Loading...
INDONESIA
Penulis: Bayu Probo 21:03 WIB | Rabu, 30 April 2014

Buruh akan Berunjuk Rasa Delapan Jam Sehari

Anggota Komisi IX DPR FPDIP Rieke Diah Pitaloka (tengah) bersama sejumlah perwakilan elemen buruh memberi keterangan pers jelang Hari Buruh Internasional (May Day) 2014, di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (30/4). Kegiatan yang bertemakan "Menuju kebijakan perburuhan untuk kesejahteraan buruh" tersebut juga memberi dukungan untuk Joko Widodo (Jokowi) sebagai Calon Presiden (Capres). (Foto: Antara)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Ribuan buruh dari berbagai daerah akan berunjuk rasa selama delapan jam sehari untuk dua hari beruntun pada 1-2 Mei 2014 di sejumlah lokasi strategis di Jakarta.

“Demonstrasi akan bergilir dilakukan. Sebagai gambaran, organisasi seperti Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) akan melakukan aksi pada Kamis (1/5). Sementara Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) pada Jumat (2/5),” kata Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea di Jakarta, Rabu (30/4).

Dia mengatakan aksi pada Kamis mengambil lokasi di sepanjang Jalan Thamrin, Bundaran Hotel Indonesia, Istana Negara dan puncaknya akan dilangsungkan orasi di Stadion Gelora Bung Karno.

Pada Jumat, lokasi hampir sama tetapi puncak aksi dari perwakilan buruh diadakan di depan Istana Negara.

Waktu demonstrasi, kata Andi, dimulai pukul 9.00 WIB hingga 17.00 WIB. Dengan begitu, dia menyarankan warga Jakarta untuk menghindari kawasan demonstrasi pada waktu dan lokasi tersebut apabila tidak ingin terjebak kemacetan parah. Alasannya, ribuan buruh berikut kendaraan yang mengangkut mereka akan tumpah ruah di sepanjang kawasan pusat unjuk rasa.

Demonstrasi selain diikuti para buruh, juga akan diikuti para guru honorer yang hingga kini belum juga diangkat menjadi pegawai negeri sipil. “Para guru honorer akan ikut bergabung dengan para buruh. Melihat keadaan mereka yang sekarang, mereka juga sama-sama buruh,” kata Andi.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang diperoleh dari KSPI, terdapat sejumlah tuntutan dari para buruh saat berunjuk rasa pada Hari Buruh Internasional (May Day) besok.

Di antaranya adalah :

1. Naikkan upah minimum 2015 sebesar 30 persen dan Revisi KHL menjadi 84 item.

2. Tolak penangguhan upah minimum

3. Jalankan jaminan pensiun wajib bagi buruh pada Juli 2015.

4. Jalankan jaminan kesehatan seluruh rakyat dengan cara cabut Permenkes 69/2013 tentang tarif, ganti INA CBG`s dengan “Free For Service” serta audit BPJS.

5. Hapus tenaga alih daya (outsourcing) dan pengangkatan sebagai pekerja tetap seluruh pekerja outsourcing terutama di BUMN.

6. Sahkan RUU PRT dan Revisi UU Perlindungan TKI No 39/2004.

7. Cabut UU Ormas ganti dengan RUU Perkumpulan.

8. Angkat pegawai dan guru honorer menjadi PNS, serta subsidi Rp 1 juta per orang per bulan dari APBN untuk guru honorer.

9. Sediakan transportasi publik dan perumahan murah untuk buruh.

10. Jalankan wajib belajar 12 tahun dan beasiswa untuk anak buruh hingga perguruan tinggi.

Legislator Imbau Buruh Tak Turun Jalan

Anggota DPRD Provinsi Bali Ida Bagus Putu Parta mengimbau para buruh di Pulau Dewata itu tidak turun ke jalan saat memperingati Hari Buruh Internasional, Kamis (1/5).

“Saya berharap para buruh atau karyawan dalam memperingati Hari Buruh Internasional besok (1/5) tidak sampai melakukan aksi demonstrasi. Lebih baik melakukan aksi sosial untuk kebersamaan dan keakraban antarburuh,” katanya di Denpasar, Rabu.

Ia mengemukakan bahwa peringatan Hari Buruh Internasional perlu dijadikan evaluasi dan introspeksi bagi kaum buruh selama bekerja, termasuk apa saja yang selama ini belum dipenuhi hak-hak dari buruh tersebut.

“Namun perjuangan itu tidak bisa dilakukan melalui aksi demonstrasi. Tetapi yang lebih penting adalah melakukan dialog dan masukan kepada serikat pekerja di tempat mereka bekerja,” ucapnya.

Karena dengan langkah itu, lanjut dia, diharapkan ada jalan keluar bagi buruh atau pekerja yang selama ini hak-haknya belum mendapat tanggapan dari perusahaan bersangkutan.

“Di Indonesia untuk tenaga kerja sudah ada aturannya, mulai dari pengupahan harus mengacu pada upah minimum regional (UMR) atau UMK (upah minimum kabupaten/kota), dan UMP (upah minimum provinsi),” katanya.

Jika sampai semua buruh turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi, maka menurut dia, hal tersebut dapat mengganggu perusahaan tempat mereka bekerja.

“Respons pemerintah sudah cukup baik terkait perlindungan tenaga kerja atau buruh. Terbukti di Indonesia setiap tanggal 1 Mei ditetapkan sebagai hari libur nasional,” katanya.

Apindo: Hindari Aksi Anarkis pada Hari Buruh

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng Frans Kongi mengimbau semua pihak agar menghindari aksi anarkis dari para buruh pada Hari Buruh 1 Mei 2014 karena akan merugikan masyarakat luas.

“Jangan sampai aksi mereka nantinya menimbulkan keresahan bagi masyarakat luas apalagi kalau sampai dilakukan blokade jalan,” jelasnya di Semarang, Rabu.

Frans berharap tanggal 1 Mei yang sudah dijadikan sebagai hari libur nasional oleh Pemerintah bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para buruh untuk beristirahat.

Diakuinya meskipun sebagian besar perusahaan meliburkan para pekerja namun ada beberapa yang terpaksa harus tetap beroperasi untuk memenuhi batas waktu pemesanan.

Sementara bagi yang libur untuk memperingati hari buruh tersebut, para pengusaha, Pemerintah dan buruh akan menyelenggarakan Porseni yang bertempat di kantor Gubernur Jateng.

Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bentuk apresiasi terhadap para buruh yang sudah berperan dalam menumbuhkan perekonomian di Jawa Tengah.

“Apalagi sekarang ini buruh dan pengusaha adalah partner jadi masing-masing pihak jangan sampai ada yang merugikan,” jelasnya.

Mengenai aksi demonstrasi yang kerap kali terjadi di tanggal 1 Mei, Frans mengaku sudah mendengar akan adanya aksi yang dilakukan pada hari tersebut.

“Kami sebagai pengusaha tentu menghargai apa yang menjadi pilihan mereka, hanya pesan kami adalah masyarakat sekarang makin cerdas jika aksi buruh cenderung anarkis tentu penilaian masyarakat akan negatif terhadap mereka,” tuturnya. (Ant)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home