Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 22:59 WIB | Jumat, 03 Agustus 2018

Belajar Sejarah

Berkait sejarah, orang cenderung fokus pada nama dan peristiwa, yang tidak jarang bermuara kepada pendewaan atau penistaan diri.
Foto: Istimewa

SATUHARAPAN.COM – ”Pasanglah telinga untuk pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku.... Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang diceritakan kepada kami oleh nenek moyang kami, kami tidak hendak sembunyikan kepada anak-anak mereka...” (Mzm. 78:1-4).

Nyanyian pengajaran Asaf menegaskan pentingnya sejarah. Begitu pentingnya sehingga mereka tidak ingin menyembunyikannya terhadap keturunan mereka. Betapa pun pahitnya perjalanan hidup Israel, mereka harus menceritakannya kepada anak-anak mereka, dan mendorong anak-anak mereka mengisahkannya kepada generasi selanjutnya.

Mengapa? Agaknya Asaf sungguh memahami sifat lupa manusia. Sejarah menjadi penting agar generasi berikut tidak mengulangi kesalahan generasi sebelumnya.

Manusia bukan keledai, yang kabarnya tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kali. Tetapi, ini yang sering terjadi manusia—yang bukan keledai itu—ternyata kerap jatuh dalam kesalahan yang sama.

Alasan mendasar lainnya: agar keturunan mereka menaruh kepercayaan kepada Allah, tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintah-Nya (Mzm. 78:6-8). Belajar sejarah berarti merenungkan dan mensyukuri karya Allah pada masa lampau. Yang akhirnya membuat orang makin mengasihi Allah.

Menarik disimak bahwa dalam mempelajari sejarah mereka tidak berfokus pada diri sendiri. Tidak. Tidak ada pendewaan diri, tetapi mereka menyadari bahwa semuanya merupakan berkat dari Allah semata.

Persoalan sering di sini. Berkait sejarah, orang cenderung fokus pada nama dan peristiwa, yang tidak jarang bermuara kepada pendewaan atau penistaan diri. Dan kenyataan inilah yang membuat manusia malah lupa untuk memahami makna di balik sejarah itu sendiri. Tak heran, akhirnya jatuh ke dalam lubang kesalahan yang sama.

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor: Yoel M. Indrasmoro

Rubrik ini didukung oleh PT Petrafon (www.petrafon.com)

 

Back to Home