Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 00:43 WIB | Sabtu, 05 Januari 2019

Membaca Batik, Seratan Citra Semen “Tumbuh Mengakar”

Membaca Batik, Seratan Citra Semen “Tumbuh Mengakar”
Ilustrasi buku “Sriti Wani” karya Aliem Bakhtiar pada pameran Membaca Batik, Seratan Citra Semen “Tumbuh Mengakar” di Studio Kalahan berlangsung pada 29 Desember 2018-10 Januari 2019. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Membaca Batik, Seratan Citra Semen “Tumbuh Mengakar”
Pace Tangan Empat (atas), Pace Rambut Gondrong (bawah) dan tiga karakter wayang fantasi Papua (kiri) karya Lejar Daniartana Hukubun.
Membaca Batik, Seratan Citra Semen “Tumbuh Mengakar”
Seorang pengunjung sedang mengamati karya batik “Rumah Semut” kolaborasi Nia Fliam dan Agus Ismoyo pada pembukaan pameran, Sabtu (29/12) malam.
Membaca Batik, Seratan Citra Semen “Tumbuh Mengakar”
Tiga karya seniman foto M. Yusuf A Rozaq yang dicetak di atas kain Asahi.
Membaca Batik, Seratan Citra Semen “Tumbuh Mengakar”
Perempuan Bukan Wanita karya Nurul Iftitah Abrar.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Rumah Budaya Babaran Segara Gunung (BSG) menggelar pameran seni rupa bertajuk Membaca Batik, Seratan Citra Semen “Tumbuh Mengakar” di Studio Kalahan. Pameran dibuka oleh pengajar jurusan Seni Rupa ISI Yogyakarta Mikke Susanto, Sabtu (29/12) malam.

Begitu banyaknya ragam-motif batik nusantara, bukanlah hal yang mudah untuk mengenali dan membedakan antara satu motif dengan motif lainnya. Untuk motif batik khas Yogyakarta yaitu ceplok, nitik, parang-lereng, dan semen secara visual sekilas bisa dipelajari dari pola-pola yang berbeda dari masing-masing motif. Namun untuk pembacaan memerlukan kecermatan dan ketelitian terkait dengan proses pembuatan, filosofi yang mendasari sebuah motif, hingga penggunaannya.

Pameran Membaca Batik, Seratan Citra Semen “Tumbuh Mengakar” merupakan presentasi dari pembacaan batik citra semen yang dilakukan di BSG dalam satu tahun terakhir melibatkan seniman dari berbagai disiplin seni dalam proses diskusi, belajar bersama, workshop, hingga presentasi multi platform seni di beberapa tempat.

Ditemui satuharapan.com saat pembukaan, pendiri BSD Agus Ismoyo menjelaskan bahwa batik sebagai warisan budaya tak benda yang dijadikan basis eksplorasi karya seniman terlibat dibaca sebagai medium tulisan kuno untuk mendapatkan proses kreatif dan tersambung dalam era modern-kontemporer saat ini.

“Melalui batik, seniman diajak melewati olah rasa-olah tubuh, mengalami langsung suatu dialog dengan alam (di pantai, gunung, sungai, hutan) sehingga menemukan kesatuan rasa dan pikir,” jelas Agus Ismoyo.

Delapan seniman menginterpretasi batik citra semen dalam karya dua-tiga matra. Pembacaan terhadap batik citra semen menghasilkan karya dalam interpretasi yang beragam. Tiga karya M. Yusuf A Rozaq yang dicetak di atas kain Asahi mencoba menangkap makna Tribawana dalam konteks mutakhir: seni fotografi.

Miko Malioboro membaca semen dengan membuat lukisan dan instalasi berakar pada huruf/aksara Jawa dan wayang sebagai salah satu awal periodisasi babad tanah Jawa serta bayang-bayang kehidupan manusia, sementara Peka Legi dalam medium kain, manik-manik, serta sulaman membuat obyek-obyek semen/sel sperma sebagai awal kehidupan bermula dari pembuahan saat bertemu dengan sel telur.

Dalam karya instalasi “Perempuan bukan Wanita”, Nurul Iftitah Abrar seolah sedang mendudukkan kembali posisi perempuan sebagai tempat meng-empu. Dalam pandangan masyarakat Indonesia, kata perempuan mengalami degradasi semantis, atau peyorasi, penurunan nilai makna dimana arti sekarang lebih rendah dari arti dahulu. Secara etimologis, kata perempuan berasal dari kata empu yang berarti 'tuan', 'orang yang mahir/berkuasa', atau pun 'kepala', 'hulu', atau 'yang paling besar'; maka, kita kenal kata empu jari 'ibu jari', empu gending 'orang yang mahir mencipta tembang'.

Kata perempuan juga berhubungan dengan kata ampu 'sokong', 'memerintah', 'penyangga', 'penjaga keselamatan', bahkan 'wali'; kata mengampu artinya 'menahan agar tak jatuh' atau 'menyokong agar tidak runtuh'; kata mengampukan berarti 'memerintah (negeri)'; ada lagi pengampu 'penahan, penyangga, penyelamat', sehingga ada kata pengampu susu 'kutang' alias 'BH'. Kata perempuan juga berakar erat dari kata empuan; kata ini mengalami pemendekan menjadi puan yang artinya 'sapaan hormat pada perempuan', sebagai pasangan kata tuan 'sapaan hormat pada lelaki'.

Berkolaborasi dengan istrinya Nia Fliam, Agus Ismoyo yang telah berkecimpung dengan dunia batik sejak awal tahun 1980-an mempresentasikan karya instalasi dengan medium-material kain batik berjudul Moon over the Water, Rumah Semut, dan sebuah karya batik yang dibuat dengan jahitan tangan berjudul Pohon Hayati. Keseluruhan karya batik Nia Fliam-Agus Ismoyo menggunakan pewarna alami.

Seniman-perupa yang kerap membuat karya ilustrasi buku Aliem Bakhtiar dalam karya Sriti Wani membuat ilustrasi untuk buku cerita anak-anak yang sedang disusunnya dengan judul yang sama. Sekitar tujuh puluhan karya ilustrasi akan melengkapi buku dongeng/cerita untuk anak-anak. Aliem mencoba mengangkat kembali dongeng untuk anak-anak dalam karya bukunya yang akhir-akhir ini seolah jauh dari kehidupan anak-anak.

Mendongeng adalah bagian dari menumbuhkan budaya literasi sejak usia dini dengan membangun dialog yang imajinatif bersama anak-anak dalam dunia dan usianya. Dongeng, dolanan, lagu untuk anak-anak sesuai usianya dalam dua dasa warsa seolah terpinggirkan dalam dunia pendidikan Indonesia dikalahkan oleh industri hiburan yang kerap menjebak anak-anak dan hanya mengejar rating semata. Perkembangan teknologi informasi satu dasa warsa terakhir dengan munculnya gawai pintar semakin menjauhkan anak dari dunianya: bermain bersama.

Menarik mengamati eksperimen seniman batik Lejar Daniartana Hukubun yang mengeksplorasi wayang fantasi khas Papua dan Jawa. Dalam tema-tema sederhana Lejar mereka ulang realitas masyarakat Papua dalam wayangnya dengan karakter-karakter baru sebagai pendekatannya. Figur-figur yang diciptakan Lejar bisa dikatakan jauh dari pbyek/karakter seni rupa yang dihasilkan masyarakat Papua. Meski begitu, karya Lejar memberikan tawaran baru. Pace Tangan Empat, Pace sedang Lari, Pace Gondrong, Topeng Papua, Buaya Papua dengan karakter yang bisa dikatakan baru bisa menjadi “pemancing” untuk mengeksplorasi dan mengembangkan batik Papua.

Pada tiga buah sunggingan wayang dalam medium kulit sapi, Lejar membuat karakter wayang kulit Papua berjudul Wayang Papua Keriting, Wayang Simson Papua, Wayang Pace Gondrong.

Batik motif/citra semen dimaknai sebagai penggambaran dari “kehidupan yang semi” (kehidupan yang berkembang atau makmur). Terdapat beberapa jenis ornamen pokok pada motif-motif semen. Pertama, ornamen yang berhubungan dengan daratan, seperti tumbuh-tumbuhan atau binatang berkaki empat. Kedua, ornamen yang berhubungan dengan udara, seperti garuda, burung dan mega mendung. Ketiga, ornamen yang berhubungan dengan laut atau air, seperti ular, ikan dan katak.

Pameran seni rupa Membaca Batik, Seratan Citra Semen “Tumbuh Mengakar” akan berlangsung hingga 10 Januari 2019 di Studio Kalahan  Jalan Patukan 50 RT 1 RW 20, Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta.

 

Back to Home