada janda miskin.

Meski menilai fasilitas yang disediakan sudah cukup, ia mengeluhkan fasilitas lift yang kerap kali rusak.

"Wajar lift cepat rusak. Anak-anak di sini memang yang suka buat mainan naik dan turun. Tapi wajar dan tidak seharusnya petugas menyalahkan anak-anak. Kami kan bukan orang kaya yang suka main ke mall dan naik lift, kami dari pinggiran. Jadi wajar jika anak-anak begitu," ujarnya.

Yuliana tercatat sudah tinggal di rusun bersama dua anaknya sejak bulan Januari 2016 sebelumnya merupakan warga Kampung Pulo RT 11 RW 003. Hari ini ia memberikan suaranya di TPS 33.

Hal senada juga dikeluhkan Vina. Ia merupakan warga rusun yang berusia 17 tahun. Hari ini, ia menilai sebagai hari yang bersejarah, karena sudah memiki hak suara dalam Pilkada DKI.

Vina sebagai siswi SMA yang duduk di kelas 12 itu mengaku selalu mengamati sekelilingnya. Ia merasakan ada masalah ekonomi yang begitu besar di sana.

"Di sini saya lihat ada masalah ekonomi warga yang begitu besar. Tetangga saya banyak yang kamarnya disegel karena tak bisa membayar uang sewa. Saya harap ke depan rusun bisa digratiskan seperti janji-janji kampanye nomor urut satu dan nomor urut tiga saat berkampanye ke sini," kata Vina.

Ia berharap segera bisa memiliki rumah sendiri. Ia tak ingin berlama-lama tinggal di rusun.

"Saya ingin segera punya rumah sendiri biar enak tinggal sama ibu dan bapak," ujar dia.

Menutup jalannya perbincangan dengan mereka, lantas kembali ditutup dengan rasa syukur, sukacita, serta harapan.

"Secara umum kondisi di sini bisa jauh lebih baik dari di Kampung Pulo. Namun diharapkan ke depan bisa lebih baik lagi. Semua pasti ada kekurangan dan kelebihan. Tidak enaknya di sini sosialisasi dengan tetangga cenderung minim meskipun disediakan tempat berkumpul dan bermain, tapi tidak apa-apa yang penting anak-anak tetap bisa bermain sepeda," tutur Lina (28 tahun).

Lina yang merupakan ibu rumah tangga ini berharap kesejahteraan yang belum merata di dalam rusun mendapatkan solusi dari pemimpin DKI mendatang. 

Editor : Diah Anggraeni Retnaningrum


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home