Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Sabar Subekti 19:24 WIB | Sabtu, 05 Juni 2021

Tikus Megawa Pensiun dari Tugas Mengendus Ranjau Darat

Foto tak bertanggal ini disediakan oleh People's Dispensary for Sick Animals (PDSA) menunjukkan tikus pendeteksi ranjau darat Kamboja, Magawa, mengenakan Medali Emas PDSA, hewan yang setara dengan George Cross, di Siem, Kamboja. Setelah lima tahun mengendus ranjau darat dan persenjataan yang tidak meledak di Kamboja, Magawa pensiun. Tikus berkantung raksasa Afrika telah menjadi hewan pengerat paling sukses yang dilatih dan diawasi oleh organisasi nirlaba Belgia, APOPO, untuk menemukan ranjau darat dan memperingatkan penanganan oleh manusia, sehingga bahan peledak dapat dipindahkan dengan aman. (Foto: dok PDSA via AP)

PHOM PENH, SATUHARAPAN.COM-Setelah lima tahun mengendus ranjau darat dan persenjataan yang tidak meledak di Kamboja, Magawa memasuki masa pensiun.

Megawa adalah seekor tikus berkantung raksasa dari Afrika telah menjadi hewan pengerat paling sukses yang dilatih dan diawasi oleh organisasi nirlaba Belgia, APOPO, untuk menemukan ranjau darat. Hasil kerjanya memperingatkan penangan oleh manusia, sehingga bahan peledak dapat dipindahkan dengan aman.

Magawa telah membersihkan lebih dari 141.000 meter persegi (1,5 juta kaki persegi) tanah, setara dengan sekitar 20 lapangan sepak bola. Dia mengendus 71 ranjau darat dan 38 item persenjataan yang belum meledak, menurut APOPO.

Dan untuk pertama kalinya, ia memenangkan penghargaan sipil tertinggi amal dari Inggris untuk keberanian hewan tahun lalu, sebuah kehormatan yang sejauh ini khusus diperuntukkan bagi anjing.

“Meskipun masih dalam kondisi kesehatan yang baik, dia telah mencapai usia pensiun dan jelas mulai melambat,” kata APOPO. "Ini adalah waktunya."

Banyak hewan pengerat dapat dilatih untuk mendeteksi aroma dan bisa bekerja pada tugas yang berulang untuk mendapatkan hadiah makanan. APOPO memutuskan bahwa tikus berkantung raksasa Afrika itu paling cocok untuk pembersihan ranjau darat. Itu karena ukurannya memungkinkan mereka berjalan melintasi ladang ranjau tanpa memicu bahan peledak, dan melakukannya jauh lebih cepat daripada manusia. Mereka juga hidup hingga delapan tahun.

Magawa adalah bagian dari kelompok tikus yang dibiakkan untuk tujuan ini. Ia lahir di Tanzania pada tahun 2014, dan pada tahun 2016, pindah ke kota barat laut Kamboja, Siem Reap, rumah dari kuil Angkor yang terkenal, untuk memulai karirnya sebagai pelacak bom.

APOPO juga bekerja dengan program di Angola, Zimbabwe dan Mozambik untuk membersihkan jutaan ranjau yang ditinggalkan olehl perang dan konflik.

Lebih dari 60 juta orang di 59 negara terus terancam oleh ranjau darat dan persenjataan yang tidak meledak. Pada 2018, ranjau darat dan sisa-sisa perang lainnya menewaskan atau melukai 6.897 orang, kata kelompok itu. (AP)

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home