Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 05:08 WIB | Rabu, 24 Januari 2018

Oleh-oleh dari Hotland

Oleh-oleh dari Hotland
Hotland Tobing di depan sebuah drawing karya seri berjudul Sampah Masyarakat dalam pameran drawing Oleh-oleh dari Desa di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No. 2 Yogyakarta, 23-31 Januari 2018 (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Oleh-oleh dari Hotland
Pig War, drawing Hotland Tobing cat air di atas kertas 144 cm x 224 cm.
Oleh-oleh dari Hotland
Lucifer Boat, drawing Hotland Tobing ecoline di atas kertas 107 cm x 234 cm.
Oleh-oleh dari Hotland
Make It Better Place, drawing Hotland Tobing ecoline di atas kertas 107 cm x 156 cm.
Oleh-oleh dari Hotland
Menari di Cincin Api| drawing Hotland Tobing tinta bak-cat poster di atas kertas 114 cm x 150 cm.
Oleh-oleh dari Hotland
Potongan kecil berukuran 4 cm x 6 cm dari karya Menara Hidup drawing Hotland Tobing kolase di atas kertas 108 cm x 154 cm.
Oleh-oleh dari Hotland
Potongan kecil dari karya Tribute to Aceh drawing Hotland Tobing kolase di atas kertas 90 cm x 110 cm.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Karya drawing sebanyak dua puluh tujuh buah dalam berbagai dimensi dan medium kertas dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta. Pameran yang mengambil tajuk "Oleh-oleh dari Desa" menampilkan karya-karya perupa Hotland Tobing yang dibuat dalam rentang 2004-2016.

Seniman-pegrafis Syahrizal Pahlevi dalam sambutannya menyoroti karya drawing Hotland dalam dua kelompok yakni nuansa kritik sosial serta pembebasan rasa yang dieksplorasi dari kemarahan, kesepian, suka cita, maupun perasaan lainnya yang menyertainya dalam proses berkarya. Kritik sosial yang menjadi kegelisahan Hotland bisa dilihat pada karya-karyanya berjudul "Negeri Elok Kekuasaan", "Negeri Celeng", "Pengungsi n Mie Instan".

Pada karya berjudul "Tribute to Aceh" yang dibuat pada tahun 2005, Hotland menuliskan sebait puisi penyair lokal "kota yang angkuh/kapal tak singgah lagi/dermaga jadi bangkai/besi-besi jadi berkarat/cinta demi cinta/tenggelam di laut ini." Sketsa-sketsa wajah dengan tempelan kertas bertuliskan nama, alamat, hubungan, dan tak ada satupun data di sana yang tercatat, Hotland sedang "menggambarkan" empati, duka, kesedihan yang mendalam pada sebuah karya drawing sederhana yang tidak sederhana.

“Drawing memang selalu menarik. Ada banyak kemungkinan eksplorasi berikut perdebatan yang menyertainya." kata Pahlvei pada satuharapan.com di sela-sela pembukaan pameran, Selasa (23/1) malam.

Di mata koleganya, Hotland Tobing adalah seniman-perupa yang konsisten menjadikan rajutan, arsiran, maupun tarikan garis sebagai senjata dalam karya drawing-nya. Seluruh karya yang dipamerkan dikerjakan Hotland adalah teknik yang tua dalam karya seni rupa dan sudah ditinggalkan sebagian besar seniman-perupa. Memilih kertas sebagai medium karya drawing tentu banyak tantangan, namun diakui Hotland bahwa hal tersebut bukanlah sebentuk penaklukan atas medium namun lebih pada merespon medium yang ada di sekitarnya dengan tetap bersikukuh pada drawing untuk eksplorasinya.

Pemilihan medium kertas untuk karya drawing bukan tanpa resiko. Dimensi kertas tentu menjadi kendala tersendiri disamping pilihan instrumen untuk membuat drawing yang relatif terbatas pada pilihan pensil, pena, tinta, cat air yang bisa bekerja dengan baik di atas permukaan kertas. Bisa dibayangkan, untuk membuat karya berjudul "War Pig" berukuran 144 cm x 224 cm, Hotland menjahit beberapa lembar kertas bekas pembungkus semen sebelum menorehkan karyanya. Begitupun pada karya "Lucifer Boat" berdimensi 107 cm x 234 cm, Hotland membuat karya drawing-nya dalam tiga lembar putih berukuran AO secara terpisah, dan menggabungkan kembali ketiganya setelah seluruh karya selesai dibuat. Tanpa kehilangan detail, tanpa kehilangan alur karya, ini bukan perkara mudah untuk sebuah karya drawing berukuran besar. Dan itu dijalani Hotland bukan sebagai eksplorasi penaklukan medium, namun lebih pada kecintaan dan resiko atas pilihan kecintaan tersebut.

Eksplorasi Hotland pada karya "Menari di Cincin Api" ukuran 114 cm x 150 cm yang dibuat dengan merangkai tiga lembar kardus bekas dengan memanfaatkan tinta cina dan cat poster, bekas tekukan dan lubang pada kardus bekas menjadi ornamen tersendiri tanpa kehilangan detail goresan, rajutan, tarikan garis di atas cat poster.

Menarik juga bahwa detail setiap karya drawing Hotland seolah menjadi rangkaian sequel dalam alur besar karya tersebut. Karya drawing "Menara Hidup" yang dibuat dengan menggabungkan teknik kolase pada kertas salah satunya. Dalam figur dua manusia yang sedang berdialog di atas sepeda roda satu, Hotland menambahkan kolase drawing ukuran kecil kuda dan macan tutul dalam jumlah banyak yang sedang berkejaran menyelubungi kedua figur tersebut.

Guru besar seni rupa ISI Yogyakarta M. Dwi Marianto saat pameran "Drawing Pemersatu" di Studio Kalahan dua tahun lalu memberikan sedikit paparan penjelasan bahwa drawing adalah ide dan tampilan dari sebuah sketsa yang dielaborasi menjadi karya visual dua-dimensional; berpotensi sebagai fine art dan sekaligus applied art; dibuat dengan berbagai macam instrument, misalnya: pena, pensil. Pensil warna, technical pen, charcoal, kuas, pena dan apa saja. Elemen visual drawing lebih berdimensi kegarisan, atau dengan arsiran pendek-pendek, bahkan dengan titik-titik. Aspek gelap-terang pada suatu bentuk yang dibangun sengaja dibuat. Alat berupa penghapus dipakai sebagai alat penting untuk drawing yang dibuat dengan pensil, atau dengan arang (charcoal). Drawing sering dipakai di bidang-bidang komersial, misalnya sebagai: ilustrasi; komponen penting animasi; media arsitektural; drawing teknik. Drawing dapat berfungsi sebagai suatu media komunikasi untuk menyeberangkan suatu ide, merepresentasi rekayasa kreatif, atau sebagai media ekspresi pribadi menyatakan mimpi/feeling/opini.

Ada baiknya saat melihat karya drawing Hotland, persiapkan kaca pembesar (loop) untuk melihat detail bagian per bagian karyanya. Selain detail, Anda akan dibawa pada pengembaraan yang bisa jadi hal tersebut merupakan refleksi, imajinasi, ataupun hal-hal berkaitan dengan yang pernah Anda alami.

Pameran drawing "Oleh-oleh dari Desa" yang dibuka oleh perupa Nasirun Selasa (23/1) malam akan berlangsung sampai tanggal 31 Januari 2018 di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No. 2 Yogyakarta.

 

Back to Home