Loading...
ANALISIS
Penulis: Sabar Subekti 11:08 WIB | Selasa, 08 November 2016

Gaduh Menunggang Kuda Kayu

Kuda kayu (rocking horse). (Foto: Ist)

SATUHARAPAN.COM - Mungkinkah bahwa masyarakat kita telah ‘’kecanduan’’ kegaduhan? Pertanyaan ini muncul mengingat ada banyak isu dan kasus yang berkembang menjadi pembicaraan yang luas, bahkan panas, namun setelah itu kembali senyap dan dingin. Keriuhan yang terjadi tidak menghasilkan perubahan-perubahan yang signifikan untuk perbaikan, kecuali kelelahan dan luka hati.

Kegaduhan itu setidaknya tercermin dari pemberitaan yang masif di media massa, dan terutama melibatkan warga masyarakat yang aktif berkomentar melalui akun media sosial. Di luar itu, isu tersebut menjadi bahan pembicaraan di pertemuan warga dan obrolan di warung kopi.

Sebelum kegaduhan tentang kasus dugaan ‘’penistaan agama’’ yang ditujukan pada Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, ada sejumlah kegaduhan yang bisa dijadikan contoh. Isu-isu yang pernah menjadi kegaduhan adalah tentang fenomena LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transjender), kekerasan seksual yang diangkat setelah terjadi pemerkosaan beramai-ramai oleh 14 remaja terhadap seorang remaja perempuan di Bengkulu, kemudian masalah penipuan dan kriminal terkait terbongkarnya skandal yang diduga melibatkan Gatot Brajamusti dan padepokannya, dan juga kasus dugaan penggandaan uang terkait Taat Pribadi dan padepokannya.

Isu pungutan liar juga segera menjadi pembicaraan di mana-mana secara masif setelah inspeksi mendadak di Ditjen Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan, dan di sana ditemukan dugaan praktik pungli. Padahal praktik ini sudah lama terjadi dan begitu masif di hampir semua level pemerintahan, namun sebelumnya tidak dibicarakan secara serius.

Setelah muncul kegaduhan tentang dugaan ‘’penistaan agama,’’ isu Pungli yang belum lama muncul sepertinya tengah tenggelam. Dan sekarang entah apa yang sedang dikerjakan oleh Satgas Saber (Sapu Bersih) Pungli, dan para pelaku Pungli?

Pernyataan Menghakimi

Yang cukup menonjol ketika ada isu yang berkembang menjadi kegaduhan adalah muncul begitu banyak komentar yang disebarkan di media massa dan terutama media sosial, dan dengan berbagai bentuknya. Sayangnya, terasa kuat sekali bahwa komentar itu banyak yang terlepas dari pijakannya mengenai fakta dan data yang relevan. Bahkan banyak yang merupakan tanggapan atas tanggapan, dan berkembang terus hingga makin jauh dari fakta awal.

Kecenderungan lain adalah komentar-komentar yang muncul mengarah pada pernyataan yang mendiskreditkan pihak lain, bahkan menjatuhkan penghakiman pada pihak tertentu atas tindakan lain yang tak terkait. Isu itu dijadikan juga sebagai memontum melontarkan tuduhan pada pihak lain yang tak disukai.

Tak pelak bahwa komentar seperti itu menimbulkan pro dan kontra, bahkan mempertajam rivalitas yang terbentuk sebelumnya. Itu sebabnya, situasi tersebut dikhawatirkan mengganggu persatuan, dan melebarkan keretakan yang sudah ada di masyarakat.

Tentang ini misalnya, kasus dugaan ‘’penistaan agama’’ berkembang sampai komentar berkaitan dengan rivalistas dalam politik. Isu itu digunakan untuk saling menyerang dengan kata-kata dan banyak komentar  yang nadanya menghakimi. Bahkan perbedaan identitas dan paham yang tidak selalu relevan, dipaksa untuk dikait-kaitkan, dan dijadikan momentum mendiskreditkan pihak lain.

Banyak komentar atas satu isu yang naik menjadi kegaduhan telah bergeser jauh dari fakta dan masalah utama. Akibatnya, ketika kegaduhan itu pada saatnya menuju surut, tidak ada konsep yang jelas yang tawaran atau dijadikan solusi yang mungkin bisa diimplementasikan untuk perbaikan.

Tentang ‘’penistaan agama’’ misalnya, ada banyak pertanyaan di kalangan warga bisa, dan mereka tidak ditolong untuk mendapat jawaban yang memadai, padahal kasus seperti itu kerap terjadi. Misalnya pertanyaan tentang apa yang dimaksud penistaan agama? Apakah agama (juga Tuhan) bisa dinistakan dan bagaimana bisa demikian? Bagaimana hukum positif mengatur hal ini?

Kegaduhan Jadi Panggung

Kegaduhan itu, karena daya magnetiknya dalam menarik perhatian publik telah menjadi panggung bagi pihak-pihak tertentu untuk tampil membangun popularitas. Bahkan di tengah suasana yang ramai itu, bisa mendadak muncul orang-orang yang diberi label sebagai pengamat dan pakar.

Kegaduhan adalah panggung ‘’murah’’ untuk tampil dan mendapat perhatian publik. Bahkan orang bisa didorong  pada ‘’gairah’’ untuk melontarkan hal-hal yang kontroversial. Sebab, yang demikian itu diyakini akan menarik perhatian publik.

Media massa dan media sosial yang berbasis pada internet tampak sekali menjadi antusias untuk pernyataan-pernyataan yang kontroversial, bahkan pernyataan yang membakar kebencian. Sajian yang seperti itu diyakini sebagai resep penting mendongkrak statistik kunjungan (hits) dan jumlah follower.

Kecenderungan itu pantas dikhawatirkan, karena bisa menjadi pertanda bahwa publik bukan pengunjung (pembaca) serius yang fokus pada substansi, tetapi hanya tertarik pada keriuhannya. Ini juga pertanda bahwa popularitas seseorang tidak harus sejalan dengan aspek kedalaman isi dan relevansi substansi pada apa yang dibicarakan.

Kegaduhan yang ganti berganti tampaknya tumbuh menjadi ‘’kebutuhan’’ karena banyak pihak yang memang membutuhkan panggung ‘’murah’’ itu. Setelah satu kegaduhan mulai surut, tampaknya banyak pihak yang menanti kegaduhan baru.

Situasi seperti itu membuka peluang lahirnya ‘’jagoan’’ yang mampu mengolah isu dan peristiwa dan mengangkatnya menjadi trending topic. Namun kehebatan ini tidak selalu didasarkan pada pertimbangan manfaatnya bagi kepentingan bersama sebagai masyarakat dan bangsa.

Bisnis dalam Kegaduhan

Kegaduhan sendiri menjadi menarik, karena sebenarnya ada ‘’bisnis’’ di tengah isu yang tumbuh atau ‘’ditumbuhkan’’ menjadi kegaduhan. Keuntungan bisnis itu tidak selalu berarti hal-hal yang tangible. Tetapi keuntungan yang riil juga muncul, misalnya, iklan untuk suatu produk juga mendompleng sajian isu yang menjadi trending topic untuk mendongkrak penjualan. Hal ini juga menjadi peluang bisnis bagi media.

Kegaduhan oleh isu kontroversial membuka potensi bagi penggerak masa untuk mendapatkan ‘’kontrak’’ pengerahan massa yang bersedia bersuara untuk kepentingan pihak tertentu. Dan itu bisa berarti ada ‘’tarif’’-nya, meskipun tidak semua aksi massa harus diartikan demikian.

Rocking Horse

Kegaduhan yang silih berganti, namun miskin solusi untuk mengatasi dan mencegah munculnya masalah serupa, dikhawatirkan sebagai pertanda bahwa ada kecenderungan sekadar menyukai kegaduhan di masyarakat kita, bahkan mungkin mengarah pada ‘’ketagihan.’’

Ketika satu isu tumbuh menjadi kegaduhan dan menjadi perhatian publik, maka hal itu cenderung menarik konsentrasi perhatian dan energi publik. Namun setelahnya, isu itu akan berlalu bagaikan ditiup angin. Masalahnya, bukan saja tidak peta jalan penyelesaian yang dihasilkan, tetapi juga ada banyak luka hati yang ditimbulkan dalam kegaduhan yang penuh dengan caci maki dan penghakiman.

Situasi ini sungguh mengkhawatirkan, karena akan membuat banyak warga masyarakat hidup dalam luka hati tanpa upaya penyembuhan. Dan kegaduhan yang terjadi selama ini membawa kita seperti menunggang kuda kayu (rocking horse). Dan pepatah bagi penunggang rocking horse adalah: ‘’You are moving, but go nowhere.’’  Kita menguras energi, tetapi tidak ada kemajuan yang bisa kita raih.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home