Loading...
SAINS
Penulis: Sotyati 11:13 WIB | Kamis, 24 Oktober 2013

Upaya Eropa Mengatasi Sampah Pangan

Pangan di toko swalayan. (Foto: ist)

LONDON, SATUHARAPAN.COM – Rantai  toko swalayan Tesco di Inggris siap mengambil langkah mengurangi sampah pangan. Di Jerman, sejumlah perusahaan tengah mencari cara untuk mengatasi peningkatan sampah makanan.

Sebuah studi menemukan jumlah makanan sisa di Inggris setara 830 Euro per keluarga per tahun, yang terbuang sia-sia. Masalah sampah pangan di Inggris mendorong raksasa ritel Tesco bertekad mengurangi hampir 60.000 ton sisa makanan dari pemasok dan konsumen setiap tahun.

Tesco berencana mengakhiri penawaran pembelian berganda, yang mendorong konsumen  membeli melebihi kebutuhan. Peritel terbesar Inggris itu menjanjikan berkoordinasi dengan petani untuk mengurangi hama, memperbaiki rute transportasi pangan, dan berbagi tips penyimpanan makanan dengan konsumen.

 

Mengatasi Sampah Pangan

Statistik PBB menyebutkan setiap tahun di dunia ini 1,3 miliar ton makanan dibuang. Jumlah itu setara dengan sepertiga total pangan di dunia.

"Langkah pertama adalah meningkatkan kesadaran sampah makanan itu masalah. Ini harus berawal dari konsumen," kata Divine Njie dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) kepada Deutsche Welle.

FAO mengimbau warga dunia untuk menyuguhkan makanan dengan porsi lebih kecil, memanfaatkan makanan sisa, merencanakan kegiatan belanja, dan menyumbangkan makanan lebih kepada masyarakat yang membutuhkan.

Bukan hanya konsumen yang menghambur-hamburkan makanan. Njie menambahkan, aktor lain dalam rantai makanan, seperti pemerintah dan organisasi internasional seperti PBB, harus memikirkan kembali perilaku terhadap pangan.

 

Pendekatan Baru

ReFood, perusahaan Jerman, menemukan pendekatan ramah lingkungan terhadap sampah pangan. Perusahaan itu mengambil sampah makanan dari dapur industri pangan, toko swalayan, restoran, dan katering.

Jerman menerapkan aturan pelaku industri pangan bertanggung jawab atas pembuangan sisa makanan. "Makanan sisa tidak bisa begitu saja dibuang ke tempat pembuangan sampah karena sampah makanan yang meluruh mengeluarkan metana, sebuah gas rumah kaca," kata Nicolas Boy dari ReFood.

ReFood menjemput sampah pangan, membersihkan, dan mendaur ulang sampah minyak goreng, seraya mengekstrak bahan dasar yang dibutuhkan untuk memproduksi biodiesel, begitu juga energi ramah lingkungan dalam bentuk listrik dan panas dari pabrik biogas.

Prosesnya rumit dan membutuhkan perencanaan logistik.  "Kotoran harus difilter, sisa makanan harus dipanaskan pada suhu 70 derajat untuk membunuh kuman, dan baru setelah itu biomassa siap untuk masuk pabrik biogas," Boy menambahkan.

Namun, imbalannya setimpal. Tidak hanya sampah pangan terdaur ulang dan dapat dimanfaatkan lagi, tetapi sepanjang proses daur ulang, listrik dan panas bagi 26.000 rumah tangga tercipta. Pupuk organik untuk pertanian pun ikut tercipta dalam proses.

Meskipun pendekatan itu berguna dan berkelanjutan, hanya dapat diterapkan pada sampah pangan yang dihasilkan produsen komersial. ReFood tidak mengambil sampah makanan dari rumah tangga. Padahal, rumah tangga di Jerman memproduksi mayoritas sampah pangan, karena mereka tidak terikat hukum untuk membuang sisa makanan. (deutsche welle)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home