Loading...
RELIGI
Penulis: Prasasta Widiadi 13:53 WIB | Selasa, 23 Agustus 2016

WCC Mengajak Dialog Damai di Etiopia

Sekelompok massa melakukan unjuk rasa di Addis Ababa, Etiopia. (Foto: bbc.com)

ADDIS ABABA, SATUHARAPAN.COM –  Para pemimpin gereja di Etiopia dan anggota Dewan Gereja Dunia (World Council of Churches/WCC) bergabung dalam panggilan untuk menggelar dialog damai, menyusul adanya laporan baru tentang demonstrasi berbau kekerasan yang meluas di ibu kota Etiopia, Addis Ababa, dan beberapa kota lain di negara tersebut, 

“Kami berduka ada yang tewas selama protes tersebut, dan menyesal atas adanya penangkapan dan kekerasan terhadap pengunjuk rasa yang terjadi selama demonstrasi di berbagai wilayah Etiopia,” kata Direktur Komisi Urusan Internasional WCC, Peter Prove, seperti diberitakan situs resmi Dewan Gereja Dunia, hari Minggu (21/8).

“Kami menyerukan kepada aparat penegak hukum untuk tidak pamer kekuatan secara berlebihan kepada warga sipil tak bersenjata,” kata Prove.

Prove menyarankan aparat penegak hukum mengajak demonstran untuk menggelar dialog secara terbuka yang konstruktif. Dia  mendesak keluarga Kristiani di Etiopia  berdoa bagi kondisi semua orang di negara tersebut. “Kami mendoakan semua pihak mau bergandengan tangan untuk masa depan yang lebih baik berdasarkan keadilan sosial dan martabat manusia,” kata Prove. 

Laporan menunjukkan lebih dari 100 demonstran meninggal dunia di dua daerah berbeda di Etiopia – Oromia dan Amhara –  selama dua pekan terakhir.

Pemimpin gereja setempat mengatakan situasi masih cukup tegang karena demonstran terus berbenturan dengan aparat keamanan. Perwakilan Gereja Ortodoks Etiopia, Abune Dioskoros, telah berbicara secara terbuka tentang krisis. Dioskoros mendesak semua pihak untuk menyelesaikan perbedaan mereka dengan dialog dan menahan dari menggunakan kekuatan yang berlebihan terhadap demonstran damai.

Para uskup Katolik Etiopia mengeluarkan pernyataan yang menyerukan dialog damai. “Kami berharap generasi muda menciptakan situasi yang maju dan damai di Etiopia, bukan negara yang penuh kerusuhan,” demikian pernyataan resmi tersebut.

Menurut Africa News, hari Jumat (19/8), Pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan peringatan perjalanan (travel warning) bagi warganya untuk bepergian ke Etiopia menyusul bentrokan lanjutan antara demonstran dan pasukan keamanan di negara itu.

Dalam pernyataan resmi itu, kondisi layanan telekomunikasi dan internet di Etiopia mengalami gangguan, sehingga warga AS yang berada di Etiopia sulit dihubungi.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan peringatan perjalanan akan berlangsung hingga 18 Februari 2017. Aksi protes akan berjalan terus menerus dan tidak hanya akan terjadi di ibu kota, Addis Ababa namun diperkirakan berlangsung di kota lainnya.

Sejak November 2015 di Etiopia terjadi gelombang besar-besaran protes anti-pemerintah, terutama di wilayah tempat suku Oromia. Pemerintah Etiopia dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia dan diskriminasi terhadap kelompok etnis terbesar di negara itu. (oikoumene.org/africanews.com)

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home