Loading...
ANALISIS
Penulis: M. Arief Hakim 22:59 WIB | Senin, 18 April 2016

Ahok dan Gus Dur

Aku mah santai aja. Jabatan itu amanah. Lo enggak usah rebut. Tuhan yang kasih, Tuhan pula yang ambil. Yang penting lo kerja bener aja. (Ahok)

SATUHARAPAN.COM - Beberapa waktu lalu, 24 Januari 2016, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memeroleh “Gus Dur Award”. Kita tahu, Gus Dur (Abdurrahman Wahid) adalah mantan presiden RI keempat. Banyak predikat melekat pada sosok Gus Dur, mulai dari agamawan (kiai), budayawan, kolomnis, guru bangsa, dan sebagainya. Ahok mungkin tak menduga, ternyata di awal tahun 2016, ia memeroleh penghargaan yang mengatasnamakan sosok yang dikaguminya, Gus Dur.

Gus Dur telah meninggal 30 Desember 2009. Saat Gus Dur masih hidup, ada fragmen hidup yang terjadi antara Ahok dan Gus Dur. Saat banyak orang masih “alergi” terhadap sosok Tionghoa seperti Ahok, Gus Dur justru memberi semangat kepada Ahok untuk tetap maju di Pilkada. Menurut Gus Dur, orang seperti Ahok mampu menjadi bupati, gubernur, bahkan presiden. Dan, memang sudah terbukti Ahok telah mampu menjadi bupati dan gubernur. Akankah di masa depan Ahok akan menjadi presiden?

Di masa mendatang presiden Indonesia memang harus sosok yang tegas dan berani. Ini sudah melekat pada sosok Ahok. Mengapa harus benar-benar tegas dan berani? Karena yang dilawan adalah mafia dan korupsi. Dua hal inilah yang menggerogoti dan mengambrukkan sendi-sendi bangsa dan negara. Gus Dur yang mengaku sendiri punya “darah” Tionghoa tampaknya mampu mencermati sosok Ahok yang potensial. Gus Dur pun tak segan memotivasi dan mendukung Ahok.

 

Pemimpin Petarung

Ahok merupakan sosok pemimpin yang langka. Berani, tegas, jujur, dan anti korupsi adalah watak yang melekat pada sosok Ahok. Maka, di tahun 2013, Ahok memeroleh penghargaan Bung Hatta Anti Cooruption Award (BHACA). Penghargaan ini diberikan kepada pejabat publik yang bersih dan anti korupsi serta tidak menyalahgunakan jabatan dan kekuasaan. Selain Ahok, beberapa pemimpin daerah yang pernah menerima penghargaan ini adalah Joko Widodo (saat masih menjabat Walikota Solo, kini presiden RI), Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), dan Yoyok Riyo Sudibyo (Bupati Batang).

Penghargaan BHACA tentu terasa prestisius karena mengacu pada sosok Bung Hatta salah satu founding fathers dan pemimpin bangsa yang jujur, bersih, sederhana, dan berintegritas. Bahkan, mungkin hanya Bung Hatta satu-satunya pemimpin bangsa yang minta dimakamkan di pemakaman umum, bukan di taman makam pahlawan. Padahal, kita semua tahu, tak diragukan lagi Bung Hatta adalah sosok pemimpin dan pejuang yang sangat layak menyandang predikat pahlawan bangsa.

Mendapatkan penghargaan yang mengatasnamakan dua guru bangsa seperti Bung Hatta dan Gus Dur tentu merupakan kredit poin tersendiri bagi Ahok. Jika dicermati, sebenarnya ada beberapa spirit hidup Gu Dur yang juga ada pada diri Ahok. Keluarga Gus Dur dalam hal ini istri dan anak-anaknya menganggap bahwa Ahok punya beberapa sisi kehidupan yang sejalan dengan pemikiran dan keteladanan Gus Dur. Misalnya, sama-sama pejuang anti korupsi yang selalu mengupayakan pelayanan publik yang baik. Selain itu, sebagaimana Gus Dur, Ahok juga punya sifat tegas, pemberani, dan ksatria. Untuk memperjuangkan kebaikan, kebenaran, dan keadilan Ahok tidak gentar kepada siapa pun. Bahkan, untuk memperjuangkan prinsip yang diyakininya, Ahok siap mati. Hal ini sama dengan Gus Dur. Keduanya sama-sama yakin akan memeroleh anugerah dan pertolongan Tuhan jika ikhlas memperjuangkan kebaikan, kebenaran, dan keadilan.

Ahok bersama tokoh lain menerima "Gus Dur Award"           Foto: Dok. Satuharapan

Namun, jalan yang ditempuh Gus Dur dan Ahok tak selalu bisa dipahami atau diterima semua kalangan. Kadang malah disalahmengerti. Justru karena keduanya termasuk sosok kontroversial, maka sudah barang tentu menyulut pro dan kontra. Ada kawan, namun juga ada lawan. Dalam memperjuangkan jalan dan prinsipnya, tak bisa dihindari, Ahok dan Gus Dur kadang (atau bahkan sering) “bertabrakan” dengan beberapa orang. Dalam hidup ini, mustahil seseorang bisa diterima dan menyenangkan semua orang.

Gus Dur dan Ahok pun masuk dalam pusaran “konflik” yang nyaris tanpa henti, berpindah dari satu orang atau komunitas ke satu orang atau komunitas lainnya. Begitu seterusnya. Namun, energi keduanya bagai tak pernah habis. Energi Gus Dur dan Ahok sedemikian besar dan syarafnya “baja”. Keduanya justru merasa semakin “hidup” jika berada dalam pusaran “konflik” untuk memperjuangkan jalan, pilihan, dan prinsip. Keduanya semakin bersemangat dalam konflik jika memperjuangkan kebaikan, kebenaran, dan keadilan. Saat keduanya hanya takut dan pasrah pada Tuhan (tawakkal), maka sudah tak ada manusia yang ditakuti lagi. Maka, tanpa ampun, Ahok dan Gus Dur terus maju dengan jalan dan prinsipnya.

Karena pemberani dan tegas dalam memperjuangkan kebaikan, kebenaran, dan keadilan, maka Buya Syafii Maarif, seorang tokoh dan guru bangsa lainnya, menyebut Ahok sebagai “pemimpin petarung”. Bahkan, saat sendirian melawan anggota DPRD DKI dalam kasus dana “siluman”, Ahok tidak gentar. Ahok berani “pasang badan” mengawal APBD DKI Jakarta untuk kesejahteraan rakyat dan Jakarta yang lebih baik.

 

Spirit Gus Dur dan Ahok

Selain teguh dalam menapaki jalan dan memperjuangkan prinsip, Ahok dan Gus Dur juga “bertemu” dan bersesuaian dalam soal keragaman dan kebhinekaan. Dalam hal ini, sangat mungkin Ahok terinspirasi dan termotivasi sosok Gus Dur. Gus Dur adalah sosok yang sangat mengapresiasi dan menghargai keragaman dan kebhinekaan sehingga mendapat predikat “Bapak Pluralisme”. “Kalau kamu beribadah dengan benar, jadi humanis, tak mungkin saling benci,” ujar Ahok suatu ketika mengutip Gus Dur.

Maka, saat menjabat Gubernur DKI Jakarta, Ahok mengurusi dan mengayomi semua golongan. Sebagai seorang Kristiani, Ahok tetap mengapresiasi dan peduli pada penganut agama lainnya. Bahkan, Ahok sangat peduli kepada kehidupan umat Islam. Merenovasi dan membesarkan islamic centre, membangun masjid, mengumrohkan para merbot masjid, menghimbau para remaja dan pemuda muslim untuk menghidupkan masjid, dan masih banyak lagi adalah contoh-contoh nyata di mana Ahok begitu peduli kepada umat Islam. Hal ini dilakukan bukan sebagai suatu “siasat” atau “pencitraan”, melainkan memang berangkat dari kejujuran dan ketulusan. Apalagi, Ahok sebenarnya punya ikatan “emosional” dengan Islam. Saat SD dan SMP, Ahok menuntut ilmu di sekolah Islam sehingga cukup mengerti ajaran Islam.

Ahok juga cukup sering mengutip Hadis dan Al-Qur’an. Bahkan, Ahok mengaku sebagai pengagum Nabi Muhammad dan terinspirasi dan termotivasi empat sifat Nabi yang utama, yakni Siddiq (jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan kebenaran), dan Fathanah (cerdas). Visi kepemimpinan Ahok sebagai Gubernur DKI memang sangat mencerminkan empat sifat utama Nabi Muhammad ini.

Sama seperti Gus Dur, Ahok sedemikian tanpa beban dan mampu memungut kebaikan dan kebenaran dari mana pun—termasuk dari luar khazanah agama yang dipeluknya—sejauh bisa diterapkan dan bermanfaat dalam kehidupan. Ahok dan Gus Dur beranjak dari simbol dan formalitas menuju esensi dan substansi. Seseorang secara formal bisa jadi tetap memeluk teguh agamanya, namun lebih dari ini yang jauh lebih penting adalah sejauhmana dia bisa berbuat baik dalam kehidupan dan bermanfaat bagi banyak orang, masyarakat, bangsa, dan negara. Inilah spirit Ahok dan Gus Dur yang penting dan utama.

Maka, maskipun Ahok berasal dari golongan minoritas dari aspek etnis maupun agama, dia tetap didukung banyak orang, terutama masyarakat DKI Jakarta yang sudah cerdas dan kritis. Mayoritas masyarakat DKI tak memandang apa agama dan etnisnya, melainkan terutama watak kepemimpinan dan kinerjanya. Maka, menjelang pilgub DKI kira-kira Maret 2017, elektabilitas Ahok sedemikian tinggi dan susah dikejar oleh bakal cagub lainnya. Bahkan, kalaupun Tri Rismaharini (Walikota Surabaya) dan Ridwan Kamil (Walikota Bandung) ikut bertarung sebagai cagub DKI, bisa diprediksi kecil kemungkinan mampu mengalahkan Ahok.

Tri Rismaharini dan Ridwan Kamil paling banter hanya mampu mengimbangi, namun tetap tak mampu mengalahkan Ahok. Jika bersaing melawan Tri Rismaharini dan Ridwan Kamil tampaknya Ahok akan tetap memenangi pertarungan sebagai gubernur DKI, meskipun bisa jadi selisih suaranya cukup tipis.

 

Penulis adalah penghayat religiositas dan spiritualitas, ketua Yayasan Hati Nurani Bangsa (YHNB).

Editor : Trisno S Sutanto


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home