Loading...
OLAHRAGA
Penulis: Prasasta Widiadi 08:33 WIB | Rabu, 30 September 2015

Tunjangan Hari Tua Atlet Sudah Ada Sejak Era SBY

Tunjangan Hari Tua Atlet Sudah Ada Sejak Era SBY
Ilustrasi: Menpora Imam Nahrawi (kemeja batik hitam) dan Adhyaksa Dault (kedua dari kanan). (Foto: kemenpora.go.id).
Tunjangan Hari Tua Atlet Sudah Ada Sejak Era SBY
Ketua NPC DKI Jakarta, Welly Ferdinandus. (Foto: Prasasta WIdiadi).

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Pemberian tunjangan untuk hari tua bagi atlet berprestasi sesungguhnya tidak dimulai sejak Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora) Imam Nahrawi mencanangkan hal tersebut pada Hari Olah Raga Nasional (Haornas) pada 9 September 2015 lalu. Akan tetapi kebijakan tersebut sudah dimulai sejak Menpora dijabat Adhyaksa Dault.

“Sebenarnya ini kan digagas oleh Adhyaksa Dault, karena itu (kebijakan tunjangan hari tua, red) dulu untuk mantan (mantan atlet, red),” kata Welly Ferdinandus, Ketua National Paralympic Committee (NPC) Provinsi DKI Jakarta kepada satuharapan.com, hari Selasa (29/9) di Kantor NPC Provinsi DKI Jakarta, Gelanggang Olah Raga Rawamangun, Jakarta.

Welly yang telah lama berkecimpung di dunia olah raga bagi difabel mengingat-ingat bahwa sejak Menpora masih dijabat Adhyaksa Dault,  kebijakan tersebut dibuat karena keprihatinan pemerintah banyak atlet Indonesia yang tidak hidup sejahtera.

“Karena dulu banyak atlet umum dan penyandang disabilitas yang pernah aktif membela Indonesia yang tidak diperhatikan pemerintah malah berjualan di sekitar Senayan,” Welly menambahkan.

Welly menambahkan bahwa tunjangan hari tua tersebut bisa diarahkan oleh si atlet penerima menjadi modal usaha untuk menyambung hidup, atau bisa mengembangkan modal tersebut untuk kesejahteraan cabang olah raga yang dia tekuni.

“Nah itu yang ingin diatasi NPC dengan lepas dari KONI, sehingga kita sekarang dapat kesetaraan,” kata Welly.

Welly menyebut bahwa tunjangan dari Kemenpora tersebut tidak hanya tunjangan hari tua, tapi juga tunjangan perumahan. Welly mengaku saat ini dia sudah sukses melobi Kemenpora sehingga ada 20 atlet NPC asal DKI Jakarta yang berhasil mendapat tunjangan rumah, tapi dia tidak memerinci nama-nama atlet difabel yang mendapat tunjangan tersebut.

“Karena hampir 10 tahun di NPC, jadi sudah banyak atlet yang potensial, terlebih lagi karena ada  peraturan di Kemenpora bahkan atlet tingkat nasional pun kalau dia berkali-kali menang emas tingkat Asean dan tingkat dunia,” dia menjelaskan.

Kesulitan yang dihadapi banyak atlet saat ini yakni banyak yang mengeluh belum mendapat kesejahteraan dari pemerintah (Kemenpora), yakni dalam birokrasi.

“Sekarang ini masalahnya memang di birokrasi, karena kalau mau mengisi daftar isian pemberian tunjangan hari tua atau perumahan itu kan mengisi banyak formulir, dan sekarang ini daftar isian itu banyak numpuk di Kantor Kemenpora,” Welly menambahkan.

Welly menambahkan bahwa untuk mendapat tunjangan hari tua tersebut, Kemenpora terlebih dahulu harus melakukan survei atau assesment sehingga mungkin membutuhkan waktu lama.

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home