Loading...
INSPIRASI
Penulis: Joko Prihanto 13:37 WIB | Rabu, 21 Mei 2014

Tahu Diri

Park Ji Sung (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Piala Dunia 2014 segera dihelat. Berjuta pasang mata akan tertuju ke Brazil, tempat terselenggaranya pesta bola dunia 4 tahunan itu. 32 peserta sudah terbagi ke dalam 8 grup dan siap berlaga merebut gelar juara. Ya, Brazil segera menggelar pesta.

Bermain di turnamen akbar itu tentu menjadi impian semua pesepakbola. Mereka ingin menorehkan sejarah bahwa sepanjang karirnya pernah merumput di ajang paling bergengsi itu. Apalagi, ini dibumbui dengan semangat perjuangan membela tanah air. Ini adalah tentang kebanggaan mengumandangkan lagu kebangsaan di tengah lapangan hijau.

Tetapi keputusan Park ji Sung, gelandang Korea Selatan, memang unik dan menarik. Park sudah tiga tahun pensiun dari timnas. Pelatih Hong Myung-Bo meminta mantan gelandang Manchester United ini untuk turun gunung mengangkat panji negeri ginseng. Hanya saja, Park menolak peluang ini karena ia ingin memberi kesempatan kepada pemain lain. ”Sama sekali tak ada peluang bagiku kembali ke tim nasional. Bisa kukatakan peluangnya nol persen. Aku senang pelatih timnas memanggilku setelah pensiun tiga tahun,” ujar Park kepada media. ”Tak bisa dibayangkan aku mencuri tempat seorang pemain yang menampilkan permainan terbaik di babak kualifikasi. Aku ingin timnas fokus dan aku tak ingin ambil andil di dalamnya,” imbuh pemain yang kini membela PSV Eindhoven itu.

Park tidak bermain di ajang bergengsi sepakbola 4 tahunan itu bukan karena tersisih tak terpilih, melainkan untuk memberi kesempatan pihak lain yang jauh lebih berpotensi. Ia tahu diri bahwa usia adalah faktor yang tak bisa direkayasa untuk tetap berada di jalur produktivitas. Ada batasan-batasan tertentu yang tak bisa dilewatinya.

Kiranya ini menjadi pelajaran yang bisa ditarik oleh para pasangan capres-cawapres yang sedang bersiap turun gelanggang di Pilpres 2014. Jika nanti pada akhirnya tak terpilih, bersikaplah legowo karena itu berarti keberuntungan dan kepercayaan belum diberikan, meskipun sudah masuk dalam kancah perjuangan. Mengambil jalur oposisi akan menjadi lebih elegan daripada setelah kalah ngrusuhi pemerintahan terpilih. Yang secara usia sudah uzur dan melewati ambang batas produktivitas lebih baik memilih tahu diri dan memberi kesempatan kepada tenaga-tenaga muda yang jauh lebih potensial. Siapa bilang bangsa ini tak bisa maju tanpa generasi tua?

 

Editor: ymindrasmoro

Email: inspirasi@satuharapan.com


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home