Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 09:55 WIB | Selasa, 21 Januari 2020

Keamanan Lebanon Tuduh Ada Penyusup di Tengah Demonstran

Bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan Lebanon di depan kantor perlemen di Beirut, Hari Minggu (19/1). (Foto: dari AFP)

BEIRUT, SATUHARAPAN.COM-Pasukan keamanan Lebanon menuduh demonstrasi di negara itu telah disusupi oleh kelompok-kelompok terorganisir untuk memprovokasi kerusuhan. Hal itu dikatakan pada pertemuan dengan Presiden Lebanon, Michel Aoun, di Istana Presiden pada hari Senin (20/1)

Komandan pasukan keamanan mengatakan informasi itu membuat mereka "mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi demonstran damai dan mencegah serangan terhadap properti publik dan pribadi, sambil menghentikan perusuh dan berkoordinasi dengan pengadilan untuk menegakkan hukum."

Keputusan itu diambil setelah tiga malam konfrontasi dengan kekerasan antara pemrotes dan Pasukan Keamanan Internal (ISF), di mana gas air mata, granat asap dan peluru karet digunakan, melukai warga sipil dan jurnalis.

Komandan menyerahkan laporan keamanan tentang perkembangan sejak awal protes pada November 2019, di mana mereka berbicara tentang "langkah-langkah yang diambil untuk menghadapi elemen yang menyusup ke barisan demonstran untuk menyebabkan kerusuhan."

Presiden Aoun, menurut laporan Arab News, meminta diidentifikasi mereka yang dapat dianggap berbahaya karena memicu kerusuhan, dan mereka yang memprotes secara damai.

Komentar Saad Hariri

Pejabat sementara Perdana Menteri, Saad Hariri, tidak menghadiri pertemuan itu, sebaliknya dia menulis di Twitter: "Lebanon perlu segera membentuk pemerintahan baru untuk menghentikan siklus kehancuran dan memburuknya kondisi ekonomi dan keamanan.”

Dia mengatakan, "Pemerintah kami mengundurkan diri untuk transisi ke pemerintah baru yang berurusan dengan perubahan populer tetapi penghalang terus berlanjut selama 90 hari, dan negara ini bergerak ke arah yang tidak diketahui."

"Kelanjutan pemerintah sementara bukanlah solusi, sehingga mari kita berhenti membuang waktu dan minta pemerintah memikul tanggung jawab.”

Setelah tiga bulan demonstrasi damai, para pengunjuk rasa beralih ke apa yang mereka sebut "kekerasan revolusioner" sehubungan dengan ketidakpedulian kelas politik terhadap tuntutan mereka. Selama tiga hari berturut-turut mereka protes, pada hari Senin mereka mencoba untuk menembus hambatan di sekitar parlemen, tetapi ditolak oleh polisi anti huru-hara.

Ayah dari seorang pria muda yang terluka bernama Eid Khodr mengatakan putranya menderita retak tulang tengkorak karena peluru karet.

“Kami melindungi diri kami, kami mengenakan helm di kepala kami, masker wajah dan mantel plastik untuk air. Apa lagi yang bisa kita lakukan? ... mereka menargetkan kami dan menembakkan peluru karet ke kaki saya," kata wartawan Ihab Al-Akdi kepada Arab News.

Sanaa Al-Sheikh, pemain sepak bola berusia 29 tahun yang terlihat menentang pasukan keamanan dan memanjat rintangan dan kawat berduri di sekeliling parlemen pada hari Sabtu, masih dirawat di rumah sakit karena luka di punggungnya oleh pemukulan parah dari polisi.

Al-Sheikh, dari Tripoli, adalah wasit terakreditasi pada Asosiasi Sepak Bola Lebanon. Dia telah menjadi pelatih olahraga selama hampir 15 tahun, memegang gelar sarjana hukum, dan memiliki akademi olahraga di Tripoli yang disebut "Sanaa Star".

“Kelas politik harus mendengarkan rakyat. Seseorang berusaha mengalihkan perhatian kita ke arah yang salah. Personel ISF adalah anak-anak kita, sama seperti para demonstran. Warga melakukan pelanggaran dan tidak ada yang bisa mengendalikan mereka, tetapi, kita tidak bisa membandingkan pelanggaran mereka dengan pasukan keamanan,” kata presiden Asosiasi Pengacara Beirut, Melhem Khalaf.

Panggilan telah muncul di platform media sosial, meminta orang-orang Lebanon yang tinggal di luar negeri untuk menghubungi atau berkomentar di Forum Ekonomi Dunia di Davos, di mana pejabat sementara Kementerian Luar Negeri, Gebran Bassil, dijadwalkan untuk hadir.

Editor : Sabar Subekti

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home