Google+
Loading...
HAM
Penulis: Dewasasri M Wardani 08:53 WIB | Jumat, 03 November 2017

HRW: Toleransi Agama di Indonesia Hanya Fantasi

Ilustrasi. pembakaran dan pengusiran sekte Gafatar di Kalimantan. (Foto: dw.com)

NEW YORK, SATUHARAPAN.COM – Organisasi Hak Azasi Manusia, Human Rights Watch (HRW), mengritik pidato Wakil Presiden Jusuf Kalla di acara ASEAN Youth Interfaith Camp, Jombang, Jawa Timur pada Minggu (29/1) lalu . Saat itu Kalla memuji toleransi beragama Indonesia “lebih baik dibandingkan di negara lain" dan bisa menjadi model "buat negara lain untuk mempelajari toleransi beragama."

Menurut HRW pidato Kalla merefleksikan sikap acuh pemerintah terhadap pengaruh buruk UU Perlindungan Agama yang mengancam minoritas agama di Indonesia.

Organisasi yang bermarkas di New York, Amerika Serikat, itu juga mengingatkan, sikap pemerintah ketika menolak rekomendasi PBB untuk menghapus pasal penistaan agama yang lebih banyak mengincar minoritas.

"Minoritas agama di Indonesia punya alasan untuk merasa khawatir," tulis HRW dalam situsnya yang dilansir situs dw.com. "Itu karena pasal penistaan agama dan Undang-undang lainnya sering digunakan untuk mempresekusi dan memenjarakan anggota minoritas agama." HRW mengambil contoh pengusiran 7.000 anggota komunitas Gafatar dari pemukimannya di Kalimantan tahun lalu.

Kalla, menurut HRW, harus mengakui bahwa mengumandangkan  Indonesia sebagai model toleransi beragama tidak hanya kebohongan, tetapi juga hinaan terhadap kaum minoritas agama yang terancam oleh presekusi.

Wapres Kalla dalam sambutannya,  lebih banyak mengingatkan peserta ASEAN Youth Interfaith Camp untuk saling menjaga toleransi dan pemahaman lintas agama. Terpenting, meski berbeda agama, bahasa, etnis atau yang lain, kita harus saling menghargai. Generasi muda harus memahami bagaimana membina toleransi dan harmoni agar tercipta kedamaian,” katanya.

Berkumpul di Bawah Satu Atap

Sementara itu, tidak lama lagi ibukota Jerman, Berlin, bakal menyambut sebuah rumah ibadah unik, yang menyatukan tiga agama Ibrahim, yakni Islam, Kristen dan Yahudi. Rencananya The House of One, akan memiliki ruang terpisah untuk ketiga agama, dan beberapa ruang umum untuk para pemeluk buat saling bersosialiasi.

Ide membangun The House of One, diusung oleh tiga pemuka agama, yakni Pendeta Gregor Hohberg, Rabi Tovia Ben-Chorin dan seorang imam Muslim, Kadir Sanci. "Ketiga agama ini mengambil rute yang berbeda dalam perjalanannya, tapi tujuannya tetap sama," kata Kadir Sanci. Menurutnya The House of One merupakan kesempatan baik buat ketiga agama untuk menjalin hubungan dalam kerangka kemanusiaan

Di atas lahan yang digunakan The House of One dulunya berdiri gereja St. Petri, yang dihancurkan pada era Perang Dingin. Arsitek Kuehn Malvezzi, memutuskan menggunakan pondasi gereja St. Petri untuk membangun The House of One. Sang arsitek mengakomodasi permintaan masing-masing rumah ibadah, seperti Masjid dan Sinagoga yang harus mengadap ke arah timur.

Awalnya, tidak ada komunitas muslim yang ingin terlibat dalam proyek tersebut. Namun, FID, sebuah kelompok minoritas Islam moderat yang anggotanya kebanyakan berdarah Turki mengamini. Kelompok tersebut harus menghadapi cercaan dari saudara seimannya, lantaran dianggap menkhianati aqidah Islam. Namun menurut Sanci, perdamaian adalah rahmat semua agama.

Tidak jarang proyek di Berlin ini mengundang kritik tajam. Salah seorang tokoh agama Katholik Jerman, Martin Mosebach, misalnya, menilai desain arsitektur The House of One, tidak mencerminkan sebuah bangunan suci. Bentuk di beberapa bagiannya malah tampak serupa seperti makan Firaun. Tapi ketiga pemuka agama yang terlibat memilih acuh dan melanjutkan dialog terbuka, untuk menggalang dukungan publik

Penggagas proyek The House of One, menyadari betul pentingnya peran publik dalam pembangunan. Sebab itu mereka sepenuhnya mengandalkan pendanaan massa alias crowdfunding. Setiap orang bisa menyumbang uang buat membeli satu batu bata. Sebanyak 4,350.000 batu bata dibutuhkan, buat menyempurnakan bangunan. Sejauh ini dana yang terkumpul sebesar 1 juta Euro  (Rp15,8 miliar) dari 43 juta euro (Rp 688 miliar) yang dibutuhkan. Manajamen proyek berharap rumah baru ini bakal menjadi pusat pertukaran budaya antara ketiga pemeluk agama, untuk saling menengenal dan saling menghargai. "Adalah hal baik buat mengenal lebih dekat jiran kita," kata Imam Kadir Sanci.

Editor : Eben E. Siadari

Back to Home